Menyatukan Pandangan Penciptaan Manusia: Antara Al-Qur'an dan Sains Modern

Menyatukan Pandangan Penciptaan Manusia: Antara Al-Qur'an dan Sains Modern

Smallest Font
Largest Font

Pertanyaan mengenai asal-usul manusia sering kali memunculkan diskusi menarik antara penjelasan agama dan temuan ilmu pengetahuan modern. Dalam Al-Qur’an, manusia pertama, yaitu Nabi Adam, dijelaskan diciptakan dari tanah (turaab atau thin), sebagaimana disebutkan dalam Surat Ali Imran ayat 59 dan Al-Isra ayat 61. 

Sementara itu, biologi modern menjelaskan bahwa manusia terbentuk dari pertemuan antara sel sperma dan ovum. Sekilas kedua penjelasan ini tampak berbeda, namun jika dipahami secara mendalam, keduanya justru saling melengkapi dan memperkaya pemahaman tentang hakikat penciptaan manusia. Penjelasan ini dapat ditemukan dalam Buku Tanya Jawab Agama jilid 2 halaman 17–18.

Al-Qur’an memberikan gambaran yang menyeluruh tentang asal-usul manusia. Dalam Surat Al-Hajj ayat 5 disebutkan bahwa manusia diciptakan dari tanah, kemudian dari setetes mani (nuthfah).

Hal ini menunjukkan adanya dua fase penciptaan: pertama, penciptaan manusia pertama (Adam) dari tanah secara langsung; kedua, penciptaan manusia berikutnya melalui proses biologis yang dimulai dari sperma dan ovum. Ayat ini dipertegas oleh Surat Al-Insaan ayat 2 yang menyebut manusia berasal dari setetes mani yang bercampur. Dengan demikian, Al-Qur’an telah menjelaskan bahwa proses penciptaan manusia memiliki dua dimensi: dimensi awal (penciptaan pertama dari tanah) dan dimensi keberlanjutan (melalui proses biologis yang alami).

Hadis Nabi yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Ibnu Mas‘ud menegaskan proses kejadian manusia di dalam rahim: selama 40 hari berupa nuthfah, kemudian menjadi segumpal darah, lalu segumpal daging. Proses ini menggambarkan perkembangan biologis manusia sejak pembuahan hingga terbentuk janin yang sempurna. 

Artinya, agama Islam telah memberikan penjelasan yang konsisten dengan ilmu biologi modern, meskipun menggunakan bahasa dan perspektif yang berbeda. Maka, tidak ada kontradiksi antara keduanya, melainkan kesatuan pandangan tentang keajaiban penciptaan manusia yang diatur oleh kehendak Allah.

Ilmu biologi menjelaskan bahwa manusia terbentuk dari pertemuan sperma dan ovum, yang kemudian berkembang menjadi embrio. Namun, jika ditelusuri lebih jauh, teori ini tidak menafikan kebenaran Al-Qur’an yang menyatakan manusia berasal dari tanah. Sebab, semua unsur penyusun tubuh manusia, seperti protein, mineral, dan berbagai zat kimia, berasal dari bahan-bahan bumi.

Dr. Alexis Carrel, seorang ahli biologi peraih Nobel, bahkan menyatakan bahwa unsur-unsur kimia dalam tubuh manusia banyak ditemukan dalam tanah. Dengan demikian, pernyataan Al-Qur’an bahwa manusia berasal dari tanah memiliki dasar ilmiah yang dapat dibuktikan melalui kajian sains modern.

Dari perspektif teologis, penciptaan Adam dari tanah adalah simbol kekuasaan Allah yang tak terbatas, sedangkan penciptaan manusia berikutnya melalui sperma dan ovum menunjukkan sistem sunnatullah yang berlaku dalam kehidupan. Dengan demikian, makna “manusia berasal dari tanah” dapat dipahami secara hakiki, bahwa Adam memang diciptakan dari tanah, sekaligus secara majazi, bahwa manusia modern berasal dari unsur tanah melalui makanan yang dikonsumsi.

Kesimpulannya, tidak ada pertentangan antara Al-Qur’an dan biologi; justru keduanya saling meneguhkan bahwa kehidupan manusia merupakan perpaduan antara kehendak Ilahi dan hukum alam yang diciptakan-Nya.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Penulis: Yayan Suryana (Wakil Ketua PWM DIY)

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    1
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Berita Terkait