Ketenangan Hati di Balik Dzikir Kepada Allah
Tuntunan Rasulullah saw. dalam membaca shalawat, tasbih, tahmid, dan takbir merupakan bentuk bimbingan praktis terhadap perintah Allah yang mendorong umat-Nya untuk senantiasa berdzikir.
Dalam banyak ayat Al-Qur’an, umat Islam dianjurkan untuk mengingat Allah di setiap waktu dan keadaan, pagi dan petang, siang maupun malam, ketika duduk ataupun berdiri. Salah satu ayat yang menegaskan hal itu terdapat dalam Surah Al-Ahzab ayat 41–42 yang menyeru, “Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama Allah) sebanyak-banyaknya dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang.”
Nabi Muhammad saw. mencontohkan pelaksanaan dzikir dengan berbagai bacaan, memberikan keleluasaan kepada umatnya untuk menyesuaikan dengan kemampuan dan waktu yang dimiliki. Seseorang yang memiliki waktu luang dapat memperbanyak bacaan dzikir, sedangkan yang sibuk dapat memilih dzikir pendek tanpa kehilangan esensinya. Yang terpenting bukanlah panjang-pendeknya bacaan, melainkan agar hati tidak lalai dari mengingat Allah. Al-Qur’an dalam Surah Al-A’raaf ayat 205 menegaskan,
وَاذْكُرْ رَّبَّكَ فِيْ نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَّخِيْفَةً وَّدُوْنَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالْاٰصَالِ وَلَا تَكُنْ مِّنَ الْغٰفِلِيْنَ
Artinya: “Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang. Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.”
Dzikir sejatinya bukan sekadar rutinitas verbal, melainkan sarana penyucian hati dan pengokohan spiritualitas. Dalam dunia modern yang serba cepat, dzikir berfungsi sebagai jeda spiritual yang menenangkan jiwa dari hiruk pikuk kehidupan. Kesadaran ini perlu ditumbuhkan agar dzikir tidak hanya diucapkan di lisan, tetapi juga diresapi oleh hati yang khusyuk.
Rasulullah saw. mengajarkan agar dzikir dilakukan dengan tulus tanpa pamrih terhadap imbalan duniawi. Pengamalan dzikir hendaknya lahir dari keikhlasan dan rasa cinta kepada Allah, bukan semata karena mengharapkan pahala tertentu. Dengan demikian, dzikir menjadi bukti kesadaran spiritual yang mendalam, bukan sekadar ritual tanpa makna.
Pemilihan bacaan dzikir sebaiknya disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan pribadi, namun tetap berpegang pada tuntunan yang sahih. Umat Islam perlu menjaga keseimbangan, tidak berlebihan hingga memberatkan diri (takalluf), dan tidak pula mengabaikan dzikir dengan alasan kesibukan. Dalam konteks kehidupan modern, dzikir menjadi oase ketenangan yang menyegarkan hati dan menumbuhkan keteguhan iman. Penjelasan lebih lanjut mengenai tuntunan dzikir ini dapat ditemukan dalam Buku Tanya Jawab Agama Jilid 2 halaman 10.
Wallahu a'lam bish-shawab.
Penulis: Yayan Suryana (Wakil Ketua PWM DIY)
What's Your Reaction?
-
1
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow