Islam

Islam

MediaMU.COM

Apr 22, 2024
Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Belajar Menjadi Jujur

Kita semua tentu sering dinasehati orangtua ataupun guru untuk menjadi orang yang jujur. Pesan tersebut memang terkesan sederhana, namun memiliki maksud yang sungguh luar biasa. Mengapa sikap jujur begitu penting? Karena kejujuran merupakan kunci atau pangkal dari segala amal baik seseorang. Tanpa sikap jujur, segudang amal kebaikan yang kita lakukan akan terasa sia-sia. Namun sebaliknya, segala amal perbuatan maksiat atau dosa yang disebabkan sifat jujur, akan ditinggalkan.

Sebagaimana Rasulullah Saw. bersabda: “Sesungguhnya kejujuran itu akan mengantarkan (pelakunya) kepada kebajikan dan sesungguhnya kebajikan itu akan mengantarkan (pelakunya) ke surga; dan sesungguhnya seseorang yang benar-benar akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Sesungguhnya dusta itu akan mengantarkan (pelakunya) kepada keburukan dan keburukan itu akan mengantarkan (pelakunya) ke neraka; dan sesungguhnya seseorang yang selalu berdusta akan dicatat di sisi Allah sebagai pendusta”. (HR. Bukhari-Muslim)

Apakah arti jujur? Kejujuran berarti adanya kesesuaian antara perkataan dan perbuatan. Kejujuran berperan besar dalam kehidupan individu dan masyarakat. Kejujuran merupakan keindahan dalam bertutur dan landasan untuk meraih kesuksesan. Oleh karena itu agama Islam sangat mengagungkan kejujuran dan mendorong manusia untuk berkata benar.

Sebagaimana firman Allah SWT dalam al-Qur’an:

“Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan membenarkannya, mereka Itulah orang-orang yang bertakwa. Mereka memperoleh apa yang mereka kehendaki pada sisi Tuhan mereka. Demikianlah balasan orang-orang yang berbuat baik”. (QS. Az-Zumar: 33-34)

Also Read Teladan yang Baik

“Allah berfirman, Inilah hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang berkata  benar dengan kebenaran (yang) mereka (perbuat)”. (QS. Al-Maidah: 119)

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah kalian bersama orang-orang yang benar”. (QS. At-Taubah: 119)

Rasulullah Saw. juga bersabda, “Kejujuran adalah hiasan tutur kata.”

Imam Sadiq berkata, “Janganlah tertipu dengan banyaknya melaksanakan shalat dan puasa. Sesungguhnya shalat dan puasa telah menjadi kebiasaan, yang mana mereka merasa kesepian jika mereka mengabaikannya. Kalian sebaiknya menguji mereka melalui kejujuran mereka dan melalui pemenuhan amanah (yang diberikan kepada mereka)”.

“Amalan-amalan orang yang jujur dapat tumbuh berkembang”.

Hal ini dapat diartikan bahwa amalan-amalan yang jujur berlangsung terus dan ganjaran-ganjaran mereka juga tumbuh berkembang. Dengan demikian, Allah hanya menerima amalan-amalan orang-orang yang saleh. Kejujuran, tentu saja, merupakan salah satu karakteristik kesalehan yang sangat penting.

Terdapat empat tingkat kejujuran, yaitu: pertama, Jujur dalam perkataan pada setiap situasi, baik yang berhubungan dengan masa lalu, kini dan yang akan datang tanpa berbohong atau menyembunyikannya. Kedua, kejujuran dalam niat, yakni berupa pemurnian yang menjurus pada kebaikan. Jika di dalamnya terdapat percampuran lainnya, berarti kejujuran kepada Allah telah sirna. Oleh karena itu, orang yang demikian disebut, “Si jujur bermuka masam, dan si jujur bermuka manis!” Apabila tulus, maka hal itu dikembalikan pada keikhlasan itu sendiri.

Ketiga, kejujuran dalam tekad. Seseorang bisa saja mempunyai tekad yang bulat untuk bersedekah bila dikaruniai rejeki, dan bertekad untuk berbuat adil bila dikaruniai kekuasaan. Adakalanya tekad itu disertai dengan kebimbangan, tapi ada juga yang merupakan kemauan bulat tanpa keragu-raguan. Orang yang memiliki tekad yangbulat lagi kuat disebut sebagai orang yang benar-benar kuat dan jujur.

Keempat, kejujuran dalam tindakan, yaitu tidak mengekspresikan dorongan-dorongan batin, kecuali batin itu sendiri memang demikian adanya. Maksudnya ialah, perlu ada keselarasan dan keseimbangan antara yang lahir dan yang batin.

Rasulullah Saw. telah memerintahkan para sahabatnya untuk bersikap jujur. Ketika Heraclius (raja Romawi) bertanya kepada Abu Sufyan bin Harb yang saat itu masih kafir: “Apa yang diperintahkan Nabi kalian terhadap kalian?” Abu Sufyan menjawab: “Beliau memerintahkan kami untuk jujur”.

Ja’far bin Abu Thalib ra. berkata dihadapan Najasyi (Negus), raja Habasyah (Abesinia): “Rasulullah Saw. memerintahkan kami untuk jujur dalam berbicara dan menyampaikan amanah”.

Seorang Muslim yang jujur adalah seorang pemberani yang tidak pernah merasa takut kepada makhluk lain selain Allah SWT, sedangkan seorang pendusta yang pengecut akan merasa takut kepada manusia. Seorang mukmin yang benar tidak akan pernah menjadi seorang yang pendusta.

Bahkan terkadang orang Muslim mengira bahwa orang lain hanya bisa tertawa bila ia berdusta. Oleh karena itulah, ia menceritakan anekdot yang tidak pernah terjadi. Akan tetapi, Nabi Muhammad saw. mengajari kita bahwa bercanda dan main-main bisa dilakukan sejujurnya, tanpa berbohong.

Rasulullah Saw. pernah bersabda kepada seorang nenek tua: “Sesungguhnya di kedua matamu ada warna putih.” Semula nenek tersebut menjawab: “Tidak, ya Rasulullah.” Nenek itu mengira bahwa Rasulullah mengatakan kepadanya warna putih itu karena penyakitan. Rasulullah kemudian bersabda: “Bukankah di mata masing-masing dari kita ada warna putih dan warna hitamnya?” Nenek itu kemudian tertawa.

Rasulullah Saw. juga pernah berkata kepada seorang nenek lainnya dengan nada bercanda: “Tidak akan masuk surga seorang yang jompo”. Nenek itu pun menangis karena mengira dirinya tidak akan masuk surga. Nabi Saw. kemudian tertawa dan bersabda: “Tidak akan masuk surga orang yang jompo, karena memang Allah akan mengembalikan masa mudanya seperti semula kepada semua penduduk surga.”

Selain itu Rasulullah Saw. juga pernah makan kurma bersama Umar bin Khaththab ra., kemudian Umar mengumpulkan biji kurma yang ia makan di hadapan Rasulullah, kemudian ia bertanya: “Apakah engkau memakan kurma ini semua, ya Rasulullah?” Rasulullah menjawab: “Aku memakan semuanya, kecuali bijinya, sedangkan engkau memakan kurma ini berikut dengan bijinya.” Benarlah apa yang dikatakan oleh Rasulullah tentang dirinya: “Aku tidak mengatakan (sesuatu) selain hanya kebenaran.”

Suatu ketika ada seorang anak kecil yang melakukan pengembaraan untuk mencari ilmu. Kemudian ibunya berkata kepadanya: “Janganlah engkau berdusta, wahai anakku? Sebab kejujuran akan membawa pada keselamatan, meskipun kejujuran itu kelihatannya akan membawa kepada kebinasaan.” Selanjutnya, sang ibu membekalinya dengan uang sebanyak seratus dirham.

Anak itu kemudian berangkat melalui padang pasir. Namun saat berada di tengah perjalanan, ia bertemu dengan para perampok. Mereka menanyai anak itu: “Apakah kamu membawa uang?”

Anak itu menjawab: “Ya, aku membawa seratus dirham.”

Para perampok merasa heran kepada anak itu, sebab setiap orang, jika melihat para perampok, pasti menyembunyikan uang bawaannya dan mengatakan: “Kami tidak membawa uang.”

Para perampok itu kemudian tertawa dan berkata: “Kamu mengolok-olok kami?”

Anak itu menjawab: “Tidak, tapi aku memang membawa uang itu.”

Para perampok itu kemudian membawa si anak kepada pemimpin mereka. Sang pemimpin itu kemudian berkata kepadanya: “Mengapa kamu berdusta dan mengatakan bahwa kamu punya uang seratus dirham.”

Anak itu menjawab: “Aku tidak berdusta kepada kalian. Ini dia uangku.” Si anak mengeluarkan uang seratus dirham.

Sang pemimpin perampok berkata: “Nak, mengapa kamu tidak berdusta?”

Si anak menjawab: “Sesungguhnya ibuku telah berpesan kepadaku agar berkata jujur dan tidak boleh berbohong selamanya. Aku tidak berani melanggar perintah ibuku.”

Sang pemimpin menangis dan berkata: “Kamu merasa takut kalau kamu berdusta ibumu akan marah, sementara aku tidak pernah takut kalau Allah akan murka kepadaku. Wahai Anakku, sungguh kamu telah memberikan suatu pelajaran yang sangat keras kepadaku.”

Pemimpin perampok itu kemudian bertobat kepada Allah, dan para perampok itu pun bertobat bersamanya. Mereka kemudian membiarkan anak itu bersama hartanya. Demikianlah, bahwa sesungguhnya kejujuran itu selalu membawa kepada keselamatan.

Ada cerita lain, pernah ada sejumlah orang zhalim yang mengejar seorang lelaki yang teraniaya. Si teraniaya itu kemudian pergi dan bersembunyi di rumah seorang shalih. Orang-orang zhalim kemudian datang tidak lama setelah lelaki itu, kemudian bertanya kepada orang shalih: “Apakah si Fulan pernah mendatangimu?”

Orang shalih itu menjawab: “Ya, ia sekarang ada di dalam.”

Anehnya, orang-orang yang zhalim itu kemudian pergi meninggalkannya.

Lelaki yang teraniaya itu berkata kepada orang shalih: “Mengapa engkau lakukan itu dan memberitahukan kepada mereka tentang keberadaanku?”

Orang yang shalih menjawab: “Duhani Anakku, sesungguhnya kejujuran akan membawa kepada keselamatan, dan Allah telah menyelamatkanmu karena kejujuranku.”

Pelajaran penting yang dapat diambil dari cerita tersebut ialah: orang yang jujur adalah kekasih Allah SWT, orang yang jujur adalah bagian dari orang-orang yang beriman, katakanlah yang benar sekalipun kebenaran itu pahit, orang yang jujur akan selamat karena kejujurannya, seorang Muslim hanya akan mengatakan kejujuran. Wallahu a’lam.


Oleh    : Eko Harianto*
*Konselor Remaja & Penulis

Comment

Your email address will not be published

There are no comments here yet
Be the first to comment here