Menempatkan Shalawat dan Shalat Secara Proporsional dalam Islam

Menempatkan Shalawat dan Shalat Secara Proporsional dalam Islam

Smallest Font
Largest Font

Fenomena kehidupan  keagamaan Islam di masyarakat, sering menunjukan berbagai bentuk ekspresi spiritual, termasuk pembacaan shalawat dengan berbagai versi dan metode yang berbeda-beda. Salah satu yang cukup dikenal adalah Shalawat Wahidiyah, yang oleh sebagian orang disebut sebagai puncak dari ajaran Islam. 

Namun, pernyataan semacam ini perlu dilihat dengan cermat berdasarkan sumber utama ajaran Islam, yaitu Al-Qur’an dan hadis Nabi. Dalam Buku Tanya Jawab Agama jilid 2 halaman 6–7 dijelaskan bahwa tidak ditemukan dasar hukum yang menyatakan Shalawat Wahidiyah sebagai puncak Islam, baik sebagai bacaan maupun sebagai lembaga jamaah.

Di dalam Al-Qur’an maupun hadis, tidak disebutkan bahwa suatu bentuk bacaan shalawat tertentu menjadi puncak ajaran Islam. Jika yang dimaksud adalah shalawat sebagai bentuk dzikir, maka shalawat hanyalah salah satu dari sekian banyak cara untuk mengingat Allah. Adapun jika dimaksudkan sebagai organisasi atau jamaah shalawat, maka tidak terdapat dalil yang menegaskan bahwa jamaah tersebut merupakan representasi tertinggi dalam Islam.

Justru, yang dianggap sebagai perkara besar dalam agama adalah dzikrullah (mengingat Allah) yang diwujudkan dalam ibadah shalat. Al-Qur’an berulang kali menegaskan pentingnya mengingat Allah dan bahaya melupakan-Nya, sebagaimana dalam surat Al-Hasyr ayat 19 yang mengingatkan bahwa orang yang lupa kepada Allah akan dibuat lupa terhadap dirinya sendiri.

Perintah untuk senantiasa mengingat Allah juga ditegaskan dalam surat Al-Baqarah ayat 152: “Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu dan bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu mengingkari (nikmat-Ku).” Ayat ini menunjukkan bahwa hubungan spiritual antara manusia dengan Allah terjalin melalui kesadaran dan rasa syukur, bukan melalui pengkultusan terhadap bentuk dzikir tertentu. 

Islam tidak mengenal satu bentuk zikir yang paling utama secara mutlak, karena semua ibadah yang mengingatkan manusia kepada Allah bernilai luhur, selama tidak keluar dari tuntunan syariat.

Lebih lanjut, dalam surat Al-‘Ankabut ayat 45 dan Thaha ayat 14, ditegaskan bahwa shalat adalah sarana utama untuk mengingat Allah. Shalat bukan hanya ritual formal, melainkan mekanisme spiritual yang mencegah perbuatan keji dan mungkar, serta memperkuat kesadaran ketuhanan dalam diri seorang mukmin. Dalam ayat “Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya daripada ibadah lainnya)." (29:45), dijelaskan bahwa inti dari seluruh ibadah adalah menghadirkan ingatan kepada Allah, dan shalat menjadi puncak aktualisasi dari kesadaran itu. Maka, shalatlah yang menempati posisi sentral dalam bangunan ajaran Islam, bukan bacaan atau komunitas tertentu.

Rasulullah saw.  juga menegaskan keutamaan shalat melalui berbagai hadis. Dalam riwayat Muslim dari Abdullah disebutkan bahwa beliau bersabda: “Amal yang paling utama adalah shalat pada waktunya dan berbuat baik kepada orang tua.” 

Hadis tersebut menunjukkan bahwa ukuran keutamaan ibadah dalam Islam tidak didasarkan pada bentuk bacaan tertentu, tetapi pada kepatuhan menjalankan kewajiban yang telah disyariatkan. Bahkan dalam hadis lain disebutkan bahwa shalat adalah amal pertama yang akan dihisab di hari kiamat (HR. An-Nasa’i dari Ibnu Mas‘ud). Artinya, shalat menjadi tolok ukur utama keberagamaan seseorang di hadapan Allah.

Apabila Shalawat Wahidiyah dimaknai sebagai jamaah atau kelompok pengamal dzikir, maka hal itu dapat dihargai sebagai bentuk ekspresi keagamaan selama tidak mengklaim dirinya sebagai puncak Islam. Dalam hadis Nabi disebutkan bahwa generasi terbaik dalam Islam adalah generasi yang hidup pada masa beliau dan para sahabat, kemudian generasi berikutnya. Artinya, keutamaan dalam beragama bukan ditentukan oleh jamaah atau metode baru, tetapi oleh kesetiaan mengikuti ajaran Nabi dan para sahabatnya. 

Dengan demikian, umat Islam perlu menempatkan dzikir dan shalawat secara proporsional, tanpa menggeser posisi shalat sebagai puncak ibadah dan simbol tertinggi kedekatan hamba kepada Tuhannya.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Penulis: Yayan Suryana (Wakil Ketua PWM DIY)

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    1
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Berita Terkait