PCM Minggir (1) : Mengubah Tantangan Menjadi Perjuangan
Minggir, nama sebuah kecamatan (kini disebut kapanewon) yang terletak di ujung barat Kabupaten Sleman. Menjadi satu di antara 17 kecamatan yang ada di Kabupaten Sleman. Sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Kulon Progo, Kecamatan Tempel di utara, Seyegan di timur dan Moyudan di Selatan. Letaknya yang berada di pinggiran aliran sungai Progo, tidak membuat Minggir terpinggirkan.
Sejak zaman kolonial, Belanda menjadikan Minggir sebagai sentra pertanian, khususnya tebu. Bahkan, pada tahun 1922 Belanda sempat membangun pabrik gula (PG) yang dinamakan Sendangpitu. Merupakan pabrik gula terakhir yang dibangun Belanda di Yogyakarta. Kini sisa bangunan pabrik masih bisa dilihat di Lapangan Padon Sendangrejo Minggir.
Menurut catatan, KabareMinggir.com, selain PG Sendangpitu, di Yogyakarta setidaknya terdapat 18 pabrik gula lain yang dibangun Belanda. Di antaranya PG Cebongan, PG Medari, PG Sewugalur, PG Gesikan, PG Bantul, PG Gondanglipuro, PG Barongan, PG Demakijo, PG Rewulu, PG Padokan, PG Sedayu, PG Klaci, PG Kedaton Pleret, PG Pundong, PG Kalasan, PG Randugunting, PG Beran, dan PG Wonocatur.
Meski demikian sebagian besar kini tinggal sejarah dan tidak lagi tersisa bangunannya. Satu-satunya yang masih beroperasi adalah PG Padokan yang sempat hancur saat agresi militer Belanda II, kemudian dibangun kembali oleh Sri Sultan HB IX pada 1959. PG tertua yang dibangun Belanda ialah PG Gondanglipuro di Ganjuran Bantul pada 1862. Sedangkan yang paling akhir PG Sendangpitu di Minggir Sleman pada 1922.
Pengaruh Mandor dan Petinggi Pabrik Gula
Untuk mengawasi lahan pertanian tebu dan produksi gula, Belana menempatkan sejumlah pejabat untuk tinggal di Minggir. Mereka umumnya tingga di rumah mewah, yang sebagian masih bisa kita saksikan hingga sekarang. Dikenal dengan sebutan Loji atau warga setempat lebih akrab menyebut Ngloji.
Situs jejakkolonial.blogspot.com, menyebutkan dalam catatan sejarah Kecamatan Minggir merupakan daerah perkebunan yang disebut dengan Suikeronderneming Kebonagung yang dimiliki perusahaan Koloniaal Bank yang berpusat di Surabaya (Dingemans,L.F,1925;122). Perkebunan ini menghasilkan tebu yang kemudian diolah menjadi gula di Pabrik Gula Sendangpitu.
Menurut sebuah catatan dari tahun 1925, terdapat 11 orang Eropa yang pernah tinggal di Minggir (Dingemans,L.F,1925;138). Sebagian besar dari mereka bekerja sebagai mandor perkebunan tebu. Pada masa kolonial, bangsa Eropa memiliki status sosial paling tinggi. Maka tempat tinggal mereka pun berbeda dengan rakyat pribumi. Besar kemungkinan bahwa dahulu loji-loji ini merupakan rumah tinggal milik para mandor perkebunan tebu.
Pada abad 15-17, penjajah Eropa melakukan penjajahan dengan mengusung semangat 3G (gold, glory dan gospel). Gold bermakna mencari kekayaan, glory berarti mencari kejayaan dan gospel adalah penyebaran agama Kristen. Meskipun belum diketahuai sejauh mana pengaruh orang-orang Eropa yang ada di Minggir waktu itu, tetapi kedatangan mereka telah mengenalkan satu agama baru: Kristen.
Sedangkan pengaruh paling nyata dari adanya penyebar agama Kristen/Katolik di Kecamatan Minggir baru terasa pada kisaran tahun 1970-an. Pada kurun waktu itu, terjadi perpindahan agama yang cukup signifikan dari Islam ke Katolik. Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi umat Islam.
Muhammadiyah kemudian hadir dengan beragam cara untuk menguatkan akidah umat Islam. Di antaranya dengan swadaya membangun sekolah-sekolah. Hingga kini tercatat ada 8 Sekolah Dasar Muhammadiyah, 2 SMP Muhammadiyah (sempat memiliki 5 SMP), dan satu SMK Muhammadiyah. Setidaknya Muhammadiyah Minggir telah mengubah tantangan menjadi medan perjuangan dalam menegakkan Islam. [e]
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow