Dua Nabi Disebut dalam Tahiyyat: Refleksi Teologis atas Risalah Tauhid
Penjelasan mengenai penyebutan Nabi Muhammad dan Nabi Ibrahim dalam bacaan tahiyyat merupakan bagian dari ajaran shalat yang telah dicontohkan langsung oleh Rasulullah saw. Dalam Buku Tanya Jawab Agama Jilid 2 halaman 61–64 dijelaskan bahwa membaca shalawat kepada dua Nabi ini adalah bagian integral dari tuntunan shalat. Apa yang dilakukan Nabi Muhammad saw. merupakan pedoman utama dalam pelaksanaan shalat, termasuk rincian bacaan dalam tahiyyat. Karena itu, mempertanyakan mengapa Nabi Adam atau para Nabi lainnya tidak disebutkan bukanlah sikap yang tepat.
Penyebutan hanya dua Nabi bukan membeda-bedakan para Nabi, sebab ummat islam dilarang membeda-bedakannya. Sebagaimana termaktub dalam QS. Al-Baqarah ayat 136 dan QS. Ali ‘Imran ayat 84. Dua ayat tersebut secara tegas menegaskan bahwa seluruh Nabi adalah utusan Allah yang harus dipercayai tanpa pengecualian, dan bahwa kaum Muslim adalah hamba-hamba Allah yang tunduk kepada-Nya.
Meskipun demikian, Al-Qur’an sendiri memberi gelar atau kekhususan tertentu kepada beberapa Nabi. Nabi Ibrahim misalnya, diberi gelar khalilullah (kesayangan Allah) dalam QS. An-Nisa ayat 125. Hal ini menunjukkan bahwa adanya penyebutan khusus terhadap Nabi tertentu tidak dimaksudkan untuk meninggikan sebagian Nabi dan merendahkan yang lain, tetapi untuk menunjukkan aspek keteladanan yang relevan bagi umat. Demikian pula, Nabi Muhammad saw. diberi kedudukan sebagai rahmatan lil ‘alamin dalam QS. Al-Anbiya ayat 107, yang menegaskan peran universal risalah beliau.
Penyebutan Nabi Muhammad dan Nabi Ibrahim dalam shalat dapat pula dipahami melalui hubungan historis dan teologis keduanya dalam mata rantai perjuangan tauhid. Nabi Muhammad merupakan keturunan Nabi Ibrahim melalui jalur Ismail, sementara Nabi-nabi Bani Israil lahir dari jalur Ishaq. Secara historis, risalah tauhid Ibrahim diteruskan oleh Nabi Muhammad sebagai penutup para Nabi dan sebagai pembawa Islam yang menghidupkan kembali ajaran tauhid yang murni.
Selain itu, Al-Qur’an menegaskan bahwa ajaran tauhid yang dibawa Nabi Muhammad adalah kesinambungan dari agama Ibrahim. QS. Al-An’am ayat 79 menyampaikan pernyataan ketulusan Ibrahim dalam memurnikan ibadah kepada Allah, dan QS. Al-An’am ayat 161–163 menegaskan bahwa Nabi Muhammad saw. mengikuti agama Ibrahim yang lurus (hanif). Menariknya, ayat-ayat tersebut menjadi bagian dari bacaan doa iftitah yang dibaca umat Islam hingga hari ini, sehingga menunjukkan adanya kesinambungan spiritual antara doa Ibrahim dan doa yang diajarkan Muhammad.
Kesinambungan risalah tauhid antara Ibrahim dan Muhammad juga terlihat dalam peran keduanya dalam ibadah. Dalam shalat maupun haji, Nabi Ibrahim memiliki posisi fundamental sebagai peletak dasar tauhid dan pembangun Ka'bah, sebagaimana dijelaskan dalam QS. Al-Hajj ayat 26 serta QS. Al-Baqarah ayat 125 dan seterusnya. Ka'bah yang dibangun Ibrahim menjadi kiblat shalat dan pusat pelaksanaan haji bagi umat Muhammad, menunjukkan keterhubungan mendalam antara kedua Nabi besar ini dalam struktur ibadah umat Islam.
Bahkan, dalam QS. Al-Baqarah ayat 129, Nabi Ibrahim memohon kepada Allah agar diutus seorang Rasul dari keturunannya yang akan membawa wahyu, mengajarkan Kitab dan hikmah, serta menyucikan umat. Permohonan ini dikabulkan oleh Allah dengan diutusnya Nabi Muhammad sebagai Rasul terakhir. Dengan demikian, penyebutan dua nama ini dalam tahiyyat dapat dipahami sebagai simbol keterhubungan spiritual, historis, dan teologis antara keduanya dalam perjuangan menegakkan tauhid.
Dengan paparan ini, menjadi jelas bahwa penyebutan Nabi Muhammad dan Nabi Ibrahim dalam tahiyyat bukanlah bentuk pembedaan derajat kenabian, tetapi penegasan akan kesinambungan dakwah tauhid dari masa ke masa. Hal ini justru memperkuat keyakinan bahwa seluruh Nabi membawa risalah yang sama: menyeru manusia untuk hanya menyembah Allah Yang Maha Esa. Karena itu, penyebutan kedua Nabi dalam shalat seharusnya tidak menjadi alasan untuk melemahkan keimanan kepada para Nabi yang lain.
Wallahu a'lam bish-shawab.
Penulis: Yayan Suryana (Wakil Ketua PWM DIY)
What's Your Reaction?
-
2
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow