Tuma’ninah: Ruh Kekhusyu’an dalam Shalat
Tuma’ninah atau ketenangan dalam shalat adalah unsur yang sangat vital dalam mencapai kekhusyu’an. Tanpa tuma’ninah, shalat akan kehilangan ruh dan nilainya di hadapan Allah SWT. Rasulullah saw. secara tegas memerintahkan umatnya untuk melaksanakan shalat dengan tenang, baik ketika ruku’, sujud, maupun gerakan lainnya.
Perintah ini bukan sekadar aturan teknis, melainkan bimbingan agar shalat menjadi sarana pembersihan hati dan penguatan iman. Sayangnya, di tengah kesibukan dan tekanan hidup modern, banyak orang yang tergoda untuk mempercepat shalat dengan alasan waktu yang terbatas, sehingga melewati inti pentingnya, yaitu tuma’ninah.
Fenomena shalat kilat sebenarnya bukan hal baru. Bahkan, pada masa Rasulullah saw, perilaku ini sudah terjadi. Para ulama menggambarkan shalat tanpa tuma’ninah bagaikan ayam mematuk makanan, cepat, terburu-buru, dan tanpa ketenangan.
Dalam sebuah riwayat, Rasulullah saw. menegur keras seorang laki-laki yang shalatnya demikian. Beliau mengingatkan bahwa jika seseorang mati dalam keadaan shalat seperti itu, ia mati di luar ajaran agama yang dibawa Nabi Muhammad saw. Gambaran ini menunjukkan betapa fatalnya mengabaikan tuma’ninah, bukan sekadar kurang sempurna, tetapi berpotensi menghapus nilai shalat itu sendiri.
Hadits-hadits lain juga menguatkan pesan ini. Rasulullah saw. menyebut bahwa pencurian paling buruk adalah mencuri dari shalatnya sendiri. Para sahabat heran, lalu bertanya, bagaimana mungkin seseorang mencuri dari shalatnya? Nabi menjawab: “Tidak menyempurnakan ruku’ dan sujudnya.” Makna pencurian di sini adalah mengurangi hak shalat untuk dilakukan secara sempurna. Ini mengajarkan kita bahwa shalat tidak hanya soal gerakan dan bacaan, tetapi juga sikap hati dan keutuhan setiap rukunnya.
Dari dalil-dalil tersebut, para ulama menyimpulkan bahwa tuma’ninah merupakan kewajiban dalam setiap rukun shalat seperti ruku’, sujud, berdiri, dan duduk. Setiap gerakan harus dilakukan dengan tenang sebelum beralih ke gerakan berikutnya.
Dengan kata lain, tergesa-gesa dalam shalat bukan hanya mengurangi kualitas ibadah, tetapi juga bisa membatalkannya jika sampai menghilangkan tuma’ninah. Hal ini menuntut kesadaran dan latihan agar shalat yang kita kerjakan benar-benar sesuai tuntunan Nabi saw.
Untuk membiasakan tuma’ninah, diperlukan pembiasaan yang konsisten. Salah satu caranya adalah mengatur prioritas waktu agar shalat tidak dilakukan di sela-sela kesibukan yang menekan. Selain itu, menumbuhkan kesadaran bahwa shalat adalah perjumpaan spiritual dengan Allah akan membuat kita menghargai setiap detiknya. Ketika hati hadir dalam shalat, gerakan akan otomatis melambat, bacaan menjadi jelas, dan tuma’ninah pun tercapai. Shalat yang demikian akan memberi ketenangan batin dan memperkuat ikatan kita dengan Sang Pencipta.
Masalah tuma’ninah ini telah dibahas secara rinci dalam Buku Tanya Jawab Agama Jilid 6 halaman 48–50, yang menegaskan pentingnya pelaksanaan shalat dengan tenang dan sesuai tuntunan syariat. Sudah seharusnya setiap muslim menempatkan tuma’ninah sebagai prioritas, bukan tambahan. Sebab, shalat yang sempurna tidak hanya menjadi kewajiban, tetapi juga sumber kekuatan spiritual yang akan mempengaruhi akhlak, kesabaran, dan keteguhan iman kita dalam kehidupan sehari-hari.
Wallahu a’lam bish-shawaab.
Penulis: Yayan Suryana (Wakil Ketua PWM DIY)
What's Your Reaction?
-
1
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow