Islam

Islam

MediaMU.COM

May 22, 2024
Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Salurkan Energi Positif dan Jangan Lupakan Hakikat

Oleh: Fianty Nada

Saya ingin mengawali tulisan ini dengan berbagi pengalaman dalam membuat cover lagu. Saya sudah cover lagu cukup banyak. Sejak kecil saya sudah membuat cover lagu yang hanya bisa didengar oleh orang terdekat. Ketika SD laman yang saya gunakan hanya Facebook, itu pun yang menonton paling banyak hanya 5 orang. Beranjak memasuki SMP barulah saya membuat akun Instagram. Tidak ada niatan sama sekali bahwa dengan memiliki akun itu saya akan membuat cover. Saya menjadi passive user karena kurang suka bermain Instgram pada waktu itu. Kemudian saya mulai memberanikan diri untuk mempublish cover pertama saya. Hanya suara berlatar gelapnya pintu dengan lagu “Just Give Me a Reason” by Pink. Yang didapatkan tentunya senang, karena ada yang menonton dan memberikan komentar. Merekapun menikmati lagu itu padahal tidak ada musik pendukungnya. Awal itu menjadi motivasi untuk berekspresi kedepannya. Hingga sampai pada titik keberanian dimana banyak yang menikmati, saya pun semakin rajin membuat cover. Penyemangatnya adalah mereka yang cocok dengan suara saya dan request dari teman-teman.

Sejauh ini cover yang paling banyak ditonton adalah Love Story by Taylor Swif dan Lose by NIKI. Jumlah penontonnya mungkin untuk sebagian orang biasa saja, namun secara pribadi memberikan kesenangan dan semangat. Sekitar empat ribu lebih pendengar yang bersedia memutar untuk mendengarkan kedua lagu itu. Semoga akan ada banyak yang senang dan terwakilkan kebahagiaan dan kesedihannya. Kelak juga berdoa agar lagu yang paling banyak ditonton nantinya ciptaan diri saya pribadi. Aamiin.

Belajar Bernyanyi Secara Mandiri

Menyanyi merupakan bidang yang tidak saya pelajari secara formal dan memiliki system. Karena menyanyi bagaikan menemani diri sendiri ketika tidak ada telinga yang bersedia mendengar. Menyanyi adalah hiburan atau penyembuhan. Secara teknis bernyanyi, saya selalu bernyanyi ketika waktu senggang. Layaknya sebuah hobi. Seperti pagi hari setelah sholat, ngaji, dan baca buku, selalu disempatkan untuk bermain gitar dan bernyanyi seru-seruan sendiri. Karena jika bernyanyi tanpa kewajiban sebagai muslim dijalankan, saya akan kena teriakan dari ibu saya, yup dimarahin. Atau waktu luang di malam hari setelah selesai belajar. Otak yang penuh dan panas akan reda apabila saya menyanyi walaupun sepenggal. Karena sebagai perantau, ada rumah di Cilegon dan kos di Jogja. Hanya dua tempat itu sebagai tempat untuk saya latihan bernyanyi. Tidak ada guru les, tidak ada organisasi, tidak ada wadah lain yang belum saya punya, karena itu dua tempat nyaman itulah yang menjadi wadah saya berkreasi.

Saya belajar bernyanyi sejak umur 3 tahun, namun tentunya hanya bernyanyi seperti anak kecil. belum paham bahwa menyanyi yang paling penting adalah nyaman didengar. Suara saya pun kacau, seperti memekik telinga. Pada saat itu, lagunya pun sebatas lagu sehari-hari. Seperti menyanyi religi seperti sholawat nabi. Karena rumah saya yang sangat dekat dengan masjid. Setiap sore disuguhkan sholawat dari anak lelaki yang lantang, atau lagu penyanyi cilik Tina Toon, Joshua, dan sebagainya.

Umur 5 tahun, saya mengenal lagu bahasa Inggris dengan judul The Lazy Song by Bruno Mars. Kepopulerannya saat itu sudah tidak diragukan, video clip lagunya sangat lucu dan ceria. Pertama saya hanya bisa mengikuti nada dari lagunya saja, belum bisa mengucapkan lirik dengan benar apalagi mengetahui teknis bernyanyi. Jadi dapat dikatakan saya paham bernyanyi ketika masuk SD, mulai dari bernyanyi di kegiatan sekolah, serta kompetisi bernyanyi yang diadakan didalam dan luar sekolah. Berlanjut SMP, SMA, dan hingga sekarang kuliah.

Sampai detik ini prestasi yang saya raih hanya beberapa. Karena saya bukan kompetitor dibidang nyanyi dan sepertinya banyak kalah dibanding mendapatkan juara. Sejak SD mengikuti lomba saya belum bisa menyentuh perhatian juri dengan suguhan yang hebat ataupun menarik. SMP pun begitu, tidak ada juara yang saya raih, bukan hanya bernyanyi, bidang lain pun seperti menari, akademik, MTQ semuanya kalah. Hanya satu bidang yang berhasil saya gapai sejak TK yaitu di bidang menggambar. Walaupun bukan tingkat Nasional. Gambar sayapun ada di koran ketika SMP, senang rasanya kala itu.

Kesempatan dimulai ketika memasuki SMA, mengikuti beberapa kompetisi mulai dari solo vocal hingga band, dan membuat acapella. Saya meraih juara 1 solo vocal tingkat sekolah dan luar sekolah. Begitupun bidang lainnya, saya  meraih juara 3 di bidang menari dan ajang kecil-kecil lainnya. Dari peluang itu saya sering mengisi acara di sekolah dan menghibur ibu bapak guru serta warga sekolah di kelas apabila ada kesempatan yang diminta.

Setelah lulus SMA, saya memutuskan untuk kuliah di Yogyakarta walaupun jauh dari sanak saudara dan tidak ada kawan disana, entah apa alasannya, hanya karena saya ingin berkelana jauh dari rumah mencari jalan saya sendiri. Cukup beresiko. Di perkuliahan tentu tidak semata langsung berani mengikuti kompetisi. Perlahan saya hanya gemar cover lagu di laman media sosial, hingga suatu kesempatan baik terlewatkan karena telat mendaftar. Tidak putus semangat, saya menunggu kesempatan lain dan mulai mengikuti acara demi acara kampus. Sampai pada kesempatan meraih juara PEKSIMINAS atau Pekan Seni Mahasiswa Nasional. Walaupun hanya juara harapan 1 saya masih terus melangkah ke berbagai bidang lain. Hingga saat acara Jurusan FKIP GOT talent saya ada di poisisi satu dengan bernyanyi. Saya mendapatkan predikat Favorite Winner dalam ajang EVA ECHA atau English Vagansa and Edsa Champion. Serta kompetisi kecil lainnya di luar kampus yang saya raih. Ada pencapaian menarik yang luar biasa sangat bahagia ketika saya masuk sebagai bagian dari Global Singalong for Around the World. Bersama penyanyi besar dari dalam negeri dan luar negeri yang diselenggarakan oleh 88rising.

Prestasi bukanlah ajang untuk berlomba-lomba siapa yang terhebat, namun sebagai pembuktian diri karena melawan rasa takut dalam mengembangkan potensi. Sukses, menang atau kalah, bukan bagian yang patut dibanggakan jika rasa puas dan enggan belajar terbersit dihati manusianya. Jadikan hal itu sebagai motivasi dan semangat membangkitkan semangat orang lain dengan contoh yang positif. Karena prestasi sesungguhnya adalah keluar dari lingkaran negatif diri sendiri dan berdampak baik untuk sesama pribadi.

Cita-cita   

Memiliki cita-cita akan menjadi angan apabila hanya harapan tanpa tindakan. Bukan berarti kita dilarang bermimpi, ada baiknya jadikan mimpimu sebagai rencana bukan ucapan semata. Saya bukan gadis pemberani sejak awal, pun sampai saat ini. Banyak mimpi yang harus dibuktikan, banyak harapan yang didoakan, dan banyak tindakan yang harus berani digerakkan. Cita-cita saya dari kecil berkecimpung di bidang entertaiment, seperti menjadi penyanyi, speaker, artis, komposer, mentor dll. Bukan hanya itu, saya juga tertarik di bidang kesenian, pendidikan, bahasa, geografi dan lingkungan alam dan sosial. Cita-cita demi cita-cita saya ukir untuk masing-masing bidang, karena kita tidak tahu dimana sebenarnya Sang Kuasa menempatkan bukan? Maka dari itu, harus diri kita yang menggali perlahan. Mulai dari cita-cita shorterm hingga longterm. Menjadi dosen adalah impian saya sejak SMP, diikuti impian menjadi penyanyi dengan lagu sendiri, seorang poet, pemain film, pebisnis, pembicara. Cita-cita tertinggi yang entah akan sampai, tapi saya yakin jika ada usaha dan doa serta sang kuasa memberi keberuntungan. Saya ingin berdiri di depan ribuan orang di panggung TED TALKS, menjadi pencerita membawakan speech.

