Kiai Dahlan Berdakwah Naik Mobil
Hari ini, teknologi sering diperdebatkan dalam ruang-ruang keagamaan. Sebagian orang melihatnya sebagai cermin modernitas yang bisa menjadi ancaman serius bagi spiritualitas. Tidak sedikit pula yang merasa bahwa kemajuan teknologi itu identik dengan lunturnya tradisi dan kesederhanaan hidup manusia.
Padahal, sejarah Islam di Indonesia justru memperlihatkan sesuatu yang berbeda. Sejak awal abad ke-20, para pembaru Islam sudah mulai bergulat dengan modernitas dan mencoba memanfaatkannya untuk kepentingan dakwah serta pendidikan umat. Mereka tidak sekadar menjadi penonton perubahan zaman. Sebaliknya, mereka berusaha menjadikan teknologi sebagai alat untuk memperluas gerakan sosial dan keagamaan.
Salah satu tokoh pembaru itu adalah Ahmad Dahlan. Selama ini, tidak banyak aktivis dan bahkan pimpinan Muhammadiyah sendiri, yang mengetahui bahwa Ahmad Dahlan pernah menggunakan mobil sebagai alat transportasi modern dalam aktivitas gerakannya. Jejak kecil itu, meskipun jarang diketahui, telah memperlihatkan cara berpikir Ahmad Dahlan yang sangat terbuka terhadap perkembangan zaman dan progresif untuk ukuran zamannya.
Jawa dan Modernitas Baru
Hari ini, keberadaan mobil mungkin terasa biasa. Namun pada awal abad ke-20, otomobil adalah simbol modernitas yang sangat baru, mahal dan bahkan mampu menggetarkan masyarakat. Kehadirannya sering memancing rasa takjub sekaligus kegelisahan sosial. Galih Pranata dan Mahandis Yoanata Thamrin dalam artikel “Otomobil Elit Jawa: Tatkala Mobil Pertama Muncul di Hindia Belanda” menggambarkan bagaimana masyarakat pada saat itu berbondong-bondong keluar rumah hanya untuk melihat mobil yang singgah di kampung mereka.
Otomobil pada masa itu memang hanya dimiliki kalangan elit, Raja-raja Jawa, pejabat kolonial, dokter, dan pemilik perkebunan merupakan kelompok pertama yang menikmati kendaraan modern tersebut. Bahkan Paku Buwono X disebut-sebut sebagai salah satu raja pertama di dunia yang memiliki mobil pribadi. Kehadiran otomobil sejatinya memperlihatkan bagaimana Jawa saat itu sedang bergerak menuju modernitas baru.
Dalam suasana sosial seperti itulah Ahmad Dahlan menjalankan gerakan dakwahnya. Muhammadiyah yang saat itu belum lama berdiri sedang berusaha membangun sekolah, mengembangkan pengajian dan jaringan pembinaan umat di berbagai daerah. Tantangannya tidak ringan. Jarak antarkota masih sulit ditempuh dan transportasi umum juga sangatlah terbatas. Sementara, kebutuhan konsolidasi organisasi semakin besar dari waktu ke waktu.
Dalam situasi demikian, Ahmad Dahlan tidak melihat teknologi sebagai sesuatu yang harus dijauhi. Pria bernama kecil Muhammad Darwisy itu justru memperlihatkan sikap terbuka terhadap perkembangan zaman. Baginya, modernitas bukan musuh agama selama digunakan untuk kepentingan dakwah, pendidikan, dan pelayanan sosial. Di sinilah tampak watak pembaruan Ahmad Dahlan yang sangat khas. Ia menerima kemajuan tanpa harus kehilangan fondasi agama dan orientasi moral.
Sewa Mobil
Jejak itu terlihat jelas dalam surat resmi Hoofdbestuur Moehammadijah (Pimpinan Pusat Muhammadiyah) tertanggal 27 September 1921 Nomor 45/VII yang dikirim kepada Bestuur S.A.T.V di Surakarta. Dalam surat tersebut, Hoofdbestuur memberitahukan bahwa pada hari Ahad, 2 Oktober 1921, Ahmad Dahlan dan Moeh. Koesni akan berangkat ke Wonogiri untuk mengurus kepentingan Comite Sekolah Islamijah. Yang menarik, surat itu secara eksplisit meminta bantuan penyediaan auto atau mobil sewaan. Dalam surat tersebut tertulis kalimat: “kami mohon pertolongan, soepaja toean mentjaharikan auto (baca: mobil) sewaan akan dipakai ke Wonogiri.”
Surat tersebut juga menjelaskan secara rinci bahwa mobil itu diminta sudah tersedia di Stasiun Balapan Solo ketika kereta api (spoor) ekspres dari Madiun tiba sekitar pukul sepuluh pagi. Hoofdbestuur juga menjelaskan bahwa mobil tersebut akan digunakan pulang-pergi pada hari yang sama tanpa bermalam di Wonogiri. Detail-detail administratif tersebut memperlihatkan penggunaan mobil benar-benar dirancang untuk efisiensi gerakan dakwah dan pendidikan Islam.
Pada hari yang sama, yakni tanggal 27 September 1921, Hoofdbestuur juga mengirim surat bernomor 46/VII kepada Bestuur Comite Sekolah Islamijah di Wonogiri. Surat ini sifatnya pemberitahuan bahwa utusan Muhammadiyah akan datang dengan menggunakan mobil dari Solo untuk membicarakan persoalan sekolah Islamiah. Dalam surat itu tertulis: “kami akan berangkat dari Solo djam 10 siang dengan auto (mobil).”
Surat tersebut juga memperlihatkan betapa seriusnya Ahmad Dahlan dalam membangun pendidikan Islam. Ia meminta agar para pengurus Sekolah Islamijah di Wonogiri, guru, dan pihak-pihak lain yang dianggap penting dapat hadir dalam musyawarah tersebut. Pertemuan itu bukan sekadar kunjungan biasa, tetapi bagian dari konsolidasi yang sedang dirintis oleh Muhammadiyah di berbagai daerah.
Jika dicermati lebih dalam, penggunaan mobil sewaan oleh Ahmad Dahlan sesungguhnya menyimpan pesan pemikiran yang sangat penting. Sejak awal, dakwah Muhammadiyah tidak dibangun dengan sikap antipati terhadap modernitas. Ahmad Dahlan justru memanfaatkan berbagai instrumen kemajuan untuk memperkuat gerakan dakwah, sosial dan pendidikan Islam.
Secara psikologis, sikap seperti itu menunjukkan keluwesan berpikir yang jarang dimiliki banyak tokoh pada zamannya. Sebagian masyarakat ketika itu masih memandang teknologi modern sebagai simbol dunia kolonial atau gaya hidup elit yang harus dijauhi. Namun Ketib Amin mampu memisahkan antara alat dan nilai. Mobil hanyalah sarana dan yang menentukan adalah untuk apa sarana tersebut digunakan. Menariknya lagi, penggunaan mobil oleh Ahmad Dahlan itu juga memperlihatkan gaya kepemimpinan yang adaptif dan visioner.
Pendekatan seperti ini sangat selaras dengan nilai-nilai dalam Risalah Islam Berkemajuan (RIB) yang tidak memusuhi ilmu pengetahuan dan perkembangan teknologi. Sebaliknya, RIB justru mendorong umat Islam agar mampu mengelola perubahan zaman secara kreatif, kritis, dan bertanggung jawab. Kemajuan teknologi tidak untuk ditolak, tetapi diarahkan sehingga mampu menghadirkan kemaslahatan umat yang lebih luas.
Pada akhirnya, kisah Ahmad Dahlan berdakwah dengan mobil bukan sekadar cerita tentang alat transportasi modern di masa kolonial. Di balik perjalanan menuju Wonogiri itu, tersimpan cara pandang besar tentang hubungan agama dan kemajuan. Bahwa teknologi tidak harus menjauhkan manusia dari nilai spiritual. Teknologi justru dapat menjadi sarana memperluas manfaat sosial jika digunakan dengan kesadaran moral dan hati yang jernih.
Penulis: Dr. Farid Setiawan, M.Pd.I. (Wakil Sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DI Yogyakarta | Dosen PAI Universitas Ahmad Dahlan)
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow