Mengagungkan Al-Qur’an: Antara Sikap Lahiriah dan Penghayatan Hakiki

Mengagungkan Al-Qur’an: Antara Sikap Lahiriah dan Penghayatan Hakiki

Smallest Font
Largest Font

Oleh: Yayan Suryana*

Mengagungkan Al-Qur’an bukanlah sekadar soal bagaimana memperlakukannya secara fisik, tetapi lebih dalam lagi, bagaimana kita memaknai, memahami, dan mengamalkan pesan-pesannya dalam kehidupan. Sayangnya, sebagian orang masih memahami penghormatan terhadap Al-Qur’an sebatas perlakuan simbolik, seperti meletakkannya di atas kepala ketika terjatuh, atau bersikap berlebihan yang tidak sesuai dengan ruh pengajaran Islam itu sendiri.

Mushaf Al-Qur’an, buku yang memuat Kalamullah, memang memiliki kedudukan mulia. Ia bukan sekadar teks, melainkan wahyu Ilahi yang menjadi petunjuk hidup umat manusia. Maka, memperlakukannya dengan penuh hormat adalah sesuatu yang sangat layak dan bahkan dituntut. Namun, penghormatan itu tidak boleh melampaui batas sehingga terjebak pada bentuk-bentuk takhayul atau pengkultusan benda, seperti menuliskan ayat-ayatnya untuk dibakar dan diminum sebagai jimat.

Rasa takzim terhadap Mushaf harus dimulai dari hati yang sadar akan keagungan isi dan maknanya. Menjaga kesucian Mushaf, menyimpannya di tempat yang layak, dan tidak membiarkannya tergeletak sembarangan adalah bagian dari adab terhadap Kalamullah. Tetapi penghormatan yang sejati bukan terletak pada meletakkannya di atas kepala atau dalam upacara-upacara tertentu yang tidak diajarkan Rasulullah, melainkan pada kesungguhan memahami dan mengamalkan ajarannya dalam kehidupan nyata.

Ketika Mushaf jatuh karena kelalaian kita, yang paling utama adalah menyesali kelalaian itu dengan beristighfar dan segera mengambilnya dengan penuh hormat. Bukan reaksi spontan yang berlebihan yang perlu ditonjolkan, melainkan kesadaran bahwa kita telah kurang berhati-hati terhadap sesuatu yang agung. Pengagungan terhadap Al-Qur’an sejatinya diukur dari akhlak kita terhadap isi dan ajarannya, bukan semata pada perlakuan simbolik terhadap fisiknya.

Jika menemukan semangat memuliakan Al-Qur’an yang dilakukan secara seremonial, maka kita perlu mengembalikan makna agung itu kepada tempatnya yang hakiki. Hadirkan hati yang tunduk, akal yang memahami, dan amal yang menjelmakan nilai-nilai Ilahi itu dalam kehidupan sehari-hari. Inilah bentuk penghormatan tertinggi terhadap Al-Qur’an. Bukan hanya disimpan rapi di almari, tetapi hadirkan dalam akhlak dan amal umatnya.

Tulisan ini merujuk pada penjelasan dalam Buku Tanya Jawab Agama Jilid I halaman 15, yang memuat panduan bijak tentang bagaimana mengagungkan Al-Qur’an tanpa terjebak pada tindakan simbolik yang berlebihan.

Wallahu a'lam bish-shawab.

*) Penulis adalah Wakil Ketua Umum Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Daerah Istimewa Yogyakarta

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    2
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Berita Terkait