Islam

Islam

MediaMU.COM

May 22, 2024
Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Dakwah Ala Buya HAMKA

Oleh: Abdur Rauf *

Buku yang ditulis oleh Irfan Hamka dengan judul “Ayah” bercerita tentang kisah Buya Hamka. Irfan Hamka merupakan putera kandung Buya Hamka sendiri. Irfan Hamka menuturkan bahwa tujuan buku ini ditulis adalah untuk memperluas syiar dan mengenang Buya Hamka. Irfan Hamka juga berharap semoga buku ini dapat memberikan inspirasi dan motivasi serta menambah keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah SWT.

Alhamdulillah saya sudah membaca buku karya Irfan Hamka yang berjudul “Ayah” ini. Saya juga menyarankan kepada saudara sekalian supaya membaca buku ini. Saya yakin para pembaca akan dibuat takjub dan terpesona dengan isi buku ini. Banyak hal yang dapat kita teladani dari sosok Buya Hamka. Saya pikir, buku ini cukup mewakili bagi siapa saja yang ingin berkenalan dengan Buya Hamka. Saya sendiri –meskipun tidak hidup se-zaman dengan beliau- amat sangat mengagumi Buya Hamka. Saya berkenalan dengan beliau lewat karya-karyanya yang luar biasa. Alhamdulillah beberapa karya beliau saya punya meskipun belum semuanya. Pernah beberapa kali saya sampai meneteskan air mata ketika membaca buku karya Buya Hamka. Begitulah dahsyatnya sentuhan seorang alim Buya Hamka.

Satu hal yang menarik bagi saya di bagian pertama dari buku ini. Irfan Hamka, sebelum menuturkan kisah-kisah tentang ayahnya, terlebih dahulu ia mengajak para pembaca sejenak mengenang nasihat Buya Hamka. Sosok Buya Hamka memang sering dijadikan tempat curhat dan tempat meminta nasihat oleh beragam golongan masyarakat, sehingga tak jarang orang datang langsung ke rumah Buya Hamka untuk konsultasi seputar masalah hidup. Berkaitan dengan itu pula, di bagian pertama buku ini, Irfan Hamka menuturkan tiga kisah orang yang datang ke Buya Hamka (baik itu di rumah beliau maupun di masjid tempat biasa beliau mengisi kajian) untuk sekedar curhat dan meminta pandangan serta nasihatnya. Namun hanya satu kisah saja yang akan saya sampaikan di sini.

Irfan Hamka menuturkan bahwa sudah menjadi rutinitas Buya Hamka di Masjid Agung Kemayoran Jakarta memberikan ceramah setelah selesai shalat subuh. Setelah Buya Hamka selesai memberikan ceramah dilanjtukan dengan sesi tanya jawab. Kemudian ada seorang jamaah bertanya dan meminta pendapat Buya Hamka, “Buya, saya punya tetangga dua orang. Yang satu seorang haji, taatnya bukan main. Setiap waktu shalat, Pak Haji ini selalu ke masjid dekat rumah kami. Puasa tidak pernah lalai, begitu pula bayar zakat fitrah. Tapi sayang, Pak Haji ini tidak pernah akur dengan tetangga. Hewan ternak tetangga yang masuk ke pekarangan rumahnya selalu dilempar dengan batu. Sedangkan tetangga yang satu lagi adalah seorang dokter. Bukan main baiknya. Bila ada orang yang sakit, tengah malam pun dokter ini tidak menampik bila ada pasien datang ke rumahnya. Hanya saja sayang Buya, dokter ini tidak pernah ke masjid dan shalat. Bagaimana ini, Buya?” Begitulah pertanyaan yang dilontarkan kepada Buya Hamka dari salah seorang jamaah tadi.

Buya Hamka menjawab kasus yang pertama, ”Kita sepakati dulu bahwa shalat merupakan tiang agama. Sedangkan kebaikan yang lain sebagai pengikutnya. Kalimat, ‘Pak Haji taat shalat’, katatapinya kita hilangkan dulu. Kalimatnya menjadi, ‘Pak Haji taat beribadah (koma bukan titik)’. Sambungannya, ‘kebaikan yang lain belum diikuti oleh Pak Haji’. Lalu untuk ikutnya kebaikan yang lain, ini peranan da’wah bilhal, yaitu dakwah dengan cara memberikan contoh teladan, perbuatan, atau sikap. Memberi contoh yang baik ke Pak Haji. Prosesnya bisa lama bisa pula sebentar. Mengubah perangai orang mudah-mudah sulit. Namun kebiasaan rajinnya Pak Haji beribadah jangan diejek.

Buya Hamka menjawab kasus yang kedua, “Begitu pula halnya dengan si dokter. Kebalikan dari perilaku Pak Haji, si dokter jangan diejek karena dia tidak shalat. Kata-kata ‘tidak shalat’, juga diganti dengan kata-kata ‘belum shalat’. Hal ini pun harus diselesaikan dengan da’wah bilhal, dengan cara yang lemah lembut. Yang penting si dokter tetap beragama Islam. Hanya saja belum shalat. Saudara pun berkewajiban melakukan da’wah bilhal kepada kedua tetangga itu.

Demikian jawaban dari Buya Hamka yang sangat jelas dan terperinci atas pertanyaan dari salah seorang jamaah tadi. Tutur Irfan Hamka, “Jamaah yang bertanya mengangguk mengerti. Jamaah yang lain pun mengangguk-angguk mendapat tambahan ilmu.

Itulah sepenggal kisah teladan dari seorang Buya Hamka. Kalau kita cermati kembali kisah di atas, betapa kagumnya kita dengan Buya Hamka. Nasihat yang disampaikan beliau begitu lemah lembut, santun, dan berwibawa serta tidak menyinggung perasaan orang lain. Buya Hamka selalu berpikiran positif terhadap orang lain, ber-husnudzan dan memiliki keyakinan bahwa setiap orang mampu untuk berubah menjadi lebih baik.

Bertolak belakang dengan kisah Buya Hamka di atas, sekarang ini bermunculan di media sosial beberapa ustadz yang sukanya megharam-haramkan, membid’ah-bid’akan, mengkafir-kafirkan, bahkan sampai memvoniskan orang masuk neraka, seolah-olah dialah orang yang paling benar dan paling diridhai oleh Allah SWT. Orang yang belum shalat diejek dan diancam masuk neraka, orang yang belum berhijab dicemooh dan diancam masuk neraka, orang-orang berkumpul untuk berdzikir bersama dikatakan bid’ah dan diancam masuk neraka, neraka, neraka, dan neraka. Nah, model-model ustadz yang begini ini membuat orang tidak tertarik dalam menjalankan ajaran agamanya. Padahal agama Islam itu rahmatan lil’alamin, rahmat bagi seluruh alam.

Belajarlah kepada Buya Hamka dalam berdakwah. Nasihat-nasihatnya teduh dan menyejukkan. Tidak berprasangka buruk kepada orang lain. Tidak menyakiti perasaan orang lain. Selalu berpikir positif terhadap orang lain. Metode dakwah yang dilakukan Buya Hamka itu senafas dengan apa yang diserukan oleh Al-Qur’an:

ٱدۡعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِٱلۡحِكۡمَةِ وَٱلۡمَوۡعِظَةِ ٱلۡحَسَنَةِۖ وَجَٰدِلۡهُم بِٱلَّتِي هِيَ أَحۡسَنُۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعۡلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِۦ وَهُوَ أَعۡلَمُ بِٱلۡمُهۡتَدِينَ ١٢٥

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdialoglah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.” (QS. An-Nahl/ 16: 125)

Di akhir tulisan singkat ini, saya tuliskan pesan-pesan Buya Hamka tentang dakwah. Beliau menuturkan bahwa dakwah itu membina bukan menghina, dakwah itu mendidik bukan membidik, dakwah itu mengobati bukan melukai, dakwah itu mengukuhkan bukan meruntuhkan, dakwah itu saling menguatkan bukan saling melemahkan, dakwah itu mengajak bukan mengejek, dakwah itu menyejukkan bukan memojokkan, dakwah itu mengajar bukan menghajar, dakwah itu saling belajar bukan bertengkar, dan dakwah itu menasihati bukan mencaci maki.


*Penulis adalah Alumni Fakultas Agama Islam Universitas Ahmad Dahlan dan Anggota Komunitas Literasi Janasoe

Comment

Your email address will not be published

There are no comments here yet
Be the first to comment here