Islam

Islam

MediaMU.COM

Apr 22, 2024
Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Tafwidh, Ilmu yang Sering Disalah Artikan

Tafwidh, Ilmu yang Sering Disalah Artikan

MEDIAMU.COM - Tafwidh merupakan ilmu yang didasari oleh dalil-dalil Nash yang memiliki kerawanan untuk di salah artikan. Akibat rawan ini bisa menjadikan sebuah kekeliruan yang sangat dalam yang membuat orang menjadi salah paham.

Pengertian Tafwidh

Tafwidh adalah konsep dalam Islam yang mengacu pada penyerahan pemahaman makna sifat-sifat Allah kepada Allah sendiri. Ini berarti bahwa manusia tidak mencoba untuk menginterpretasikan atau membayangkan bagaimana sifat-sifat tersebut, tetapi meyakini keberadaannya tanpa batasan pemahaman manusia. Konsep Tafwidh mengajarkan umat Islam untuk menerima ayat-ayat Al-Qur'an dan hadits yang berkaitan dengan sifat-sifat Allah dengan keyakinan penuh, tanpa mencoba untuk menggambarkan atau membatasi mereka dengan logika atau akal manusia.

Kata "Tafwidh" berasal dari bahasa Arab, yang berarti "penyerahan" atau "pengalihan." Dalam konteks keagamaan, Tafwidh digunakan untuk menunjukkan penyerahan pemahaman sifat-sifat Allah kepada Allah sendiri. Ini adalah pendekatan yang diambil oleh sebagian besar ulama untuk menghindari kesalahan interpretasi dan menjaga kesucian aqidah Islam. Tafwidh memainkan peran penting dalam pemahaman teologis Islam, terutama dalam kajian ilmu kalam dan aqidah, untuk menjaga keagungan dan keunikan Allah dari pemahaman terbatas manusia.

Landasan Teologis Tafwidh

Dalam Al-Qur'an, terdapat banyak ayat yang menunjukkan pentingnya Tafwidh, seperti Surah Al-Imran ayat 7 yang menyebutkan tentang ayat-ayat mutasyabihat yang maknanya hanya diketahui oleh Allah. Hadits juga mendukung konsep Tafwidh, seperti hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, dimana Nabi Muhammad SAW mengajarkan umatnya untuk menghindari mendalami sifat-sifat Allah yang tidak terjangkau oleh akal manusia.

Para ulama memiliki pandangan yang beragam tentang Tafwidh. Sebagian besar ulama Ahlus Sunnah, seperti Imam Ash'ari dan Imam Maturidi, menganut pendekatan Tafwidh dalam memahami sifat-sifat Allah. Mereka percaya bahwa sifat-sifat Allah tidak dapat dipahami sepenuhnya oleh akal manusia, sehingga lebih baik menyerahkan pemahaman tersebut kepada Allah. Ulama lain, seperti Ibnu Taimiyah, mengambil pendekatan yang sedikit berbeda, dengan menyatakan bahwa sifat-sifat Allah dapat dipahami sesuai dengan makna bahasa Arabnya, namun tanpa menyerupai makhluk.

Contoh dalil Nash sebagai berikut ; 

وَيَبْقَىٰ وَجْهُ رَبِّكَ ذُو ٱلْجَلَٰلِ وَٱلْإِكْرَامِ

Artinya, “Dan kekal ‘wajah’ Tuhan Pemeliharamu, Pemilik keagungan dan kemuliaan.” (QS Ar Rahmaan: 27)

Dan dalil selanjutnya berbunyi :

إِنَّ ٱلَّذِينَ يُبَايِعُونَكَ إِنَّمَا يُبَايِعُونَ ٱللَّهَ يَدُ ٱللَّهِ فَوْقَ أَيْدِيهِمْ ۚ 

 Artinya, “Sesungguhnya orang-orang yang berjanji setia kepadamu (Nabi Muhammad saw), sebenarnya mereka berjanji setia kepada Allah. ‘Tangan’ Allah di atas tangan mereka.” (QS Al Fath: 10).

Dari dalil di atas bisa saja orang akan berkesimpulan bahwa Allah memiliki wajah dan rupa seperti manusia. Hal ini yang menjadi kan orang menjadi keliru dalam penafsiran yang tidak sejalan dengan ahlussunah wa jamaah.

