Islam

Islam

MediaMU.COM

May 22, 2024
Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Kisah Inspiratif Melalui Surat Al-Ikhlas

Kisah Inspiratif Melalui Surat Al-Ikhlas

MEDIAMU.COM - Surah Al-Ikhlas merupakan firman Allah SWT yang di abadikan di dalam Al-Quran  merupakan surah ke-112 dalam Al Quran. Surah ini terdiri dari 4 ayat dan termasuk kedalam golongan surah makkiyah. Dalam Surah tersebut juga terdapat banyak keangungan yang di berikan oleh Allah SWT. Ada sebuah kisah yang inspratif dari sebuah Surah Al-Ikhlas ini sebagai berikut 

Asbabul Nuzul Surat Al-Ikhlas

Surat Al-Ikhlas adalah surat ke-112 dalam Al-Qur'an yang terdiri dari 4 ayat. Surat ini termasuk dalam kategori surat Makkiyah, yaitu surat yang diturunkan di Makkah sebelum hijrah Nabi Muhammad SAW ke Madinah.

Asbabun nuzul atau sebab-sebab turunnya Surat Al-Ikhlas tidak disebutkan secara spesifik dalam hadis-hadis yang sahih. Namun, para ulama berpendapat bahwa surat ini diturunkan sebagai jawaban atas pertanyaan orang-orang musyrik Makkah yang menanyakan tentang sifat dan keturunan Allah. Mereka bertanya, "Ya Muhammad, gambarkanlah kepada kami Tuhanmu yang kamu ajak kami sembah itu." Sebagai respons, Allah menurunkan Surat Al-Ikhlas yang menjelaskan tentang keesaan, keunikan, dan kesempurnaan Allah, serta menegaskan bahwa Allah tidak beranak dan tidak diperanakkan.

Surat Al-Ikhlas dianggap sebagai intisari aqidah Islam karena mengandung prinsip tauhid yang mendasar, yaitu kepercayaan kepada satu Allah yang tidak memiliki sekutu. Surat ini sering dibaca dalam berbagai ibadah dan doa karena dianggap setara dengan sepertiga Al-Qur'an dalam hal nilai dan maknanya.

Tafsir Surat Al-Ikhlas

Surat Al-Ikhlas merupakan salah satu surat yang paling singkat dalam Al-Qur'an, namun mengandung makna yang sangat dalam tentang konsep tauhid, yaitu keesaan Allah. Ayat pertama, "Qul huwallahu ahad," menegaskan bahwa Allah adalah satu-satunya Tuhan yang tidak ada tandingannya. Kata "Ahad" di sini menunjukkan keunikan dan kesendirian Allah dalam segala aspek.

Ayat kedua, "Allahu samad," menggambarkan bahwa Allah adalah Tuhan yang sempurna, tidak membutuhkan apapun dan segala sesuatu bergantung kepada-Nya. "Samad" mengandung arti bahwa Allah adalah tempat bergantung yang abadi dan tidak terbatas.

Ayat ketiga, "Lam yalid walam yulad," menolak konsep kelahiran atau keturunan bagi Allah, menegaskan bahwa Allah tidak memiliki anak dan tidak pula dilahirkan. Ini menunjukkan keabadian dan kekekalan Allah.

Ayat terakhir, "Walam yakun lahu kufuwan ahad," menegaskan bahwa tidak ada yang setara atau menyerupai Allah. Kata "Kufuwan" menunjukkan bahwa tidak ada sesuatu pun yang dapat dibandingkan dengan Allah dalam segala hal.

Kisah Inspiratif Tentang Ikhlas

Pada suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tengah duduk di pinggiran kota Madinah. Tiba-tiba melintaslah sebuah iring-iringan yang membawa jenazah seorang laki-laki. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lantas bertanya, “Apakah mayat laki-laki itu meninggalkan utang?”  

Para sahabat menjawab, “Betul, laki-laki ini meninggalkan utang sebanyak empat dirham.”   “Shalatkanlah laki-laki itu oleh kalian, karena aku tidak mau menshalati orang yang memiliki utang, lalu meninggal dan belum melunasinya,” tutur Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.  

Tak lama kemudian, turunlah malaikat Jibril dan berkata, “Wahai Muhammad, sesungguhnya Allah titip salam kepadamu dan berpesan, ‘Aku telah mengutus Jibril dalam rupa manusia dan melunasi utang laki-laki itu.’ Maka bangkitlah engkau dan shalatkanlah jenazah itu. Sebab, ia telah diampuni Allah dan Dia juga menyampaikan, siapa saja yang menshalati jenazah tersebut, maka dia juga turut diampuni.”

Penasaran terhadap alasannya, Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam pun bertanya kepada malaikat Jibril, “Wahai saudaraku Jibril, dari manakah kemuliaan laki-laki yang meninggal itu?”  

Malaikat menjelaskan, “Berkat membaca Surat al-Ikhlas setiap hari sebanyak seratus kali. Pasalnya, di dalam surat itu terdapat penjelasan sifat-sifat Allah dan pujian kepada-Nya. Dan siapa saja yang membaca Surat al-Ikhlas satu kali seumur hidupnya, maka dia tidak akan keluar dari dunia ini (meninggal), kecuali telah melihat tempatnya di surga. Khususnya, siapa saja yang membaca surat ini dalam shalat lima waktu sebanyak beberapa kali, maka pada hari Kiamat akan diberi syafaat, bahkan diberi kesempatan untuk memberikan syafaat kepada kerabatnya yang telah divonis masuk neraka.” (Lihat: Syekh Muhammad Abu Bakar, Mawa‘izh al-‘Ushfuriyyah, [Surabaya: Maktabah Muhammad ibn Ahmad Nabhan], hal. 20)

Kedudukan dan Keutamaan Surat Al-Ikhlas

Keutamaan membaca Surat Al-Ikhlas dalam ibadah dan kehidupan sehari-hari

Surat Al-Ikhlas memiliki keutamaan yang besar dalam Islam, terutama karena esensinya yang mengajarkan tauhid yang murni. Membaca Surat Al-Ikhlas dalam ibadah, seperti dalam sholat dan dzikir, merupakan sarana untuk mengingatkan diri akan keesaan Allah dan memurnikan niat hanya untuk-Nya. Dalam kehidupan sehari-hari, Surat Al-Ikhlas dapat menjadi pelindung dari segala bentuk syirik dan kebatilan. Rasulullah SAW bersabda bahwa membaca Surat Al-Ikhlas tiga kali setara dengan membaca seluruh Al-Qur'an, menunjukkan betapa besar pahala dan manfaat yang terkandung di dalamnya.

Kisah-kisah tentang keajaiban dan keberkahan Surat Al-Ikhlas

Salah satu kisah keajaiban Surat Al-Ikhlas terjadi pada zaman Rasulullah SAW. Seorang sahabat bernama Abu Said al-Khudri meriwayatkan bahwa ada sekelompok sahabat yang pernah berhenti di suatu tempat saat dalam perjalanan. Di tempat itu, mereka bertemu dengan seorang pemimpin suku yang telah digigit oleh seekor ular berbisa. Mereka membacakan Surat Al-Ikhlas dan beberapa ayat Al-Qur'an lainnya sebagai ruqyah, dan dengan izin Allah, pemimpin suku tersebut sembuh. Kisah ini menunjukkan keberkahan dan kekuatan Surat Al-Ikhlas dalam memberikan perlindungan dan kesembuhan.

Dari kisah Inspiratif di atas dipetik beberapa makna yang bisa di implementasikan dalam hidup. betapa mulia dan istimewanya Surat al-Ikhlas, sehinggga orang yang rutin membacanya seratus kali setiap hari, diampuni dosanya; siapa saja yang membacanya walau satu kali dalam hidupnya, maka dia tidak meninggal sampai diperlihatkan kepada tempatnya di surga kelak; siapa saja yang membacanya dalam shalat lima waktu, maka dia tidak akan diberikan syafaat dan juga diberi kesempatan untuk mensyafaati kerabatnya yang telah ditetapkan masuk neraka.

 

Comment

Your email address will not be published

There are no comments here yet
Be the first to comment here