PCM Minggir (2) : Bersama Membendung Perpindahan Agama
Pada akhir 2014 seorang pemuda bernama Rateka Winner Lee atau lebih akrab dipanggil Rateka mengunggah video yang akhirnya menjadi viral. Pria keturunan Cina tersebut menunjukkan kepedulian terhadap agamanya, meski bukan seorang ulama. Ia membuat konten YouTube merekam aktivitas kristenisasi terselubung yang terjadi di Car Free Day (CFD) Jakarta. Video tersebut menyadarkan banyak orang, termasuk para aktivis dakwah, yang kemudian membuat kegiatan-kegiatan dakwah di CFD.
Atas aksinya tersebut Rateka sempat mendapatkan ancama pembunuhan. Sebelumnya Rateka sadar jika videonya tersebut akan berbuntut panjang dan penuh risiko. Ketika ditanya wartawan mengapa dia berani mengungkapkan aksi kristenisasi terselubung tersebut. Ia menjawab, "Pertama, Anda tidak perlu jadi orang alim untuk bisa peduli sama agama. Meskipun Anda brengsek, kalau sudah menyangkut agama harus maju. Kedua, jangan pandang sebelah mata pengemis. Ketidakpedulian kita sama mereka ternyata dimanfaatkan. Padahal, potensi zakat kita kan besar dan kita sudah diajarkan untuk menyisihkan 2,5 persen harta kita. Terakhir, untuk mengingatkan ada bahaya itu, bisa share video saya."
Jauh sebelum 2014, di Kecamatan Minggir proses penyebaran agama Katolik cukup masif. Terutama melalui lembaga pendidikan. Terdapat beberapa lembaga pendidikan yang beroperasi di Minggir, Kanisius, Sanjaya dan Budi Mulia (Katolik) serta Bopkri (Kristen). Karena kurangnya sekolah negeri, maka sebagian siswa muslim juga bersekolah di sana. Sehingga nyaris mereka tidak mendapatkan pendidikan agama Islam di sekolah. Setelah bekerja, sebagian mereka juga mendapatkan bantuan dari pihak gereja untuk mendapatkan pekerjaan. Rasa simpati dan merasa berhutang budi tersebut membuat sebagian mereka berpindah agama.
Tantanga cukup berat dihadapi umat Islam di Kecamatan Minggir pada era 1970-an. Seorang tokoh agama Katolik dari Belanda, bernama Romo Tack, cukup gencar melakukan penyiaran agama. Kondisi ekonomi yang sulit akibat beberapa tahun gagal panen memberikan peluang bagi Romo Tack untuk memberikan bantuan kepada masyarakat. Seperti layaknya penyebaran agama di berbagai tempat, bantuan tersebut tidak bersifat 'gratis' tetapi dibumbui ajakan untuk memeluk agama baru. Sehingga terjadi konversi agama yang cukup signifikan.
Mengetahui kondisi tersebut, para aktivis Muhammadiyah di Kecamatan Minggir bergerak. Di antara langkah pertama dengan mendirikan sejumlah sekolah dari tingkat SD, SMP dan SPG. Sehingga para siswa muslim bisa bersekolah di Sekolah Muhammadiyah. Sekolah-sekolah tersebut dibangun secara swadaya. Termasuk melibatkan para siswa dan orang tua siswa. Mulai dari kerjabakti mengumpulkan bahan bangunan pasir dan batu. Sampai sumbangan berupa kelapa untuk kemudian dijual.
Setelah hadirnya sekolah-sekolah Muhammadiyah, upaya membentengi akidah umat sejak dini bisa dilakukan. Sehingga mampu membendung gerakan penyebaran agama Katolik yang terjadi. Hingga sekarang di Minggir terdapat 8 Sekolah Dasar, 2 Sekolah Menengag Pertama dan 1 Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang dahulu Sekolah Pendidikan Guru (SPG) berubah menjadi Sekolah Menengah Atas (SMA) dan sekarang SMK. [e]
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow