Memahami Tasawuf dalam Bingkai Al-Qur’an dan As-Sunnah

Memahami Tasawuf dalam Bingkai Al-Qur’an dan As-Sunnah

Smallest Font
Largest Font

Tasawuf pada hakikatnya merupakan ajaran yang menuntun seseorang untuk mencapai hubungan yang mesra dengan Allah yang Maha Kekal dan Maha Sempurna. Hubungan spiritual tersebut berlandaskan cinta dan kasih sayang kepada Allah.

Dalam khazanah Islam, istilah tasawuf sendiri memang tidak ditemukan dalam Al-Qur’an maupun As-Sunnah. Yang dikenal dalam sumber ajaran Islam adalah konsep ihsan atau akhlaqul karimah, yaitu budi pekerti luhur yang mencerminkan keimanan yang mendalam dan ketundukan total kepada Allah. Penjelasan ini dapat ditemukan dalam Buku Tanya Jawab Agama Jilid 2 halaman 15–16.

Tasawuf yang benar ialah yang tetap berpijak pada Al-Qur’an dan As-Sunnah serta berkaitan erat dengan pembinaan akhlak mulia. Apabila pemahaman dan praktik tasawuf tidak menyimpang dari nilai-nilai dasar Islam dan tetap memadukan ayat-ayat Al-Qur’an dengan hadis secara proporsional, maka tasawuf itu dapat menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah. Namun, apabila pemahaman tersebut lahir dari kecenderungan pribadi tanpa dasar dalil yang kuat, dan bahkan menimbulkan ajaran yang menyimpang dari Islam, maka tasawuf seperti itu tidak dapat dibenarkan.

Dalam hal ini, Al-Qur’an mengingatkan pentingnya berhati-hati terhadap penafsiran yang menyimpang. Allah berfirman dalam Surah Ali Imran ayat 7 bahwa orang-orang yang hatinya condong kepada kesesatan akan mengikuti ayat-ayat yang samar untuk menimbulkan fitnah dan mencari tafsir sesuai hawa nafsu mereka. Hal ini menunjukkan bahwa penafsiran terhadap ayat-ayat Allah tidak boleh dilakukan tanpa ilmu dan landasan yang kokoh, sebab kesalahan dalam memahami ayat dapat mengantarkan kepada kesesatan.

Oleh karena itu, hubungan manusia dengan Allah sebagai wujud dari ajaran tasawuf harus memiliki dasar yang kuat, yakni Al-Qur’an dan Sunnah yang sahih. Nabi Muhammad saw. telah menegaskan, “Aku tinggalkan bagi kalian dua perkara, kalian tidak akan sesat selama berpegang teguh kepada keduanya, yaitu Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya.” (HR. Malik). Pesan ini menegaskan bahwa segala bentuk ajaran, termasuk tasawuf, harus berakar pada dua sumber utama tersebut agar tidak tergelincir dalam kesalahan.

Dengan demikian, tasawuf Islam yang sejati adalah tasawuf yang berorientasi pada pembentukan akhlaqul karimah dan dilandasi oleh Al-Qur’an serta As-Sunnah. Tasawuf seperti inilah yang akan membawa seorang Muslim kepada kebersihan jiwa, keikhlasan ibadah, dan kedekatan hakiki dengan Allah. 

Sebaliknya, tasawuf yang menjurus kepada ajaran seperti manunggaling kawula gusti atau keyakinan bertemunya hamba dengan Tuhan melalui bacaan tertentu adalah bentuk penyimpangan yang jauh dari nilai-nilai tasawuf Islam. Tasawuf yang benar bukanlah pengaburan akidah, tetapi peneguhan iman yang mengantarkan manusia pada cinta dan ketaatan sejati kepada Allah SWT.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Penulis: Yayan Suryana (Wakil Ketua PWM DIY)

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    1
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Berita Terkait