Islam

Islam

MediaMU.COM

Apr 22, 2024
Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Penyakit Jiwa

Oleh: Rahmadi Wibowo Suwarno

 حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ جَعْفَرٍ عَنْ عَمْرِو بْنِ أَبِي عَمْرٍو أَنَّهُ سَمِعَ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِأَبِي طَلْحَةَ الْتَمِسْ غُلَامًا مِنْ غِلْمَانِكُمْ يَخْدُمُنِي فَخَرَجَ بِي أَبُو طَلْحَةَ يُرْدِفُنِي وَرَاءَهُ فَكُنْتُ أَخْدُمُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلَّمَا نَزَلَ فَكُنْتُ أَسْمَعُهُ يُكْثِرُ أَنْ يَقُولَ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْبُخْلِ وَالْجُبْنِ وَضَلَعِ الدَّيْنِ وَغَلَبَةِ الرِّجَالِ (رواه البخارى)

Menceritakan kepada kami Qutaibah, Menceritakan kepada kami Ismail ibn Ja’far dari ‘Amru ibn Abi ‘Amru maula bahwasanya dia mendengan Anas bin Malik bahwa Nabi saw bersabda kepada Abu Thalhah: Carilah seorang ghulam (anak kecil) dari ghulam milikmu untuk melayaniku selama keberangkatan ke Khaibar. Maka Abu Thalhah keluar bersamaku dengan memboncengku. Saat itu aku adalah seorang anak kecil yang hampir baligh. Aku melayani Rasulullah saw saat beliau singgah dan aku selalu mendengar Nabi banyak berdo’a: Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari sifat (jiwa) gelisah/ragu-ragu, sedih, lemah, malas, kikir, pengecut, (perasaan) terlilit hutang dan (perasaan) dikuasai manusia. (HR. al-Bukhari)

Hadis diatas diriwayatkan al-Bukhari nomor hadis 5425 dan hadis yang semakna juga diriwayatkan oleh Abu Daud nomor hadis 1543, an-Nasai nomor 5453, at-Tirmidzi nomor 3484, Abu Ya’la nomo hadis 3700,Ahmad ibn Hanbal nomor hadis 13365.

Allah swt menganugerahkan jiwa kepada manusia yang nilannya tak terhingga. Manusia dengan jiwanya dapat merasakan suka, duka, bahagia, derita, kecewa dan bangga. Dengan jiwa, manusia dapat merasakan kasih sayang antar manusia. Dengan jiwa juga manusia dapat membuat kehidupan ini penuh dengan kedamaian dan kasih sayang. Jiwa adalah keajaiban yang datang dari Allah yang senantiasa menuntun manusia pada cahaya, cahaya kebenaran. Melalui petunjuk Nabi saw jiwa manusia dapat sehat dan sakit. Berikut ini penjelasan hadis Nabi saw tentang 8 penyakit jiwa.

  1. Al-Hamm (Gelisah/Ragu-Ragu)

Gelisah diartikan sebagai tidak tenteram, selalu merasa khawatir, tidak tenang, tidak sabar lagi dalam menanti dan cemas. Gelisah timbul karena banyak sebab, misalnya kurang percaya diri, orang yang sehabis berbohong, demam panggung, rasa bersalah terhadap suatu hal atau kepada orang lain.

Sigmund Freud seorang ahli psikoanalisa menyebutkan bahwa kegelisahan merupakan ekspresi dari kecemasan yang mendalam. Penyebab kegelisahan dikarenakan takut kehilangan hak-haknya, baik secara materi maupun non materi. Misalnya karena takut secara materi seperti takut kehilangan harta dan jabatan, atau takut karena kesulitan ekonomi. Sedangkan misal dari non materi seperti takut kehilangan popularitas, takut terhadap penyakit yang lama, kesulitan mendapatkan pasangan hidup yang ideal, takut kehilangan pasangan hidup termasuk takut tidak selamat di hari akhir.

Agar jiwa tidak gelisah dituntunkan untuk selalu berbuat kebaikan, diantaranya jujur dalam setiap ucapan dan tindakan. Imam an-Nawawi menyebutkan bahwa perbuatan dosa dosa selalu menggelisahkan dan tidak menenangkan bagi jiwa. Dalam hadis disebutkan da’ ma yaribuka ilam ma la yaribuka, fainna shidqa thuma’ninatun wa inna al-kadziba ribatun, artinya tinggalkanlah yang meragukanmu dan beralihlah pada apa yang tidak meragukanmu. Sesungguhnya kejujuran lebih menenangkan jiwa, sedangkan dusta (menipu) akan menggelisahkan jiwa. Di hati pun akan tampak tidak tenang dan selalu khawatir akan dosa. Semua perbuatan dosa selalu menggelisahkan jiwa. Menipu, mencuri, curang, korupsi termasuk syirik akan mendatangkan kegelisahan.

  1. Al-Hazan (Sedih)

Sedih dapat terjadi pada diri seseorang akibat masa lalu yang buruk menimpanya. Seperi terkena musibah, kecelakaan dan ditinggal orang yang disayangi. Penyebab kesedihan adalah masa lalu. Sedih dalam pandangan Islam tidak terlarang karena bagian dari naluri manusia. Bahkan kesedihan dalam arti setelah melakukan dosa merupakan hal terpuji. Nabi dalam sabdanya menyebut man sarathu khasanatuhu wa sa’at sayyiatuhu fa anta mu’min, artinya arangsiapa yang merasa bergembira karena amal kebaikannya dan sedih karena amal keburukannya, maka ia adalah seorang yang beriman” (HR. Tirmidzi). Kesedihan yang dilarang adalah kesedihan yang berlarut-larut, membuat hati lemah, rasa optimis hilang dan menghancurkan harapan. Kesedihan itu membawa keputusasaan dan membenci Allah. Sehingga setan mendorong melakukan hal-hal yang dilarang dalam agama. Allah berfirman,

إِنَّمَا النَّجْوَى مِنَ الشَّيْطَانِ لِيَحْزُنَ الَّذِينَ آمَنُوا وَلَيْسَ بِضَارِّهِمْ شَيْئًا إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ

Artinya, “Sesungguhnya pembicaraan bisik-bisik itu hanyalah dorongan dari setan. Supaya menjadikan hati orang-orang beriman sedih. Padahal pembicaraan rahasia untuk menggunjing tidak akan merugikan orang-orang beriman sedikitpun, kecuali dengan kehendak Allah. Hanya kepada Allah-lah hendaknya orang-orang yang beriman bertawakkal”. (QS. Al-Mujadilah: 10).

Cara untuk mengatasi kesedihan diantaranya dengan meyakini bahwa Allah bersama kita. Meyakini masalah sebasar apapun yang dihadapi manusia, Allah selalu mengawasi, memberikan kasih sayang melalui nikmat-nikmat yang diberikan. Cara kedua meredakan rasa kesedihan dengan meyakini bahwa kehidupan di dunia adalah sementara dan tidak kekal. Nasihat kaum sufi mengajarkan letakkan dunia dalam genggaman, bukan dihati. Kehidupan yang kekal dan selamanya adalah akhirat. Cara ketiga  yaitu dengan melihat kebawah keduaniawian yang dimiliki orang lain. Pasti disadari banyak  banyak orang yang kurang beruntung baik secara ekonomi maupun fisik. Cara terkhir supaya sedih tidak berlarut dengan sabar dan shalat sebagia penolong. Allah berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar (QS. Al-Baqarah: 153). Allah memerintahkan supaya mengedepankan sifat sabar dan konsiten melaksanakan shalat.

  1. Al-‘Ajz (Lemah)

Lemah disini diartikan dengan  tidak melakukan perbuatan yang seharusnya dilakukan namun menunda-nunda waktu. Menunda berarti menangguhkan suatu urusan untuk sementara waktu, dengan jaminan akan mengerjakanya di waktu yang lain. Lemah disini bersifat umum meliputi urusan dunia dan agama. Lawan katanya adalah al-hazm yaitu bertekad atau berkemauan keras. Sifat lemah diartikan pula sebagai tidak adanya kemampuan diri untuk mengerjakan sesuatu walau sebenarnya dia punya kemauan. Lemah disini dapat pula diartikan  melakukan perbuatan tidak tuntas hingga selesai. Dalam hadis yang diriwayatkan Muslim disebutkan,

الْمُؤْمِنُ الْقَوِىُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِى كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَىْءٌ فَلاَ تَقُلْ لَوْ أَنِّى فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا. وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ

Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah. Namun, keduanya tetap memiliki kebaikan. Bersemangatlah atas hal-hal yang bermanfaat bagimu. Minta tolonglah pada Allah, jangan engkau lemah. Jika engkau tertimpa suatu musibah, maka janganlah engkau katakan: ‘Seandainya aku lakukan demikian dan demikian.’ Akan tetapi hendaklah kau katakan: ‘Ini sudah jadi takdir Allah. Setiap apa yang telah Dia kehendaki pasti terjadi.’ Karena perkataan law (seandainya) dapat membuka pintu setan.”

Setiap muslim dituntut untuk kuat keimanannya. Kuat iman yang berarti mampu melaksanakan kewajiban dan meninggalkan yang diharamkan. Selain itu juga terus melakukan amalan tersebut hingga selesai, tidak menunda-nunda, dan tidak membiarkan pekerjaan terlalaikan begitu saja. Ibnu ‘Atha mengungkapkan, “Sesungguhnya pada setiap waktu yang datang, maka bagi Allah atas dirimu kewajiban yang baru. Bagaimana kamu akan mengerjakan kewajiban yang lain, padahal ada hak Allah di dalamnya yang belum kamu laksanakan!”

Nabi memohon perlindungan dari sifat menunda pekerjaan dikarenakan dampaknya dapat menghilangkan peluang-peluang akhirnya muncul rasa kesedihan dan penyesalan. Rasulullah juga bersabda berkaitan dengan pentingnya mempersegerakan suatu urusan, sabdanya “bersegeralah melakukan perbuatan baik, karena akan terjadi fitnah laksana sepotong malam yang gelap.” (HR. Muslim). Selain itu Ibnu umar berkata, “bila engkau berada di sore hari, maka jangan menunggu datangnya pagi, dan bila engkau di pagi hari, maka janganlah menunggu datangnya sore.” Manfaatkan waktu sehatmu sebelum sakitmu, dan waktu hidupmu sebelum matimu.

  1. al-Kasal (Malas)

al-Kasal ( malas ) adalah tidak adanya kemauan untuk melakukan pekerjaan, walaupun sebenarnya dia mampu. Definisi lain disebutkan bahwa malas adalah merasa berat untuk mengerjakan sesuatu dan berhenti dari menyempurnakan sesuatu. Raghib al-Ashfahani mengatakan, malas adalah merasa berat dalam suatu urusan yang seharusnya tidak perlu merasa berat. Terdapat tiga alasan kenapa Islam mencela sifat malas. Pertama, jiwa menjadi buruk. Imam Bukhari meriwayatkan bahwa Nabi saw bersabda,

فَإِنْ اسْتَيْقَظَ فَذَكَرَ اللَّهَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَإِنْ تَوَضَّأَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَإِنْ صَلَّى انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَأَصْبَحَ نَشِيطًا طَيِّبَ النَّفْسِ وَإِلَّا أَصْبَحَ خَبِيثَ النَّفْسِ كَسْلَانَ

Apabila seorang hamba bangun malam, kemudian berdzikir kepada Allah, terlepaslah satu ikatan. Apabila dia berwudhu, terlepaslah satu ikatan lagi. Jika dia shalat, maka akan terlepas seluruh ikatan. Maka pagi harinya jiwanya akan semangat dan bagus. Jika tidak bangun (malam), jadilah jiwanya jelek dan malas. Kedua, malas merupak sifat orang munafik. Allah berfirman,

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَى يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا

Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka . Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya [dengan shalat] di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali. (QS. An-Nisa’: 142). Ketiga, malas mendatangkan penyesalan. Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam kitab Miftah Dar as-Sa’adah menyebutkan malas akan melahirkan sifat menyia-nyiakan waktu, berlebihan, tidak mendapat apa pun, dan penyesalan yang sangat parah. Dengan malas orang akan menafikan sifat keinginan dan kekuatan yang keduanya merupakan buah dari ilmu. Apabila seseorang mengetahui bahwa kesempurnaan dan kenikmatannya pada sesuatu maka ia akan mencari dengan usaha dan keinginan yang kuat. Karena setiap orang akan selalu berusaha untuk menggapai  kesempurnaan diri dan kelezatannya.

Diantara sebab seseorang malas adalah terlalu banyak tidur dan angan-angan kosong. Banyak tidur membuat hati menjadi keruh.  Jiwanya akan merasa tidak punya semangat untuk berbuat kebaikan dalam memanfaatkan waktunya. Allah memerintahkan pada malam hari tidak seutuhnya digunakan untuk tidur, tetapi juga digunakan untuk beribadah. Firmanya,

يَا أَيُّهَا الْمُزَّمِّلُ  قُمِ اللَّيْلَ إِلَّا قَلِيلًا  نِصْفَهُ أَوِ انْقُصْ مِنْهُ قَلِيلًا  . . . إِنَّ رَبَّكَ يَعْلَمُ أَنَّكَ تَقُومُ أَدْنَى مِنْ ثُلُثَيِ اللَّيْلِ وَنِصْفَهُ وَثُلُثَهُ وَطَائِفَةٌ مِنَ الَّذِينَ مَعَكَ وَاللَّهُ يُقَدِّرُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ

Hai orang yang berselimut (Muhammad(,bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit . . . Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwasanya kamu berdiri (sembahyang) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersama kamu. Dan Allah menetapkan ukuran malam dan siang. (QS. Al-Muzammil: 1-3,20).

Sedangkan angan-angan kosong menjadikan malas, membuang waktu dalam buaian lamunan sehingga sia-sia hidupnya. Berangan-angan kosong merupakan ciri orang kafir serta mendapat kecaman Allah. Allah berfirman,

رُبَمَا يَوَدُّ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْ كَانُوا مُسْلِمِينَ  ذَرْهُمْ يَأْكُلُوا وَيَتَمَتَّعُوا وَيُلْهِهِمُ الْأَمَلُ فَسَوْفَ يَعْلَمُونَ

Orang-orang yang kafir itu seringkali (nanti di akhirat) menginginkan, kiranya mereka dahulu (di dunia) menjadi orang-orang muslim. Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong), maka kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka). (QS. Al-Hirj: 2-3).

Untuk menghilangkan penyakit malas dapat dilakukan dengan memilih pergaulan yang baik. Melalui pergaualn dengan orang orang yang baik maka waktu-waktu dalam hidup seseorang akan selalu diisi dengan hal yang positif. Berteman dengan teman yang rajin dapat mendorong diri untuk meniru dan ikut dalam berbuat baik. Al-Bukhari meriwayatkan hadis Nabi dari Abu Musa,

مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَمَثَلِ صَاحِبِ الْمِسْكِ وَكِيرِ الْحَدَّادِ لَا يَعْدَمُكَ مِنْ صَاحِبِ الْمِسْكِ إِمَّا تَشْتَرِيهِ أَوْ تَجِدُ رِيحَهُ وَكِيرُ الْحَدَّادِ يُحْرِقُ بَدَنَكَ أَوْ ثَوْبَكَ أَوْ تَجِدُ مِنْهُ رِيحًا خَبِيثَةً

Permisah teman duduk yang baik dan teman yang jelek bagaikan penjual minyak wangi dan tukang pandai besi. Penjual minyak wangi, engkau akan membelinya atau engkau mendapat bau wanginya. Adapun tukang pandai besi, dapat membakar rumahmu, bajumu atau engkau mendapat baunya yang tidak enak. Cara lain menghilangkan malas denga mengingat pentingnya waktu. Waktu yang dialami manusia hakikanya tidak berulang. Menyia-yiakan waktu berarti menjadikan hidup tidak berarti.

  1. al-Bukhlu (Kikir)

Kikir dalam Islam merupakan bagian penyakit jiwa dan tercela. Kikir berarti menahan harta dengan tidak menunaikan hak dan kewajiban yang berkaitan dengan harta tersebut. Kikir Al-Quran mengecam sifat kikir dengan menyebut harta yang ditaan tidak akan bermanfaat bagi pemiliknya.

وَأَمَّا مَنْ بَخِلَ وَاسْتَغْنَى وَكَذَّبَ بِالْحُسْنَى فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْعُسْرَى وَمَا يُغْنِي عَنْهُ مَالُهُ إِذَا تَرَدَّى

Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar. Dan hartanya tidak bermanfaat baginya apabila ia telah binasa. (QS. Al-Lail: 8-11)

Sebab munculnya kebakhilan adalah berlebihan cinta harta, harta yang dimiliki merasa miliknya sendiri, ketakutan harta akan hilang, takut miskin dan merasa tidak membutuhkan orang lain. sifat kikir banyak ditemui saat seseorang mimiliki kecukupan harta.

  1. al-Jubnu (Pengecut)

Takut disini diartikan dengan tidak berani menghadapi kenyataan. Dapt pula diartikan dengan pengecut yaitu seseorang yang tidak siap memenuhi tanggung jawab. Jiwa yang terdapat al-Junbu biasanya berperilaku bohong supaya kesalahanya tertutupi dan mencari kambing hitam atau mencari orang lain untuk disalahkan. Akibatnya penyakit al-Junbu ini selalu diliputi perasaan was-was dan ragu dalam berkata dan bertindak, pesimis dalam segala hal, dihantui bayangan kegagalan dan sulit menentukan sikap disaat yang penting karena tidak memiliki keberanian moral.

Untuk menghidari penyakit takut atau pengecut dengan mempersiapkan semua persolan yang akan dihadapi. Ibnu Hazm mengungkapkan “bersiaplah menghadapi sesuatu yang tidak disukai, niscaya berkurang kesedihanmu apabila sesuatu yang tidak kau sukai tersebut datang. Kegembiraanmu semakin besar dan semakin berlipat-ganda apabila datang kepadamu sesuatu yang kau sukai yang mana sebenarnya tidak pernah diperkirakan sebelumnya“.

  1. Dhalu ad-Dain (Perasaan Terlilit Hutang)

Seseorang yang mempunyai hutang pada umumnya jiwa merasa tertekan. Orang yang berhutang dan tidak sanggup membayarnya akan merelakan apa saja yang diperintahkan oleh orang yang memberikan hutang kepadanya asal hutangnya lunas, bahkan kadang rela menjual dirinya dan kehormatannya demi untuk membayar hutang-hutangnya. Hukum berhutang dalam Islam adalah boleh. Berhutang bukanlah suatu perbuatan dosa. Berdosa seseorang jika berhutang tidak menunasinya. Hadis berlindung dari terlilit hutang bertujuan agar hati yang jujur untuk segera melunasi hutang tersebut pada waktu yang telah dijanjikan. Al- Bukhari meriwayatkan hadis, Barang siapa meminjam harta manusia dan dia ingin membayarnya, maka Allah akan membayarkannya. Barang siapa yang meminjamnya dan dia tidak ingin membayarnya, maka Allah akan menghilangkan harta tersebut darinya.

  1. Qahru ar-Rijal (Perasaan Dikuasai Manusia)

Dikuasai manusia artinya seseorang dipengaruhi dan dapat diperintah. Jiwa yang dikuasai jiwanya tidak merdeka, tidak dapt melepaskan dari pengaruh orang lain. Jiwa yang tidak dapat melapaskan dari pengaruh orang disebut dengan jiwa yang kesusahan, dan mereka memprioritaskan orang lain atas diri mereka sendiri sekalipun mereka dalam kesusahan.

Comment

Your email address will not be published

There are no comments here yet
Be the first to comment here