Mengapa Muhammadiyah Tidak Menyebut 'Sayyidina' dalam Shalawat?
Sering muncul anggapan bahwa Muhammadiyah kurang menghormati Nabi Muhammad saw., karena dalam bacaan shalawat tidak menggunakan tambahan kata Sayyidina yang berarti “Tuan kami”. Bagi sebagian orang, hal ini dianggap sebagai bentuk pengurangan penghormatan kepada Rasulullah. Namun, Muhammadiyah justru berpegang pada prinsip bahwa penghormatan kepada Nabi harus dilakukan dengan cara mengikuti ajarannya secara murni, tanpa menambahkan sesuatu yang tidak beliau contohkan.
Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah Islam selalu mengajak umat untuk menjunjung tinggi ajaran Nabi Muhammad saw. Salah satu wujud penghormatan tertinggi adalah dengan meneladani ajarannya dalam ibadah, termasuk dalam shalat. Dalam bacaan tasyahhud misalnya, Muhammadiyah membimbing warganya untuk membaca shalawat sebagaimana diajarkan langsung oleh Rasulullah saw, yaitu “Allahumma shalli ‘alaa Muhammad” tanpa tambahan kata Sayyidina. Hal ini sejalan dengan sabda Nabi: “Shalatlah kamu sebagaimana kamu melihat aku shalat.” (HR. al-Bukhari).
Dalam hadis riwayat Fudlalah bin ‘Ubaid disebutkan bahwa Nabi saw. mengajarkan urutan berdoa, yaitu memulai dengan memuji Allah, kemudian membaca shalawat, baru setelah itu berdoa sesuai keperluan. Tuntunan shalawat yang diajarkan Nabi tidak mencantumkan kata Sayyidina. Begitu pula ketika para sahabat bertanya kepada Nabi bagaimana cara bershalawat, Rasulullah mengajarkan lafadz yang jelas: "Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala aali Muhammad…" (HR. Ahmad, Muslim, an-Nasa’i, dan at-Tirmidzi). Semua riwayat ini tidak pernah menambahkan kata Sayyidina.
Dengan demikian, alasan Muhammadiyah tidak menambahkan Sayyidina dalam bacaan shalawat, khususnya dalam shalat, bukan karena kurangnya penghormatan, melainkan karena ingin menjaga kemurnian tuntunan Rasulullah. Penghormatan sejati bukan dengan menambahkan gelar yang beliau sendiri tidak ajarkan, tetapi dengan mengikuti ajaran beliau secara konsisten. Dalam hal ini, Muhammadiyah menegaskan bahwa ibadah harus sesuai dengan sunnah Nabi, tidak ditambah-tambahi meskipun dengan maksud penghormatan.
Adapun mengenai penyebutan Sayyidina di luar shalat, misalnya dalam pidato atau percakapan, terdapat hadis yang menyebut: “As-Sayyidullah” (Sayyid itu Allah) (HR. Ahmad dan Abu Dawud). Dari isyarat hadis ini, dapat dipahami bahwa gelar Sayyid adalah milik Allah, sehingga tidak pantas jika disematkan kepada manusia, termasuk kepada Nabi Muhammad saw. Karena itu, Muhammadiyah lebih memilih menyebut nama Nabi sebagaimana terdapat dalam hadis-hadis sahih, misalnya "Allahumma shalli ‘ala Muhammadin Nabiyyil Ummiyyi" atau "Allahumma shalli ‘ala Muhammad ‘abdika wa rasuulika".
Kesimpulannya, sikap Muhammadiyah dalam tidak menambahkan kata Sayyidina bukanlah tanda merendahkan Nabi, melainkan justru bentuk ketaatan kepada beliau dengan menjaga keaslian bacaan yang beliau ajarkan. Prinsip ini menunjukkan bahwa penghormatan tertinggi kepada Nabi Muhammad saw. adalah dengan menjalankan sunnahnya tanpa rekayasa tambahan. Penjelasan lebih rinci mengenai hal ini dapat ditemukan dalam Buku Tanya Jawab Agama jilid 3 halaman 10–13.
Wallahu a'lam bish-shawaab.
Penulis: Yayan Suryana (Wakil Ketua PWM DIY)
What's Your Reaction?
-
5
Like -
1
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow