Doa untuk Mayit: Tidak Sekadar Panjang, tetapi Tepat Tuntunan 

Doa untuk Mayit: Tidak Sekadar Panjang, tetapi Tepat Tuntunan 

Smallest Font
Largest Font

Di banyak tempat, shalat jenazah sering diakhiri dengan kebiasaan membaca Surat al-Fatihah lalu dilanjutkan doa yang panjang, bahkan kadang terasa lebih lama daripada shalat jenazah itu sendiri. 

Praktik ini menimbulkan pertanyaan mendasar,  adakah tuntunan hadis yang secara khusus menganjurkan doa berjamaah setelah salam shalat jenazah? 

Pertanyaan ini penting diajukan agar ibadah yang dilakukan benar-benar berpijak pada ajaran Nabi Muhammad saw., bukan sekadar kebiasaan yang diwariskan tanpa kejelasan dasar.

Dalam tuntunan syariat, inti shalat jenazah sesungguhnya adalah doa itu sendiri. Sejak takbir pertama hingga salam, rangkaian shalat jenazah diisi dengan bacaan al-Fatihah, shalawat kepada Nabi, dan doa permohonan ampun serta rahmat bagi mayit. 

Rasulullah saw. menegaskan, “Apabila kalian menshalatkan jenazah, maka ikhlaskanlah doa untuknya,” (HR. Abu Dawud dan al-Hakim). Ini menunjukkan bahwa shalat jenazah telah dirancang sebagai ibadah doa, bukan sekadar ritual simbolik.

Karena itu, setelah shalat jenazah diakhiri dengan salam, pada dasarnya ibadah tersebut telah sempurna. Dalam penelusuran hadis-hadis sahih, tidak ditemukan tuntunan khusus dari Nabi saw. tentang doa berjamaah yang panjang tepat setelah shalat jenazah dan sebelum pemakaman. 

Maka, menyudahi shalat jenazah dengan salam tanpa tambahan ritual doa bersama sudah sesuai dengan praktik yang dicontohkan Rasulullah.

Namun, Islam tidak menafikan pentingnya doa bagi jenazah setelah itu, khususnya setelah mayit dikuburkan. Justru pada fase inilah Nabi saw. secara tegas menganjurkan umatnya untuk memohonkan ampun bagi jenazah. Dalam hadis sahih riwayat Abu Dawud, Utsman bin ‘Affan ra. menuturkan: “Apabila Rasulullah saw. selesai menguburkan mayit, beliau berdiri di sisinya lalu bersabda: ‘Mohonkanlah ampun untuk saudara kalian dan mintakan keteguhan baginya, karena sekarang ia sedang ditanya.’” 

Hadis ini menunjukkan bahwa doa setelah pemakaman memiliki makna teologis yang sangat kuat, karena berkaitan langsung dengan fase awal kehidupan barzakh.

Dengan demikian, pembedaan waktu doa perlu dipahami secara proporsional. Shalat jenazah sudah memuat doa inti bagi mayit, sementara doa setelah penguburan memiliki dasar hadis yang jelas dan konteks spiritual yang mendalam.

Penjelasan ini secara ringkas telah disinggung dalam Buku Tanya Jawab Agama jilid 2 halaman 104, agar umat Islam tidak terjebak pada pemanjangan ritual tanpa dasar, tetapi tetap maksimal dalam mendoakan jenazah pada waktu yang memang dianjurkan oleh Nabi Muhammad saw. 

Wallahu a'lam bish-shawab.

Penulis: Yayan Suryana (Wakil Ketua PWM DIY)

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    3
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    1
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Berita Terkait