Tentu saja narasi semacam ini bermula dari ketidaktahuan tentang cara bersikap yang benar sesuai ajaran para ulama ketika dihadapkan pada dalil-dalil seperti di atas.   

Tafwidh menurut Ulama Ahlussunnah wal Jamaah didefinisikan sebagai pengalihan arti suatu kata dari makna harfiahnya dan mengarahkannya pada makna lain. Sedangkan tafwidh adalah menyerahkan sepenuhnya makna suatu kata kepada Allah swt. dengan tetap memalingkannya dari makna harfiahnya.  

Dalam contoh di atas, para ulama pentakwil akan menjelaskan bahwa maksud dari “tangan Allah” bukan anggota badan dari siku sampai ke ujung jari, melainkan kekuasaan. Sementara ulama pentafwidh juga akan berkata, maksud dari “tangan Allah” bukan anggota badan. Lalu apa maksudnya? Kita tidak tahu dan memasrahkan maksud sebenarnya kepada Allah swt.

 Syekh Ibrahim Al-Bajuri berkata dalam Hasyiyah-nya: 

وَالْحَاصِلُ أَنَّهُ إذَا وَرَدَ فِي الْقُرْآنِ أَوْ السُّنَّةِ مَا يُشْعِرُ بِإِثْبَاتِ الْجِهَةِ أَوِ الْجِسْمِيَّة أَوِ الصُّورَةِ أَوِ الْجَوَارِح، اتَّفَقَ أَهْلُ الْحَقِّ وَغَيْرُهُمْ مَا عَدَا الْمُجَسِّمَة وَالْمُشَبِّهَة عَلَى تَأْوِيلِ ذَلِكَ؛ لِوُجُوب تَنْزِيهُهُ تَعَالَى عَمَّا دَلَّ عَلَيْهِ مَا ذُكِرَ بِحَسَبِ ظَاهِرِهِ

Artinya, “Kesimpulannya adalah jika ada teks dalam Al-Qur’an atau As-Sunnah yang mengindikasikan penetapan arah, fisik, atau rupa, atau anggota badan (pada Allah swt), maka para para ulama, baik Ahussunnah wal Jamaah maupun selainnya—kecuali Mujassimah dan Musyabbihah atau kelompok yang menyerupakan (Allah dan makhluk-Nya), sepakat atas interpretasi itu (ta’wil ijmali), karena Allah swt Mahasuci dari apa yang ditunjukkan oleh lahiriah teks dalil-dalil tersebut.” (Al-Baijuri, Tuḥfatul Murid, halaman 156).

Tafwidh dan Sifat-sifat Allah

Konsep Tafwidh dalam Islam mengajarkan penyerahan pemahaman sifat-sifat Allah kepada Allah sendiri. Ini berarti, ketika kita dihadapkan pada ayat-ayat Al-Qur'an atau hadits yang menjelaskan atribut Allah, kita menerima keberadaan sifat tersebut tanpa mencoba membayangkan atau membatasi mereka dengan pemahaman manusia.

Tafwidh menghindari interpretasi yang salah atau antropomorfisme, yang merupakan pemberian sifat manusia kepada Allah. Dengan demikian, Tafwidh memelihara kemurnian aqidah dan menghormati keagungan serta keunikan Allah, mengakui bahwa pemahaman manusia terbatas dan tidak dapat sepenuhnya memahami hakikat Allah.

Pentingnya Tafwidh dalam Aqidah Islam

Dalam memahami sifat-sifat Allah, konsep Tafwidh memainkan peran penting dalam menghindari antropomorfisme, yakni pengaitan sifat manusia kepada Allah, dan kesesatan dalam pemahaman aqidah. Tafwidh menekankan pentingnya menyerahkan pemahaman sifat-sifat ilahi kepada Allah sendiri, tanpa mencoba membayangkan atau membatasi dengan akal manusia.

Pendekatan ini membantu menjaga kemurnian pemahaman tentang keesaan dan keunikan Allah, serta menghindari interpretasi yang salah yang dapat menyesatkan umat Islam dalam memahami aqidahnya. Dengan demikian, Tafwidh berperan sebagai pengaman dalam menjaga kesucian pemahaman tentang Allah dalam Islam.

Menjaga kesucian aqidah dari pemahaman yang keliru

Dalam konteks Tafwidh, menjaga kesucian aqidah Islam berarti menghindari pemahaman yang keliru tentang sifat-sifat Allah. Tafwidh membantu umat Islam memelihara kepercayaan yang murni dengan menyerahkan makna sifat-sifat Allah kepada-Nya, tanpa mencoba membatasi atau menggambarkan dengan pemahaman terbatas manusia. Hal ini menghindarkan dari kesalahan interpretasi dan antropomorfisme, memastikan bahwa aqidah tetap bersih dari konsep-konsep yang tidak sesuai dengan prinsip tauhid dalam Islam.

Tafwidh dan Akal Manusia

Batasan akal manusia dalam memahami hakikat Allah menunjukkan bahwa pemahaman kita tentang sifat-sifat Ilahi terbatas. Akal manusia tidak mampu menggambarkan atau membatasi esensi Allah, yang bersifat mutlak dan tidak terjangkau oleh pemikiran manusia. Dalam konteks Tafwidh, hal ini menggarisbawahi pentingnya menyerahkan pemahaman tentang sifat-sifat Allah kepada Allah sendiri, tanpa mencoba untuk menafsirkan atau menggambarkan-Nya dengan cara yang dapat menyesatkan. Oleh karena itu, dalam mempelajari aqidah Islam, kita diajak untuk mengakui keterbatasan akal dan menghormati keagungan Allah dengan cara yang tepat.

Peran akal dalam menerima konsep Tafwidh

Peran akal dalam menerima konsep Tafwidh sangat penting dalam Islam. Akal manusia digunakan untuk memahami batasan pemikirannya sendiri dalam menginterpretasikan sifat-sifat Allah. Dalam konteks Tafwidh, akal berfungsi untuk mengakui keterbatasan manusia dan mendorong kepatuhan terhadap wahyu tanpa mencoba merasionalkan atau memvisualisasikan hakikat ketuhanan.

Dengan demikian, akal membantu memelihara kesucian aqidah dan menjaga umat Islam dari pemahaman yang salah atau menyimpang tentang sifat-sifat Allah.

Tantangan Tafwidh Bagi Seorang Muslim

Salah satu tantangan utama dalam praktik Tafwidh di kalangan umat Islam adalah pemahaman yang beragam tentang batas-batas akal dalam menginterpretasikan sifat-sifat Allah. Beberapa umat mungkin cenderung ke arah literalisme, mengambil teks agama secara harfiah tanpa ruang untuk Tafwidh, yang dapat menyebabkan pemahaman yang keliru atau sempit tentang aqidah.

Selain itu, kurangnya pengetahuan dan pemahaman yang mendalam tentang prinsip-prinsip Tafwidh dapat menyebabkan kebingungan dan salah tafsir dalam masyarakat Islam, memperumit upaya untuk menjaga kesucian aqidah dari pemahaman yang keliru.

Kesimpulan

Tafwidh adalah konsep penting dalam Islam yang menekankan penyerahan pemahaman sifat-sifat Allah kepada Allah sendiri, menghindari interpretasi terbatas akal manusia. Hal ini membantu menjaga kesucian aqidah dan menghindari antropomorfisme. Pemahaman yang tepat tentang Tafwidh membutuhkan pengetahuan mendalam tentang teks-teks agama dan prinsip-prinsip aqidah, serta keseimbangan antara akal dan wahyu.

Dalam praktiknya, Tafwidh menghadapi tantangan seperti perbedaan interpretasi dan kurangnya pemahaman, yang memerlukan pendidikan dan dialog yang berkelanjutan di kalangan umat Islam.

Ingin memperdalam pemahaman Anda tentang Tafwidh dan topik Islam lainnya? Kunjungi website kami di mediamu.com untuk artikel, panduan, dan sumber informasi yang kaya dan terpercaya. Temukan wawasan baru dan perkuat keimanan Anda bersama kami. Klik di sini untuk menjelajahi lebih lanjut!

Comment

Your email address will not be published

There are no comments here yet
Be the first to comment here