Persatuan: Jalan Strategis Menuju Kemajuan Umat dan Bangsa

Persatuan: Jalan Strategis Menuju Kemajuan Umat dan Bangsa

Smallest Font
Largest Font

Persatuan merupakan salah satu nilai fundamental dalam kehidupan beragama dan berbangsa. Dalam Islam, persatuan adalah ajaran utama yang menjadi perekat umat. Sementara dalam konteks kebangsaan, persatuan menjadi fondasi berdirinya Republik Indonesia yang majemuk dalam suku, agama, ras, dan golongan. Muhammadiyah sebagai gerakan Islam modernis, sejak awal telah menempatkan persatuan sebagai nilai strategis dalam membangun umat dan bangsa.

Salah satu tokoh besar Muhammadiyah, KH. Mas Mansur, merumuskan 12 Langkah Muhammadiyah pada masa kepemimpinannya antara tahun 1937-1942, masa menjelang kemerdekaan Indonesia. Dalam rumusan itu, persatuan menjadi salah satu langkah penting yang harus dijaga dan diperjuangkan. Langkah ini menjadi sangat relevan, baik untuk konteks internal Muhammadiyah maupun dalam menjawab tantangan kebangsaan yang terus berkembang hingga saat ini.

KH. Mas Mansur memimpin Muhammadiyah pada masa yang sangat menantang, ketika bangsa Indonesia masih berada di bawah penjajahan Belanda dan kemudian Jepang. Saat itu, kondisi umat Islam masih tercerai-berai dalam berbagai kelompok, dan belum memiliki kekuatan kolektif untuk membangun peradaban yang mandiri. Di tengah situasi inilah, KH. Mas Mansur menghadirkan gagasan strategis 12 Langkah Muhammadiyah, sebuah panduan perjuangan yang bukan hanya bersifat ideologis, tetapi juga aplikatif.

Dalam konteks itu, semangat persatuan bukan sekadar idealisme, tetapi menjadi kebutuhan yang sangat mendesak. KH. Mas Mansur memahami bahwa dakwah Islam tidak akan kuat bila umat Islam sendiri tidak bersatu. Begitu pula cita-cita kemerdekaan bangsa tidak akan tercapai bila masyarakat Muslim yang menjadi mayoritas tidak mampu membentuk kekuatan kolektif yang solid. Maka, melalui langkah ini, beliau menanamkan nilai bahwa bersatu adalah prasyarat bagi kemajuan, baik secara spiritual maupun sosial-politik.

Persatuan dalam Ajaran Islam

Persatuan adalah prinsip yang sangat ditekankan dalam Al-Qur’an dan Sunnah. Dalam QS. Ali ‘Imran ayat 103, Allah berfirman:

Wa'tashimū bi ḥablillāhi jamī'an wa lā tafarraqū...

Artinya: "Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai.”

Ayat ini menunjukkan bahwa perpecahan adalah hal yang dilarang, karena akan melemahkan umat dan membuka celah bagi kehancuran. Persatuan adalah jalan keselamatan dunia dan akhirat.

Rasulullah SAW pun bersabda:
Al-mu’min lil-mu’min kal-bunyān, yasyuddu ba‘ḍuhu ba‘ḍha.

Artinya: "Seorang mukmin bagi mukmin yang lain seperti bangunan yang saling menguatkan." (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini menggambarkan bahwa kekuatan akan tercipta ketika umat Islam bersatu. Maka, menjaga persatuan adalah ibadah sosial yang tidak kalah penting dari ibadah ritual. Hal ini dikuatkan pula oleh semangat ukhuwah Islamiyah yang diajarkan Rasulullah sejak hijrah ke Madinah, ketika menyatukan kaum Muhajirin dan Anshar.