Cita-cita longterm adalah membangun sebuah sekolah musik, pesantren dan sekolah berbasis bahasa Inggris dengan tidak melupakan bahasa ibu. Sangat beresiko memang. Karena kesuksesan sesungguhnya adalah ketika kita berhasil mencapai tujuan kita dan bisa membantu orang lain mencapai tujuan mereka.

Kuliah di UAD adalah Anugerah

Menjadi bagian dari kampus hebat di Yogyakarta yaitu Universitas Ahmad Dahlan, merupakan anugrah. Karena disana kita akan mendapatkan support dari berbagai pihak jika memang yang dilakukan positif. Sebagai bagian dari keluarga Prodi Pendidikan Bahasa Inggris, tidak sedikit dari pihak yang dengan senang hati mendukung, mulai teman-teman prodi, jurusan, kampus, hingga staff dan yang terhormat bapak ibu dosen. Dengan kegiatan positif yang diadakan, hal itu merupakan dukungan atas kreativitas mahasiswa agar terus berkarya. Siapa lagi jika bukan mereka, mahasiswa yang saling support untuk mahasiswa lainnya.

Saya merasakan sendiri ketika mereka memberi saran dan support atas apa yang akan saya lakukan. Contoh ketika saya hendak mengikuti kompetisi pidato virtual, bapak ibu dosen bersedia membimbing dan merevisi naskah saya. Bukan hanya itu, kompetisi lain dalam bernyanyi pun yang bahkan bukan tentang akademik, mereka hadir untuk mendukung agar hasilnya yang lebih maksimal. Kekuatan motivasi dari keluarga, teman-teman, guru, dosen, dan lainnya merupakan hal berharga. Karena merekalah setiap hal positif yang dikerjakan mendapat hasil yang patut dibanggakan.

Prinsip Hidup

Saya selaku wanita muda berusia 20 tahun, memiliki banyak rintangan sama seperti para pembaca disini. Dibully secara halus, insecure, tidak percaya diri, takut dan gagal sebab lain hal, sudah dirasakan dan hal itu akan terus mengiringi hidup manusia hingga tua. Hidup adalah bukan tentang kesenangan namun kebermaknaan. Bagaimana hidup kita meaningfull untuk diri sendiri dan orang lain. Manusia hanya dititipkan di dunia, dan akan kembali di alam sana. Oleh karena itu, isi hidup kita dengan hal positif agar kelak Tuhan bangga dan kita diberi pahala untuk bekal ke surga. Sebagai anak muda, aku, kamu, dan kitalah jejak untuk di kemudian hari. Jangan mau kalah dengan para orang besar dan berpengaruh di dunia. Karena kita bisa menjadi bagian untuk menggerakkan dunia melalui hal kecil di sekitar kita. Prestasi hanya predikat, label sebagai “Pemberi Manfaat untuk Orang Lain” melalui hal positif lebih hebat dan keren daripada bersenang-senang merugikan orang lain.

Tidak salah jika bahagia, namun ingat satu hal. Kita manusia hanya dititipkan bukan penguasa. Jadilah pemuda, pemudi, dan pemeran dalam gerakan positif untuk sesama. Jadikan kebaikanmu sebagai kekuatan bangkit orang lain. Tetap salurkan energi positif, dan jangan lupakan hakikat kita sebagai khalifah dengan mengedepankan attitude bermoral dan bersinergi. Dibalik apa yang kita tidak lihat, banyak hal luar bisa yang bisa digali, termasuk potensimu kini. Jangan karena orang lain berhasil di satu bidang, kita berkecil hati. Tuhan menetapkan jalan berbeda pada setiap tujuan. Bukan berarti pintu satu tertutup tidak ada jendela. Jika jendela itu terkunci, temukan cara lain. Jika belum berhasil, panjat dindingnya lalu angkat penutup atapnya. Akan ada jalan bagi manusia yang berusaha, tapi jangan lupa kepada Sang Pencipta untuk tetap berdoa dan beribadah kepada-Nya. []


*)Mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Ahmad Dahlan

Comment

Your email address will not be published

There are no comments here yet
Be the first to comment here