Antara Cinta Nabi dan Ketepatan Amalan: Menyikapi Shalawat Tunjina

Antara Cinta Nabi dan Ketepatan Amalan: Menyikapi Shalawat Tunjina

Smallest Font
Largest Font

Dalam masyarakat, sering terdengar doa yang diawali dengan bacaan “Allahumma shalli ‘ala Sayyidina Muhammad, shalātan tunjīnā bihā…” yang dikenal sebagai shalawat tunjina. Doa ini diyakini sebagian orang sebagai amalan Syaikh Abdul Qadir al-Jailani dan dipercaya dapat mendatangkan keselamatan dari berbagai kesulitan dan penderitaan. Keyakinan semacam ini cukup populer di berbagai daerah, terutama di mushalla dan masjid ketika jamaah membaca doa bersama. Namun, penting untuk dikaji apakah doa ini benar memiliki dasar dari Al-Qur’an dan Sunnah, serta apakah memang layak diamalkan sebagaimana keyakinan masyarakat.

Shalawat memang merupakan amalan yang sangat dianjurkan dalam Islam. Al-Qur’an secara tegas memerintahkan umat Islam untuk bershalawat kepada Nabi Muhammad saw. sebagaimana firman Allah dalam surah Al-Ahzab ayat 56:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Artinya: “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.”

Ayat ini menunjukkan bahwa bershalawat adalah bentuk cinta dan penghormatan kepada Rasulullah saw. Namun, para ulama menjelaskan bahwa makna shalawat berbeda tergantung siapa yang melakukannya. Jika berasal dari Allah, shalawat berarti rahmat; jika dari malaikat, berarti doa permohonan ampunan; dan jika dari manusia, berarti doa permohonan rahmat kepada Allah untuk Nabi-Nya.

Contoh shalawat yang paling jelas dan memiliki tuntunan langsung adalah ucapan “Allahumma shalli ‘ala Muhammad.” Inilah bentuk shalawat yang sahih dan diajarkan oleh Nabi sendiri. Akan tetapi, bila bacaan shalawat dikaitkan dengan permohonan tertentu seperti keselamatan dari penderitaan, apalagi dihubungkan dengan tokoh tertentu seperti Syaikh Abdul Qadir al-Jailani, maka hal itu tidak memiliki dasar dari Al-Qur’an maupun As-Sunnah. Dalam Islam, doa keselamatan seharusnya langsung dipanjatkan kepada Allah dengan doa-doa yang ma'tsur, yakni yang dituntunkan oleh Nabi Muhammad saw.

Memohon keselamatan dan perlindungan kepada Allah tidak perlu melalui perantara atau dikaitkan dengan nama seseorang. Justru, doa yang dipanjatkan langsung kepada Allah menunjukkan keteguhan tauhid, ketulusan hati, serta pengakuan terhadap kekuasaan dan kehendak-Nya. Seorang muslim sebaiknya memperbanyak doa dengan penuh keikhlasan dan disertai usaha nyata untuk menjauhi bahaya serta melakukan amal saleh yang mendatangkan kebaikan. Shalawat yang dibaca pun hendaknya sesuai dengan ajaran Nabi sebagai wujud kecintaan dan ketaatan kepada beliau, bukan karena keyakinan akan khasiat tertentu yang tidak bersumber dari tuntunan syar’i.

Penjelasan lebih rinci mengenai hal ini dapat ditemukan dalam Buku Tanya Jawab Agama Jilid 2 halaman 8–9, yang menegaskan pentingnya membedakan antara amalan yang benar-benar bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah dengan kebiasaan yang tidak memiliki dasar syar’i. Dengan demikian, memahami dan mengamalkan shalawat sesuai tuntunan Nabi adalah bentuk kecintaan sejati kepada Rasulullah saw. sekaligus menjaga kemurnian ajaran Islam dari tambahan yang tidak berdasar.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Penulis: Yayan Suryana (Wakil Ketua PWM DIY)

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    3
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Berita Terkait