Teladan Persatuan dalam Gerakan Muhammadiyah

Muhammadiyah telah menunjukkan contoh nyata bagaimana prinsip persatuan diwujudkan dalam kehidupan organisasi dan umat. Sejak berdirinya pada tahun 1912 hingga kini, Muhammadiyah dikenal sebagai organisasi yang rapi, solid, dan relatif terbebas dari konflik internal yang tajam. Hal ini karena Muhammadiyah menempatkan prinsip musyawarah, taat aturan, dan keikhlasan berjamaah sebagai pedoman utama dalam berorganisasi.

Setiap Muktamar Muhammadiyah berlangsung dalam suasana damai, demokratis, dan produktif. Tidak ada perebutan kekuasaan yang merusak ukhuwah. Bahkan dalam perbedaan pendapat, kader-kader Muhammadiyah tetap berpegang pada adab dan saling menghormati. Ini menunjukkan bahwa persatuan bukan hanya jargon, tetapi benar-benar dihayati dan dipraktikkan.

Lebih jauh, kekuatan persatuan itu juga tercermin dalam keberlangsungan dan kemajuan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM). Ribuan sekolah, rumah sakit, panti asuhan, dan universitas Muhammadiyah tersebar di seluruh Indonesia. Semua itu tidak akan bisa bertahan dan berkembang tanpa semangat kerja kolektif, gotong royong, dan kebersamaan yang kuat. Inilah buah dari persatuan yang ditanamkan secara ideologis dan dipelihara melalui praktik organisasi yang sehat.

Tantangan dan Relevansi Masa Kini

Meskipun telah banyak menunjukkan keberhasilan, namun tantangan terhadap persatuan umat masih terus mengemuka. Polarisasi sosial akibat perbedaan politik, penyebaran hoaks dan ujaran kebencian di media sosial, hingga fanatisme sektarian menjadi ancaman serius terhadap keutuhan umat dan bangsa.

Di sinilah nilai-nilai yang diwariskan KH. Mas Mansur melalui 12 Langkah Muhammadiyah kembali menemukan momentumnya. Penguatan persatuan bukan hanya penting untuk memperkuat Muhammadiyah secara internal, tetapi juga merupakan kontribusi besar Muhammadiyah bagi stabilitas sosial dan integrasi nasional. Muhammadiyah harus terus tampil sebagai kekuatan pemersatu, bukan hanya dalam retorika, tetapi juga dalam aksi nyata.

Upaya membangun persatuan harus terus dilakukan melalui pendidikan yang mencerahkan, dakwah yang bijak, dan pelayanan sosial yang merata. Selain itu, penting pula untuk menghindari narasi-narasi yang memecah belah, serta terus memperkuat budaya musyawarah dan ukhuwah di semua level, baik pimpinan, warga, maupun simpatisan Muhammadiyah.

Persatuan adalah amanat ajaran Islam, kebutuhan strategis umat, dan fondasi kokohnya bangsa Indonesia. KH. Mas Mansur melalui 12 Langkah Muhammadiyah telah menunjukkan visi yang sangat tajam dalam merespons tantangan umat dan bangsa di masanya, yang ternyata tetap relevan hingga hari ini. Muhammadiyah dengan kekuatan nilai dan struktur organisasinya, memiliki tanggung jawab sekaligus andil besar dalam menjaga dan menumbuhkan semangat persatuan di tengah berbagai perbedaan dan tantangan zaman.

Kini, saat masyarakat dunia tengah memasuki era global yang penuh kompetisi, dan Indonesia menghadapi berbagai tantangan kebangsaan, persatuan bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. Muhammadiyah hadir sebagai salah satu uswah dalam menjaga keutuhan umat dan bangsa. Dengan bersatu, kita akan menjadi kuat. Tanpa persatuan, semua akan rapuh. Maka, penguatan persatuan bukan hanya warisan sejarah, tetapi juga bekal utama menuju masa depan yang lebih cerah.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Penulis: Yayan Suryana (Wakil Ketua PWM DIY)

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    1
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    1
    Angry
  • Sad
    1
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Berita Terkait