Islam

Islam

MediaMU.COM

May 22, 2024
Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Ayat-Ayat Muhkam dan Mutasyabih : Perbedaan Pendapat dan Hikmah Besar di Baliknya

MEDIAMU.COM - Muhkam adalah ayat-ayat yang maknanya sudah jelas, tidak samar lagi. Adapun mutasyabih adalah ayat-ayat yang maknanya belum jelas sehingga memerlukan pentakwilan untuk mengetahui maksudnya. Al-Qur‟an berfungsi sebagai bayan (penjelas) dan hudan (petunjuk) dimana didalamnya memuat ayat yang tersurat atau muhkam.

Selain itu, al-Qur‟an juga berfungsi sebagai mukjizat dan kitab sastra terbesar sepanjang sejarah manusia dimana didalamnya memuat ayat yang tersirat atau mutasyabih yang tidak akan habishabisnya untuk dikaji dan diteliti. Ayat-ayat muhkamat dan mutasyabihat adalah dua

Perbedaan Muhkam dan Mutasyabih

Dalam konteks Al-Quran, "muhkam" dan "mutasyabih" adalah istilah yang merujuk kepada dua jenis ayat atau kata dalam Al-Quran yang memiliki makna dan karakteristik yang berbeda:

1. Muhkam (مُحْكَم)

Ayat-ayat yang termasuk dalam kategori muhkam adalah ayat-ayat yang memiliki makna yang jelas, tegas, dan tidak memerlukan penafsiran tambahan. Muhkam adalah ayat-ayat yang memberikan petunjuk yang jelas dan hukum yang tegas. Contoh ayat muhkam adalah perintah-perintah ibadah seperti salat (shalat), puasa, zakat, dan hukum-hukum yang tegas dalam Islam.

2. Mutasyabih (مُتَشَابِه)

Ayat-ayat yang termasuk dalam kategori mutasyabih adalah ayat-ayat yang memiliki makna yang bersifat lebih ambigu, kiasan, atau metaforis. Ayat-ayat mutasyabih memerlukan penafsiran lebih lanjut dan dapat memiliki berbagai makna yang mungkin. Ini seringkali melibatkan simbolisme dan kiasan. Contoh ayat mutasyabih termasuk ayat-ayat yang menggambarkan alam semesta, hari kiamat, atau ayat-ayat yang mengandung perumpamaan.

Dalam memahami Al-Quran, Muslim diharapkan untuk memahami perbedaan antara kedua jenis ayat ini dan untuk menginterpretasikan ayat-ayat mutasyabih dengan memperhatikan konteks dan panduan yang diberikan dalam ayat-ayat muhkam. Sebagian besar hukum dan ajaran Islam didasarkan pada ayat-ayat muhkam, sementara ayat-ayat mutasyabih seringkali digunakan untuk menggambarkan kebesaran Allah dan alam semesta serta mengundang kontemplasi dan refleksi.

Contoh Muhkam dan Mutasyabih

Tentang contoh ayat-ayat muhkam dan mutasyabih dalam Al-Quran:

Contoh Ayat Muhkam:

  1. Ayat-ayat yang menjelaskan tentang salat, seperti perintah untuk melaksanakan salat.
  2. Hukum zakat, seperti aturan mengenai zakat pertanian.
  3. Larangan dan perintah haram dan halal, seperti larangan mengonsumsi babi dan perintah menjauhi perbuatan zina.

Contoh Ayat Mutasyabih:

  1. Ayat-ayat yang menggambarkan Surga dalam bahasa kiasan yang sulit dimengerti secara harfiah.
  2. Ayat-ayat yang merinci peristiwa dan tanda-tanda hari kiamat dengan bahasa yang bersifat metaforis.
  3. Ayat-ayat yang menggambarkan penciptaan alam semesta dan tanda-tanda kebesaran Allah dalam alam semesta dengan gaya bahasa yang sulit dipahami secara langsung.

Ayat-ayat mutasyabih memerlukan pemahaman yang mendalam, penelitian, dan penafsiran yang cermat oleh cendekiawan Islam atau ulama untuk memahaminya dengan benar. Di sisi lain, ayat-ayat muhkam dapat dipahami dengan jelas dan mengandung hukum atau perintah yang tegas.

Siapa yang Bertugas Membedakan Ayat Ayat Muhkam dan Mutasyabih

Dalam Islam, membedakan antara ayat-ayat muhkam dan mutasyabih serta memberikan penafsiran yang benar merupakan tugas para cendekiawan agama, ulama, dan ahli tafsir yang memiliki pengetahuan dan pemahaman yang mendalam tentang Al-Quran dan ajaran Islam. Mereka adalah orang-orang yang memiliki pelatihan formal dalam bidang ilmu agama, memahami konteks sejarah dan budaya di mana Al-Quran diwahyukan, dan memiliki pengetahuan yang luas tentang tafsir Al-Quran.

Tugas utama para ulama adalah untuk melakukan penelitian dan penafsiran yang cermat terhadap ayat-ayat Al-Quran, termasuk ayat-ayat mutasyabih, dan untuk memberikan pandangan yang sesuai dengan prinsip-prinsip agama Islam. Mereka juga memeriksa hadis-hadis Nabi Muhammad SAW yang dapat memberikan penjelasan tambahan tentang ayat-ayat tersebut. Para ulama juga mendasarkan penafsiran mereka pada pemahaman tradisional Islam yang telah berkembang selama berabad-abad.

Jadi, dalam Islam, para ulama yang memiliki kualifikasi dan pemahaman yang mendalam adalah yang paling pantas untuk membedakan antara ayat-ayat muhkam dan mutasyabih, serta memberikan penafsiran yang akurat dan sesuai dengan ajaran Islam.

Perbedaan Pendapat dari Kalangan Ulama Tentang Muhkam

hal yang saling melengkapi dalam al-Qur‟an. Namun demikian, terdapat perbedaan pendapat di kalangan umat Islam terkait pentakwilan tersebut, dimana tidak semuanya sepakat mengenai kebolehan menafsirkan ayat-ayat yang mutasyabihat tersebut atau dengan kata lain melarangnya. Namun, dibalik kontroversi yang timbul akibat perbedaan pendapat tersebut, justrumengantarkan pada pemahaman terkait hikmah yang dapat dipetik pelajarannya dalam kehidupan manusia.

Ketika hikmah ini kita kaitkan dengan dunia pendidikan, setidaknya Allahtelah mengajarkan tentang bagaimana cara menyikapi perbedaan yang terjadi dengan bijaksana yaitu dengan saling menghargai seperti ajaran melalui muhkam dan mutasyabih dimana terdapat perbedaan pendapat dari para ulama dalam menyikapinya namun bisa saling menghargai setiap pendapat tersebut dengan tidak saling memusuhi.

Justru dengan perbedaan pendapat yang ada, mereka saling menguatkan dan melengkapi antara yang satu dengan lainnya. Sebab, tidak dapat dipungkiri bahwa setiap dari kita pastinya memiliki perbedaan antara yang satu dengan lainnya. 

Tidak hanya itu, dengan adanya muhkam dan Mutasyabih dalam al-Qur‟an, umat Islam dituntut untuk semakin kritis dalam memahami maksud Tuhan yang bersembunyi dibalik ayat-ayatnya. Dengan begitu, manusia akan memaksimalkan anugrah terbesar yang telah Tuhan berikan kepadanya, yaitu akal untuk berfikir.

Editor: Muhammad Fajrul Falaq. Tim Redaksi MEDIAMU.COM

Comment

Your email address will not be published

There are no comments here yet
Be the first to comment here