Hari Tasyrik: Momen Menolak Godaan Setan dan Hawa Nafsu
oleh: Yayan Suryana*
Hari Tasyrik—yakni tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah—bagi jamaah haji adalah momen penting dalam rangkaian ibadah puncak yang penuh makna simbolis dan spiritual. Mereka melaksanakan prosesi melempar jumrah di Mina, yaitu Jumrah Ula, Wustha, dan Aqabah.
Ritual ini bukan sekadar melempar batu ke tiga tiang, melainkan lambang penolakan terhadap godaan setan dan peneguhan tekad untuk menempuh jalan ketaatan kepada Allah. Di tempat itulah, Nabi Ibrahim 'alaihissalam pernah menghadapi bujuk rayu Iblis saat hendak menyembelih putranya sebagai bentuk ketaatan kepada Allah.
Maka melempar jumrah adalah penegasan bahwa setiap muslim harus berani mengatakan "tidak" pada godaan setan, di mana pun dan kapan pun.
Simbol ini menunjukkan bahwa dalam hidup, godaan setan bukan hanya terjadi di tempat khusus seperti Mina. Setan senantiasa membisikkan tipu dayanya ke dalam dada manusia (QS. An-Nas: 4–6).
Jadi lemparan jumrah bukan semata ritual fisik, tetapi pembaruan komitmen spiritual untuk senantiasa berjihad melawan bisikan setan dalam kehidupan sehari-hari.
Bagi kaum muslimin yang tidak sedang berhaji, hari Tasyrik juga sarat makna. Umat Islam dianjurkan untuk menyempurnakan ibadah qurban. Sebagaimana sabda Nabi saw, bahwa "Hari-hari Tasyrik adalah hari makan, minum, dan dzikir kepada Allah." (HR. Muslim).
Di saat jamaah haji melempar jumrah sebagai simbol melawan setan, kaum muslimin di berbagai penjuru dunia menyembelih hewan qurban, yang hakikatnya adalah menyembelih kerakusan, keserakahan, dan cinta berlebihan pada harta benda.
Spirit ini menuntun umat Islam untuk tidak terjerumus dalam gaya hidup materialistis. Pengorbanan hewan qurban adalah simbol bahwa kita masih diberi waktu dan kesempatan untuk menyucikan diri dari hawa nafsu duniawi.
Allah mengingatkan dalam Al-Qur’an, "Daging dan darah hewan qurban itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian." (QS. Al-Hajj: 37).
Ayat tersebut menegaskan bahwa yang utama bukan hanya ritual formal, tetapi makna batiniah dan transformasi moral dari pelaksanaan ibadah tersebut.
Ulama kontemporer seperti Syekh Yusuf al-Qaradawi, menegaskan bahwa ibadah qurban tidak bisa dilepaskan dari dimensi sosial. Dalam bukunya Fiqh al-Zakat, beliau menyatakan bahwa semangat berkurban harus menghadirkan kepedulian kepada kaum dhuafa, bukan sekadar rutinitas tahunan. Maka, menyembelih qurban adalah juga menyembelih egoisme dan kesombongan atas harta yang dimiliki.
Hari Tasyrik, dengan demikian, adalah hari-hari yang mempertemukan nilai-nilai simbolik dan praktis. Baik yang berhaji maupun tidak, sama-sama sedang berjuang untuk menjadi manusia yang lebih taat, lebih bersih dari pengaruh setan, dan lebih tahan terhadap bujuk rayu duniawi. Persamaan ini menunjukkan bahwa meskipun kondisi dan tempat kita berbeda, tujuan ibadah tetap satu: melatih jiwa agar tunduk sepenuhnya kepada kehendak Allah.
Dengan demikian, hari tasyrik menjadi kesempatan membumikan nilai-nilai pengorbanan dan solidaritas. Nabi saw. bersabda: "Tidak ada amal yang lebih dicintai Allah pada hari-hari ini (sepuluh hari Dzulhijjah) selain amal saleh." (HR. al-Bukhari).
Maka amal qurban, melempar jumrah, hingga berbagi daging kepada fakir miskin adalah rangkaian amal saleh yang memperkokoh ikatan iman dan kemanusiaan.
Hari Tasyrik ini meruoakan kesempatan langka untuk memperbaharui tekad. Tekad untuk melawan setan yang menggoda dari dalam maupun luar. Tekad untuk mengendalikan nafsu yang berambisi menguasai hidup kita. Dan tekad untuk membangun tatanan sosial yang lebih adil melalui semangat berbagi.
Kaum Musliman yang sedang berada di Mina atau yang berada di kampung halaman, hari-hari Tasyrik menjadikan pribadi yang mampu menundukkan dunia, bukan ditundukkan oleh dunia.
*) Penulis adalah Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Daerah Istimewa Yogyakarta
What's Your Reaction?
-
3
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow