<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:admin="http://webns.net/mvcb/" xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
    <channel>
        <title>MediaMU.COM &amp; Akhlak</title>
        <link>https://islam.mediamu.com/akhlakrss/category/akhlak</link>
        <description>MediaMU.COM &amp; Title: Akhlak</description>
        <dc:language>id</dc:language>
        <dc:rights>Jl. Gedongkuning No.130 B, Rejowinangun, Kec. Kotagede, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55171</dc:rights>
                                                    <item>
                    <title>Tabayun: Menjaga Kebenaran, Merawat Kepercayaan</title>
                    <link>https://islam.mediamu.com/tabayun-menjaga-kebenaran-merawat-kepercayaan</link>
                    <guid>https://islam.mediamu.com/tabayun-menjaga-kebenaran-merawat-kepercayaan</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Penulis: Yayan Suryana*  ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p><em><strong>Penulis: Yayan Suryana* </strong></em></p><p>Tabayun atau klarifikasi merupakan langkah penting untuk memastikan kebenaran informasi sebelum mengambil sikap, memberikan penilaian, atau membuat keputusan. Di tengah derasnya arus informasi, terutama melalui media sosial, berita yang belum terverifikasi dan pernyataan yang kehilangan konteks dapat memicu kesalahpahaman, merusak hubungan, bahkan menimbulkan konflik. </p><p>Karena itu, tabayun menjadi bagian dari tanggung jawab moral dan tuntunan agama untuk menjaga kebenaran serta kehormatan sesama, baik secara personal maupun organisatoris.</p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2026/10/116ac9ccc072d4a.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="158995" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Sat, 10 Oct 2026 12:27:58 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Redaksi MediaMU</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                            </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Memberi Salam Sunnah, Menjawabnya Wajib</title>
                    <link>https://islam.mediamu.com/memberi-salam-sunnah-menjawabnya-wajib</link>
                    <guid>https://islam.mediamu.com/memberi-salam-sunnah-menjawabnya-wajib</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Penulis: Yayan Suryana*  ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p><em><strong>Penulis: Yayan Suryana* </strong></em></p><p>Salam dalam Islam bukan sekadar sapaan dalam pergaulan, melainkan bagian dari ajaran agama yang mengandung doa, penghormatan, dan upaya membangun kasih sayang antarsesama Muslim.</p><p>Rasulullah <span>ﷺ </span>menganjurkan umatnya untuk menyebarluaskan salam. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi, Nabi <span>ﷺ</span> bersabda agar umat Islam menyembah Allah, memberi makan, dan menyebarkan salam agar memperoleh keselamatan. Karena itu, salam memiliki kedudukan penting dalam membangun kehidupan sosial yang penuh persaudaraan.</p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2026/08/1166a882a3e0d4d6.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="27342" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Fri, 21 Aug 2026 17:34:00 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Redaksi MediaMU</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                            </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Memperbuahkan Budi Pekerti: Jalan Dakwah Muhammadiyah untuk Keadaban</title>
                    <link>https://islam.mediamu.com/memperbuahkan-budi-pekerti-jalan-dakwah-muhammadiyah-untuk-keadaban</link>
                    <guid>https://islam.mediamu.com/memperbuahkan-budi-pekerti-jalan-dakwah-muhammadiyah-untuk-keadaban</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Oleh: Yayan Suryana* ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p><strong>Oleh: Yayan Suryana*</strong></p><p>Budi pekerti memiiki peranan penting dalam menegakan fondasi moral untuk membentuk karakter individu dan masyarakat. Kata “budi” merujuk pada kemampuan jiwa yang terdiri dari akal, rasa, dan kehendak untuk menimbang nilai baik dan buruk. Sementara itu, “pekerti” menunjuk pada perwujudan sikap atau perilaku lahiriah dari hasil pertimbangan budi tersebut. Dengan demikian, budi pekerti adalah perpaduan nilai batin dan tindakan nyata yang menjadi cerminan kepribadian luhur seseorang. </p><p>Dalam konteks dakwah Muhammadiyah, memperbuahkan budi pekerti berarti menumbuhkan nilai-nilai moral yang bersumber dari ajaran Islam ke dalam kehidupan sehari-hari umat, sebagai bagian dari proses pembangunan manusia paripurna.</p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2025/06/1168458f98a0ed7.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="249276" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Mon, 16 Jun 2025 08:54:34 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Dzikril Firmansyah</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                            </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Mengucapkan Salam di Tengah Perbedaan Agama</title>
                    <link>https://islam.mediamu.com/mengucapkan-salam-di-tengah-perbedaan-agama</link>
                    <guid>https://islam.mediamu.com/mengucapkan-salam-di-tengah-perbedaan-agama</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Penulis: Yayan Suryana*  ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p><em><strong>Penulis: Yayan Suryana* </strong></em></p><p>Salam merupakan salah satu ajaran penting dalam Islam yang mengandung doa, kedamaian, dan penghormatan kepada sesama. Rasulullah ﷺ bahkan menganjurkan umat Islam untuk menyebarluaskan salam.</p><p>Dalam sebuah hadis dari Abdullah bin Salam ra., Rasulullah <span>ﷺ </span>bersabda agar manusia menyebarkan salam, memberi makan, menyambung silaturahmi, dan melaksanakan salat malam. Dengan demikian, salam bukan sekadar sapaan, melainkan bagian dari etika sosial seorang Muslim yang mencerminkan kedamaian dan persaudaraan.</p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2026/08/1166a86a9137dd1c.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="16628" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Wed, 19 Aug 2026 17:49:00 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Redaksi MediaMU</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                            </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Memahami Makna &amp;apos;Bersuci&amp;apos; dalam Al&amp;Qur’an: Antara Bahasa dan Syariat</title>
                    <link>https://islam.mediamu.com/memahami-makna-bersuci-dalam-al-quran-antara-bahasa-dan-syariat</link>
                    <guid>https://islam.mediamu.com/memahami-makna-bersuci-dalam-al-quran-antara-bahasa-dan-syariat</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Salah satu tantangan dalam memahami Al-Qur’an adalah membedakan antara makna bahasa dan makna syariat. Hal ini tampak jelas dalam penafsiran Surat al-Māidah ayat 6, khususnya pada lafaz “faththahharū ” yang secara bahasa berarti “bersucilah”, tetapi dalam terjemahan sering dimaknai “mandilah” ketika dalam keadaan junub. ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p>Salah satu tantangan dalam memahami Al-Qur’an adalah membedakan antara makna bahasa dan makna syariat. Hal ini tampak jelas dalam penafsiran Surat al-Māidah ayat 6, khususnya pada lafaz “<em>faththahharū </em>” yang secara bahasa berarti “bersucilah”, tetapi dalam terjemahan sering dimaknai “mandilah” ketika dalam keadaan junub.</p><p>Perbedaan ini bukanlah kekeliruan, melainkan bentuk penyesuaian makna dengan konteks hukum Islam yang lebih spesifik. Penjelasan semacam ini dapat ditemukan dalam Buku Tanya Jawab Agama Jilid 3 halaman 46, yang memberikan pemahaman komprehensif tentang hubungan antara bahasa dan ketentuan syariat.</p><p>Dalam perspektif kebahasaan, kata “<em>faththahharuu </em>” memang bermakna umum, yaitu bersuci. Namun dalam kerangka syariat, bersuci memiliki kategori yang lebih rinci. Ketika seseorang berada dalam kondisi hadas kecil, maka bersuci cukup dilakukan dengan wudhu. </p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2026/05/11669f84898ac101.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="487132" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Wed, 29 Apr 2026 09:38:00 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Dzikril Firmansyah</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                            </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Ketika Kelemahan Orang Menjadi Bahan Berita</title>
                    <link>https://islam.mediamu.com/ketika-kelemahan-orang-menjadi-bahan-berita</link>
                    <guid>https://islam.mediamu.com/ketika-kelemahan-orang-menjadi-bahan-berita</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Penulis: Yayan Suryana*  ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p><em><strong>Penulis: Yayan Suryana* </strong></em></p><p>Membahas kelemahan seseorang atau sebuah lembaga tidak selalu berarti membuka aib. Dalam kehidupan ilmiah, penelitian terhadap kegagalan sebuah usaha, organisasi, atau institusi justru dapat menjadi sarana pembelajaran untuk menemukan sebab dan mencegah kesalahan serupa di masa depan.</p><p>Apalagi suatu penelitian yang dilakukan atas persetujuan pihak yang diteliti, terlebih jika penelitian tersebut memang diminta oleh yang bersangkutan, tidak termasuk perbuatan tercela. Hasil penelitian pun dapat dipublikasikan sebagai sebuah studi kasus selama dilakukan secara objektif, proporsional, dan tidak bermaksud merendahkan. Tentu identitas pribadi maupun lembaga sebaiknya disamarkan apabila penyebutannya tidak diperlukan bagi kepentingan akademik.</p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2026/08/1166a84f6f2c23d9.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="314633" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Tue, 18 Aug 2026 12:20:00 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Redaksi MediaMU</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                            </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Takziah: Menguatkan yang Berduka, Bukan Menambah Beban</title>
                    <link>https://islam.mediamu.com/takziah-menguatkan-yang-berduka-bukan-menambah-beban</link>
                    <guid>https://islam.mediamu.com/takziah-menguatkan-yang-berduka-bukan-menambah-beban</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Takziah merupakan salah satu tradisi sosial-keagamaan yang hidup kuat dalam masyarakat Muslim. Secara etimologis, takziah berasal dari kata al-‘azzaa yang bermakna sabar, sementara secara terminologis takziah berarti upaya menyabarkan dan menguatkan hati orang yang tertimpa musibah.  ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p>Takziah merupakan salah satu tradisi sosial-keagamaan yang hidup kuat dalam masyarakat Muslim. Secara etimologis, takziah berasal dari kata <em>al-‘azzaa</em> yang bermakna sabar, sementara secara terminologis takziah berarti upaya menyabarkan dan menguatkan hati orang yang tertimpa musibah. </p><p>Dalam konteks kematian, takziah diarahkan kepada keluarga jenazah sebagai bentuk empati, dukungan moral, dan penguatan spiritual agar mereka mampu menghadapi duka dengan sikap sabar dan tawakal.</p><p>Islam secara jelas menganjurkan pelaksanaan takziah sebagai bagian dari solidaritas sosial umat. Bagi orang yang tinggal satu kota dengan keluarga jenazah, takziah dianjurkan dilakukan dalam rentang waktu tiga hari setelah penguburan. </p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2026/02/1166980613d94277.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="105448" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Mon, 02 Feb 2026 08:04:00 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Dzikril Firmansyah</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                            </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Menjenguk Orang Sakit: Menguatkan Ukhuwah, Menebarkan Empati</title>
                    <link>https://islam.mediamu.com/menjenguk-orang-sakit-menguatkan-ukhuwah-menebarkan-empati</link>
                    <guid>https://islam.mediamu.com/menjenguk-orang-sakit-menguatkan-ukhuwah-menebarkan-empati</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Menjenguk orang sakit merupakan salah satu akhlak mulia yang diajarkan Islam sekaligus wujud nyata kepedulian sosial di tengah masyarakat. Ibadah ini tidak hanya bermakna sebagai bentuk perhatian kepada sesama, tetapi juga menjadi bagian dari hak seorang Muslim atas Muslim lainnya. Rasulullah ﷺ menempatkan menjenguk orang sakit sebagai salah satu kewajiban moral yang memperkuat ikatan persaudaraan.  ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p>Menjenguk orang sakit merupakan salah satu akhlak mulia yang diajarkan Islam sekaligus wujud nyata kepedulian sosial di tengah masyarakat. Ibadah ini tidak hanya bermakna sebagai bentuk perhatian kepada sesama, tetapi juga menjadi bagian dari hak seorang Muslim atas Muslim lainnya. Rasulullah ﷺ menempatkan menjenguk orang sakit sebagai salah satu kewajiban moral yang memperkuat ikatan persaudaraan. </p><p>Dalam hadis riwayat Bukhari, Muslim, dan Abu Dawud disebutkan bahwa di antara hak seorang Muslim atas Muslim lainnya adalah mengunjungi ketika sakit dan mengantarkan jenazah ketika meninggal dunia. Dengan demikian, menjenguk orang sakit bukan sekadar tradisi sosial, melainkan ibadah yang memiliki nilai spiritual sekaligus kemanusiaan.</p><p>Keutamaan menjenguk orang sakit juga dijelaskan dalam hadis riwayat Ibnu Majah dari Abu Hurairah. Rasulullah <span>ﷺ</span> bersabda:</p><p style="text-align: right;">مَنْ عَادَ مَرِيضًا نَادَ مُنَادٍ مِنَ السَّمَاءِ طِبْتَ وَطَابَ مَمْشَاكَ وَتَبَوَّأْتَ مِنَ الْجَنَّةِ  (رواه ابن ماجه)</p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2026/08/1166a72cf7e1240d.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="175348" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Wed, 05 Aug 2026 12:46:00 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Redaksi MediaMU</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                            </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Menangisi Jenazah: Antara Kasih Sayang dan Batasan Syariat</title>
                    <link>https://islam.mediamu.com/menangisi-jenazah-antara-kasih-sayang-dan-batasan-syariat</link>
                    <guid>https://islam.mediamu.com/menangisi-jenazah-antara-kasih-sayang-dan-batasan-syariat</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Kematian selalu menghadirkan duka yang mendalam, dan salah satu persoalan yang kerap menimbulkan kegelisahan di tengah masyarakat adalah anggapan bahwa menangisi jenazah merupakan perbuatan terlarang.  ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p>Kematian selalu menghadirkan duka yang mendalam, dan salah satu persoalan yang kerap menimbulkan kegelisahan di tengah masyarakat adalah anggapan bahwa menangisi jenazah merupakan perbuatan terlarang. </p><p>Bahkan, tidak jarang berkembang keyakinan bahwa air mata keluarga dapat mendatangkan dosa dan menyebabkan jenazah disiksa di alam kubur. Pemahaman semacam ini, jika tidak dijelaskan secara utuh, justru berpotensi menambah beban psikologis bagi keluarga yang sedang berduka.</p><p>Dalam ajaran Islam, meneteskan air mata karena kesedihan bukanlah sesuatu yang diharamkan. Rasulullah saw. sendiri memberikan teladan nyata ketika putranya, Ibrahim wafat. </p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2026/02/116698060537e183.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="77672" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Mon, 02 Feb 2026 08:02:00 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Dzikril Firmansyah</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                            </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Syiar dan Pengeras Suara: Antara Semarak Ibadah dan Etika Sosial</title>
                    <link>https://islam.mediamu.com/syiar-dan-pengeras-suara-antara-semarak-ibadah-dan-etika-sosial</link>
                    <guid>https://islam.mediamu.com/syiar-dan-pengeras-suara-antara-semarak-ibadah-dan-etika-sosial</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Fenomena penggunaan pengeras suara untuk mengaji Al-Quran, terutama pada bulan Ramadan, kerap dipahami sebagai bagian dari syiar Islam. Hampir di setiap masjid dan musala, lantunan ayat suci terdengar hingga ke lingkungan sekitar. ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p>Fenomena penggunaan pengeras suara untuk mengaji Al-Quran, terutama pada bulan Ramadan, kerap dipahami sebagai bagian dari syiar Islam. Hampir di setiap masjid dan musala, lantunan ayat suci terdengar hingga ke lingkungan sekitar.</p><p>Namun, muncul pertanyaan mendasar, apakah setiap penggunaan pengeras suara otomatis dapat disebut sebagai syiar? Ataukah ada batasan etis dan normatif yang perlu diperhatikan? </p><p>Penjelasan mengenai persoalan ini dapat ditemukan dalam Buku Tanya Jawab Agama jilid 3 halaman 143–144, yang memberikan uraian konseptual sekaligus pertimbangan kontekstual.</p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2026/02/11669a286b65d404.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="136782" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Sat, 28 Feb 2026 05:53:00 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Dzikril Firmansyah</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                            </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Menjaga Keberlanjutan Pahala Wakaf di Tengah Perubahan Zaman</title>
                    <link>https://islam.mediamu.com/menjaga-keberlanjutan-pahala-wakaf-di-tengah-perubahan-zaman</link>
                    <guid>https://islam.mediamu.com/menjaga-keberlanjutan-pahala-wakaf-di-tengah-perubahan-zaman</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Wakaf merupakan salah satu bentuk amal jariyah yang pahalanya terus mengalir meskipun wakif atau pewakaf telah wafat. Sebagian besar umat Islam memiliki keyakinan bahwa dengan mewakafkan harta untuk kepentingan ibadah dan kemaslahatan umum, nilai kebaikannya akan berlangsung tanpa batas waktu.  ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p>Wakaf merupakan salah satu bentuk amal jariyah yang pahalanya terus mengalir meskipun wakif atau pewakaf telah wafat. Sebagian besar umat Islam memiliki keyakinan bahwa dengan mewakafkan harta untuk kepentingan ibadah dan kemaslahatan umum, nilai kebaikannya akan berlangsung tanpa batas waktu. </p><p>Dinamika sosial dan perkembangan zaman kerap menghadirkan persoalan baru, termasuk ketika aset wakaf tidak lagi dapat difungsikan sebagaimana tujuan awalnya.</p><p>Sebuah persoalan muncul misalnya, ketika tanah wakaf yang semula digunakan untuk mushalla harus dibongkar dan dipindahkan karena kebutuhan lingkungan. Dalam kondisi demikian, ahli waris sering diliputi keraguan: apakah tanah wakaf tersebut boleh dijual dan dialihkan menjadi wakaf baru di tempat lain atas nama pewakaf? Keraguan ini wajar, mengingat adanya pemahaman umum bahwa harta wakaf tidak boleh diperjualbelikan.</p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2026/02/11669805e5acf768.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="154807" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Wed, 28 Jan 2026 03:09:00 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Dzikril Firmansyah</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                            </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Wakaf Anak: Amal yang dapat Mengalir untuk Orang Tua yang Telah Wafat</title>
                    <link>https://islam.mediamu.com/wakaf-anak-amal-yang-dapat-mengalir-untuk-orang-tua-yang-telah-wafat</link>
                    <guid>https://islam.mediamu.com/wakaf-anak-amal-yang-dapat-mengalir-untuk-orang-tua-yang-telah-wafat</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Pertanyaan tentang apakah amalan anak, khususnya wakaf harta, dapat sampai kepada orang tua yang telah meninggal dunia sekalipun tanpa adanya wasiat semasa hidup, merupakan pertanyaan yang sering muncul di tengah masyarakat.  ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p>Pertanyaan tentang apakah amalan anak, khususnya wakaf harta, dapat sampai kepada orang tua yang telah meninggal dunia sekalipun tanpa adanya wasiat semasa hidup, merupakan pertanyaan yang sering muncul di tengah masyarakat. </p><p>Masalah ini bukan sekadar persoalan fikih ibadah, tetapi juga menyentuh dimensi etika berbakti kepada orang tua setelah wafatnya. Dalam tradisi keislaman, hubungan anak dan orang tua tidak terputus oleh kematian, melainkan tetap terhubung melalui doa dan amal kebajikan.</p><p>Secara teologis, amalan anak yang dihadiahkan kepada orang tua, termasuk wakaf, dapat sampai pahalanya. Hal ini didasarkan pada hadis Nabi Muhammad saw. yang menjelaskan bahwa anak diperbolehkan beramal untuk orang tuanya. Wakaf yang dilakukan anak dengan niat menghadiahkan pahalanya kepada orang tua termasuk dalam kategori amal kebaikan yang sah dan bernilai ibadah, meskipun orang tua tersebut tidak sempat berwasiat semasa hidupnya.</p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2026/02/11669805d8eaad71.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="555036" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Wed, 28 Jan 2026 03:08:00 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Dzikril Firmansyah</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                            </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Wasiat yang Adil dalam Perspektif Hadis dan Hukum Waris Islam</title>
                    <link>https://islam.mediamu.com/wasiat-yang-adil-dalam-perspektif-hadis-dan-hukum-waris-islam</link>
                    <guid>https://islam.mediamu.com/wasiat-yang-adil-dalam-perspektif-hadis-dan-hukum-waris-islam</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Wasiat merupakan salah satu bentuk ikhtiar manusia dalam mengatur harta yang dimilikinya, terutama menjelang akhir kehidupan. Namun, dalam Islam, wasiat tidak berdiri bebas dari tuntunan syariat. Sebab itu, setiap muslim perlu memahami batasan-batasan wasiat agar tidak menimbulkan ketidakadilan dan konflik di kemudian hari.  ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p>Wasiat merupakan salah satu bentuk ikhtiar manusia dalam mengatur harta yang dimilikinya, terutama menjelang akhir kehidupan. Namun, dalam Islam, wasiat tidak berdiri bebas dari tuntunan syariat. Sebab itu, setiap muslim perlu memahami batasan-batasan wasiat agar tidak menimbulkan ketidakadilan dan konflik di kemudian hari. </p><p>Persoalan wasiat menjadi sensitif ketika menyangkut hak ahli waris, khususnya anak-anak, yang telah diatur secara tegas dalam hukum waris Islam.</p><p>Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan At-Tirmidzi dari Abu Hurairah, Rasulullah saw. memperingatkan tentang bahaya berbuat zalim dalam wasiat. Hadis tersebut menjelaskan bahwa seseorang dapat beramal taat kepada Allah selama puluhan tahun, namun ketika ajal menjemput, ia berbuat aniaya dalam wasiatnya sehingga berakibat pada siksa neraka. </p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2026/02/11669805cf775fff.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="319582" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Wed, 28 Jan 2026 03:06:00 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Dzikril Firmansyah</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                            </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Menjaga Aib Sesama Muslim di Ruang Publik</title>
                    <link>https://islam.mediamu.com/menjaga-aib-sesama-muslim-di-ruang-publik</link>
                    <guid>https://islam.mediamu.com/menjaga-aib-sesama-muslim-di-ruang-publik</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Di tengah derasnya arus informasi dan kemudahan menyampaikan pendapat di ruang publik, umat Islam dihadapkan pada tantangan etika yang serius, yakni kecenderungan membuka dan menyebarluaskan aib sesama Muslim.  ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p>Di tengah derasnya arus informasi dan kemudahan menyampaikan pendapat di ruang publik, umat Islam dihadapkan pada tantangan etika yang serius, yakni kecenderungan membuka dan menyebarluaskan aib sesama Muslim. </p><p>Padahal, ajaran Islam secara tegas mendorong umatnya untuk menjaga kehormatan orang lain dan menahan diri dari perilaku yang dapat melukai martabat sesama. Prinsip ini bukan sekadar etika sosial, melainkan bagian integral dari ajaran agama yang berorientasi pada kemaslahatan dan ketenteraman hidup bersama.</p><p>Islam memang tidak menutup mata terhadap kebutuhan tertentu yang mengharuskan penyebutan keburukan seseorang, seperti dalam konteks penegakan keadilan. Penyelidikan hukum oleh jaksa, kesaksian di pengadilan, atau laporan atas kezaliman yang dialami merupakan contoh pengecualian yang dibenarkan. </p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2026/01/116970b49e13f3b.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="1365287" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Wed, 21 Jan 2026 11:12:54 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Dzikril Firmansyah</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                            </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Menikahi Janda Paman: Antara Etika Sosial dan Kepastian Hukum Islam</title>
                    <link>https://islam.mediamu.com/menikahi-janda-paman-antara-etika-sosial-dan-kepastian-hukum-islam</link>
                    <guid>https://islam.mediamu.com/menikahi-janda-paman-antara-etika-sosial-dan-kepastian-hukum-islam</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Persoalan pernikahan sering kali tidak hanya menyentuh aspek hukum, tetapi juga melibatkan sensitivitas sosial dan perasaan keluarga. Salah satu kasus yang kerap menimbulkan pertanyaan adalah rencana seorang laki-laki untuk menikahi janda pamannya sendiri.  ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p>Persoalan pernikahan sering kali tidak hanya menyentuh aspek hukum, tetapi juga melibatkan sensitivitas sosial dan perasaan keluarga. Salah satu kasus yang kerap menimbulkan pertanyaan adalah rencana seorang laki-laki untuk menikahi janda pamannya sendiri. </p><p>Situasi ini memang terdengar tidak lazim di tengah masyarakat, sehingga wajar jika memunculkan keraguan dan bahkan penilaian negatif. Namun, dalam Islam, setiap persoalan harus dikembalikan kepada ketentuan syariat yang jelas dan terukur.</p><p>Secara hukum Islam, penentuan boleh atau tidaknya suatu pernikahan sangat bergantung pada kategori perempuan yang diharamkan untuk dinikahi. Para ulama menjelaskan bahwa larangan pernikahan dalam Islam berpijak pada empat sebab utama, yaitu hubungan nasab (keturunan), hubungan susuan, hubungan semenda (perkawinan), dan sumpah li‘an. Selama tidak masuk dalam salah satu kategori tersebut, maka pada dasarnya suatu pernikahan dinilai sah dan dibolehkan secara hukum.</p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2026/01/116696dc81e308e0.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="262572" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Mon, 19 Jan 2026 12:51:00 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Dzikril Firmansyah</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                            </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Taubat Pelaku Zina: Antara Hukum, Dosa, dan Rahmat Allah</title>
                    <link>https://islam.mediamu.com/taubat-pelaku-zina-antara-hukum-dosa-dan-rahmat-allah</link>
                    <guid>https://islam.mediamu.com/taubat-pelaku-zina-antara-hukum-dosa-dan-rahmat-allah</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Pertanyaan tentang zina, hukumannya, dan status taubat pelakunya selalu menjadi tema yang sensitif sekaligus penting dalam diskursus keagamaan. Dalam hadis-hadis Nabi disebutkan bahwa pelaku zina tertentu dikenai hukuman rajam, dan apabila ia wafat setelah menjalani hukuman tersebut, jenazahnya tetap dishalatkan.  ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p>Pertanyaan tentang zina, hukumannya, dan status taubat pelakunya selalu menjadi tema yang sensitif sekaligus penting dalam diskursus keagamaan. Dalam hadis-hadis Nabi disebutkan bahwa pelaku zina tertentu dikenai hukuman rajam, dan apabila ia wafat setelah menjalani hukuman tersebut, jenazahnya tetap dishalatkan. </p><p>Hal ini sering dipahami sebagai tanda bahwa dosanya telah diampuni. Namun, persoalan menjadi lebih kompleks ketika zina dilakukan tetapi pelakunya belum atau tidak menjalani hukuman. Apakah taubatnya masih dapat diterima oleh Allah SWT?</p><p>Secara normatif, Al-Qur’an dan hadis telah menjelaskan ketentuan hukuman zina secara jelas. Surah An-Nur ayat 2 menetapkan hukuman dera seratus kali bagi pelaku zina. Sementara itu, dalam hadis riwayat Muslim, Abu Dawud, dan At-Tirmidzi dijelaskan bahwa bagi jejaka dan gadis hukumannya adalah dera seratus kali serta pengasingan selama satu tahun, sedangkan bagi yang sudah menikah (<em>tsayyib</em>) dikenakan hukuman rajam. </p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2026/01/116696dc8ea50f9e.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="86450" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Mon, 19 Jan 2026 12:54:00 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Dzikril Firmansyah</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                            </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Khitbah Bukan Tukar Cincin: Meluruskan Makna Ikatan Pra&amp;Nikah dalam Islam</title>
                    <link>https://islam.mediamu.com/khitbah-bukan-tukar-cincin-meluruskan-makna-ikatan-pra-nikah-dalam-islam</link>
                    <guid>https://islam.mediamu.com/khitbah-bukan-tukar-cincin-meluruskan-makna-ikatan-pra-nikah-dalam-islam</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Fenomena tukar cincin sebelum perkawinan kini menjadi praktik yang lazim dijumpai di tengah masyarakat. Tradisi ini kerap dipahami sebagai simbol keseriusan dan pengikat hubungan menuju pernikahan.  ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p>Fenomena tukar cincin sebelum perkawinan kini menjadi praktik yang lazim dijumpai di tengah masyarakat. Tradisi ini kerap dipahami sebagai simbol keseriusan dan pengikat hubungan menuju pernikahan. </p><p>Namun, di balik penerimaan sosial yang luas, muncul pertanyaan penting mengenai kedudukannya dalam pandangan Islam, khususnya terkait batasan pergaulan, kehalalan relasi laki-laki dan perempuan, serta legitimasi agama terhadap praktik tersebut.</p><p>Dalam perspektif syariat Islam, tukar cincin sebelum akad nikah tidak memiliki dasar sebagai ikatan keagamaan. Ia hanyalah bentuk kesepakatan lahiriah yang bersumber dari adat, bukan dari ketentuan agama. </p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2026/01/116696db6b238fcc.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="14224" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Fri, 16 Jan 2026 19:57:00 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Dzikril Firmansyah</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                            </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Makna Memberi Makan Kepada Orang Miskin</title>
                    <link>https://islam.mediamu.com/makna-memberi-makan-kepada-orang-miskin</link>
                    <guid>https://islam.mediamu.com/makna-memberi-makan-kepada-orang-miskin</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Memberi makan orang yang berpuasa, membayar fidyah, serta menyantuni fakir miskin, termasuk zakat fitrah, merupakan praktik ibadah yang sangat lekat dengan kehidupan sosial dan kebutuhan ekonomi umat Islam.  ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p>Memberi makan orang yang berpuasa, membayar fidyah, serta menyantuni fakir miskin, termasuk zakat fitrah, merupakan praktik ibadah yang sangat lekat dengan kehidupan sosial dan kebutuhan ekonomi umat Islam. </p><p>Namun, di tengah dinamika sosial dan ekonomi modern, muncul pertanyaan yang relevan: apakah kewajiban-kewajiban tersebut harus selalu ditunaikan dalam bentuk makanan, baik mentah maupun matang, ataukah boleh diganti dengan uang yang nilainya setara dan digunakan untuk membeli makanan? </p><p>Pertanyaan ini tidak sekadar bersifat teknis, tetapi juga menyentuh aspek pemahaman teks keagamaan dan tujuan syariat itu sendiri.</p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2026/01/116696db652c1f00.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="91750" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Fri, 16 Jan 2026 19:54:00 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Dzikril Firmansyah</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                            </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Meneladani Cara Nabi Mengajak Umat Mendirikan Shalat</title>
                    <link>https://islam.mediamu.com/meneladani-cara-nabi-mengajak-umat-mendirikan-shalat</link>
                    <guid>https://islam.mediamu.com/meneladani-cara-nabi-mengajak-umat-mendirikan-shalat</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Shalat bukan sekadar kewajiban individual, melainkan fondasi pembinaan umat. Karena itu, Nabi Muhammad saw. tidak hanya mengajarkan shalat sebagai ritual pribadi, tetapi juga sebagai praktik sosial yang hidup di tengah masyarakat.  ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p>Shalat bukan sekadar kewajiban individual, melainkan fondasi pembinaan umat. Karena itu, Nabi Muhammad saw. tidak hanya mengajarkan shalat sebagai ritual pribadi, tetapi juga sebagai praktik sosial yang hidup di tengah masyarakat. </p><p>Makna “mendirikan shalat” dalam ajaran Nabi mencakup kesadaran, komitmen, dan pelaksanaan yang berkesinambungan, termasuk shalat berjamaah sebagai sarana penguatan ikatan sosial dan spiritual umat.</p><p>Dalam mengajak umat mendirikan shalat, Nabi menempuh pendekatan persuasif dan edukatif. Kesadaran akan pentingnya shalat dibangun terlebih dahulu, baik untuk individu, keluarga, maupun masyarakat. </p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2025/12/11694e9c1f4ceef.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="403899" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Fri, 26 Dec 2025 21:31:25 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Dzikril Firmansyah</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                            </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Taat Pada Pemimpin: Sikap Islami, Tegas dan Proporsional</title>
                    <link>https://islam.mediamu.com/taat-pada-pemimpin-sikap-islami-tegas-dan-proporsional</link>
                    <guid>https://islam.mediamu.com/taat-pada-pemimpin-sikap-islami-tegas-dan-proporsional</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Kepemimpinan merupakan isu penting yang selalu relevan, terutama ketika muncul pertanyaan tentang bagaimana kewajiban seorang Muslim menaati pemimpin yang berbuat maksiat. Dalam kondisi di mana masyarakat menghadapi sosok pemimpin yang tidak ideal, Islam memberikan panduan yang proporsional: menjaga ketaatan demi stabilitas umat tanpa mengabaikan kewajiban amar makruf nahi munkar. Pemahaman yang tepat mengenai batasan dan bentuk ketaatan menjadi sangat penting agar umat tidak terjebak dalam sikap ekstrem yang justru merugikan kehidupan bersama. ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p>Kepemimpinan merupakan isu penting yang selalu relevan, terutama ketika muncul pertanyaan tentang bagaimana kewajiban seorang Muslim menaati pemimpin yang berbuat maksiat. Dalam kondisi di mana masyarakat menghadapi sosok pemimpin yang tidak ideal, Islam memberikan panduan yang proporsional: menjaga ketaatan demi stabilitas umat tanpa mengabaikan kewajiban amar makruf nahi munkar. Pemahaman yang tepat mengenai batasan dan bentuk ketaatan menjadi sangat penting agar umat tidak terjebak dalam sikap ekstrem yang justru merugikan kehidupan bersama.</p><p>Sebuah hadis sahih riwayat Muslim dari Auf bin Malik, Rasulullah SAW menggambarkan dua jenis karakter pemimpin, yaitu pemimpin yang dicintai rakyat karena kebaikannya, dan pemimpin buruk yang menimbulkan kebencian dan doa-doa negatif dari masyarakat.  Ketika para sahabat bertanya apakah pemimpin yang buruk itu boleh dilengserkan, Rasulullah SAW menegaskan, “<em>Tidak, selama mereka masih menegakkan salat di tengah-tengah kalian</em>.” Hadis ini menegaskan pentingnya mempertahankan struktur kepemimpinan selama tidak merusak sendi-sendi dasar agama.</p><p>Prinsip dasar hadis tersebut mengajarkan bahwa ketaatan kepada pemimpin tetap diwajibkan selama ia masih menjalankan pokok-pokok ajaran Islam, termasuk menegakkan salat sebagai simbol keberlanjutan kehidupan beragama. Ketaatan ini tidak berarti menyetujui seluruh tindakan pemimpin, melainkan menjaga kemaslahatan umum dan mencegah kerusakan lebih besar yang bisa terjadi akibat kekacauan politik atau sosial.</p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2025/11/1169197a7989e52.png?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="198198" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Sun, 16 Nov 2025 14:17:36 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Dzikril Firmansyah</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                            </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Berbakti kepada Orang Tua yang Telah Tiada</title>
                    <link>https://islam.mediamu.com/berbakti-kepada-orang-tua-yang-telah-tiada</link>
                    <guid>https://islam.mediamu.com/berbakti-kepada-orang-tua-yang-telah-tiada</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Berbakti kepada orang tua merupakan kewajiban yang tidak berhenti hanya karena keduanya telah tiada. Kasih sayang dan pengorbanan orang tua selama hidupnya menuntut balasan yang tulus dari anak-anak, baik ketika mereka masih hidup maupun setelah meninggal dunia.  ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p>Berbakti kepada orang tua merupakan kewajiban yang tidak berhenti hanya karena keduanya telah tiada. Kasih sayang dan pengorbanan orang tua selama hidupnya menuntut balasan yang tulus dari anak-anak, baik ketika mereka masih hidup maupun setelah meninggal dunia. </p><p>Banyak orang mengira bahwa berbakti kepada orang tua setelah wafat hanya cukup dengan mendoakan mereka. Padahal, Islam memberikan panduan yang lebih luas dan mendalam tentang bagaimana seorang anak dapat terus berbuat baik kepada orang tuanya meskipun keduanya telah berpulang.</p><p>Menurut penjelasan dalam Buku Tanya Jawab Agama jilid 2 halaman 179, berbuat baik kepada orang tua yang telah meninggal dunia sebagaimana diriwayatkan Abu Dawud dari sahabat Abu Usaid Malik bin Rabi‘ah as-Sa‘idy, dapat dilakukan melalui beberapa cara. </p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2025/10/1168f1e4d1bf78e.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="312166" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Fri, 17 Oct 2025 13:40:34 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Dzikril Firmansyah</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                            </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Lima Pilar Kepemimpinan Menuju Pemimpin Berintegritas</title>
                    <link>https://islam.mediamu.com/lima-pilar-kepemimpinan-menuju-pemimpin-berintegritas</link>
                    <guid>https://islam.mediamu.com/lima-pilar-kepemimpinan-menuju-pemimpin-berintegritas</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Pemimpinan dalam Islam bukan sekadar posisi strategis, melainkan amanah yang kelak dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Karena itu, seorang pemimpin dituntut memiliki sifat-sifat tertentu yang tidak hanya membentuk karakter pribadinya, tetapi juga menentukan kualitas kepemimpinan yang ia jalankan.  ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p>Pemimpinan dalam Islam bukan sekadar posisi strategis, melainkan amanah yang kelak dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Karena itu, seorang pemimpin dituntut memiliki sifat-sifat tertentu yang tidak hanya membentuk karakter pribadinya, tetapi juga menentukan kualitas kepemimpinan yang ia jalankan. </p><p>Penjelasan mengenai prinsip kepemimpinan ini dapat ditemukan dalam Buku Tanya Jawab Agama Jilid 2 halaman 23, yang menegaskan bahwa nilai-nilai dasar kepemimpinan bersumber dari ajaran Al-Qur’an dan Sunnah. Kelima sifat pokok yang diuraikan menjadi fondasi etis untuk membangun masyarakat yang adil, harmonis, dan bermartabat.</p><p>Pertama, seorang pemimpin harus beriman secara utuh melalui hati, ucapan, dan tindakan. Keimanan menjadi energi moral yang mendorongnya bekerja dengan orientasi ibadah, bukan ambisi personal. Al-Qur’an menegaskan bahwa hanya orang beriman yang mampu membawa amanah besar, sebagaimana firman Allah: “<em>Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya…</em>” (QS. An-Nisa’ [4]: 58). Dengan keimanan yang mengakar, pemimpin akan menempatkan nilai-nilai ilahiah sebagai pedoman utama dalam setiap keputusan.</p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2025/11/11669197949a1051.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="146744" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Sat, 15 Nov 2025 08:54:00 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Dzikril Firmansyah</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                            </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Adab Mengiringi Jenazah</title>
                    <link>https://islam.mediamu.com/adab-mengiringi-jenazah</link>
                    <guid>https://islam.mediamu.com/adab-mengiringi-jenazah</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Perkembangan zaman telah mengubah banyak hal dalam kehidupan umat Islam, termasuk dalam tata cara mengiringi jenazah. Jika dahulu jenazah diusung dengan keranda secara bergantian oleh para pengiring, kini tradisi itu mulai bergeser. Karena jarak pemakaman yang sering kali jauh, jenazah lebih banyak dibawa menggunakan kendaraan. ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p>Perkembangan zaman telah mengubah banyak hal dalam kehidupan umat Islam, termasuk dalam tata cara mengiringi jenazah. Jika dahulu jenazah diusung dengan keranda secara bergantian oleh para pengiring, kini tradisi itu mulai bergeser. Karena jarak pemakaman yang sering kali jauh, jenazah lebih banyak dibawa menggunakan kendaraan.</p><p>Pergeseran ini menimbulkan pertanyaan di kalangan masyarakat, terutama mengenai posisi para pengiring yang turut berkendaraan: apakah mereka harus berada di depan atau di belakang jenazah?</p><p>Dalam konteks ini, penjelasan para ulama memberikan panduan yang jelas. Berdasarkan kebiasaan pada masa Nabi Muhammad SAW, orang yang mengiringi jenazah dengan berjalan kaki dapat berada di depan, belakang, atau di sisi jenazah. Namun, bagi mereka yang berkendaraan, dianjurkan untuk berada di belakang rombongan jenazah. Ketentuan ini didasarkan pada hadis yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Dawud dari al-Mughirah bin Syu‘bah, yang berbunyi:</p><p style="text-align: right;">الرَّاكِبُ يَسِيرُ خَلْفَ الْجَنَازَةِ وَالْمَاشِي يَمْشِي خَلْفَهَا وَأَمَا مَهَا وَعَنْ يَسَارِهَا قَرِيبًا مِنْهَا (رواه احمد وابوداود من حديث المغيرة بن شعبة)</p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2025/10/1168e8e5313a341.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="45484" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Fri, 10 Oct 2025 17:53:42 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Dzikril Firmansyah</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                            </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Pahala Tak Ditentukan oleh Banyaknya Harta</title>
                    <link>https://islam.mediamu.com/pahala-tak-ditentukan-oleh-banyaknya-harta</link>
                    <guid>https://islam.mediamu.com/pahala-tak-ditentukan-oleh-banyaknya-harta</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Pertanyaan mengenai apakah orang miskin dapat menyamai pahala orang kaya yang mampu berhaji, berzakat, dan bersedekah, sesungguhnya bukanlah hal baru dalam ajaran Islam. Para sahabat Nabi sendiri pernah mengajukan pertanyaan yang serupa kepada Rasulullah saw.  ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p>Pertanyaan mengenai apakah orang miskin dapat menyamai pahala orang kaya yang mampu berhaji, berzakat, dan bersedekah, sesungguhnya bukanlah hal baru dalam ajaran Islam. Para sahabat Nabi sendiri pernah mengajukan pertanyaan yang serupa kepada Rasulullah saw. </p><p>Sebagaimana terekam dalam riwayat Bukhari dan Muslim, para sahabat merasa bahwa orang kaya telah melangkah lebih jauh dalam kebaikan, sebab selain shalat dan puasa seperti kaum fakir, mereka pun memiliki kelebihan harta untuk bersedekah. Akan tetapi Nabi menepis kegelisahan itu dengan menunjukkan bahwa pintu-pintu amal terbentang luas bagi siapa pun, tanpa harus bergantung pada materi.</p><p>Sebuah hadis riwayat Muslim dari Abu Dzar al-Ghifari, Nabi saw. menjelaskan bahwa setiap bacaan tasbih, takbir, tahmid, dan tahlil adalah sedekah. Bahkan, amar makruf dan nahi munkar pun bernilai sedekah.</p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2025/11/11690fe55d4982c.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="183470" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Sun, 09 Nov 2025 07:51:23 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Dzikril Firmansyah</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                            </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Bijak dalam Upacara Pemberangkatan Jenazah</title>
                    <link>https://islam.mediamu.com/bijak-dalam-upacara-pemberangkatan-jenazah</link>
                    <guid>https://islam.mediamu.com/bijak-dalam-upacara-pemberangkatan-jenazah</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Upacara pemberangkatan jenazah menuju pemakaman telah menjadi kebiasaan yang mengakar di berbagai daerah. Biasanya, kegiatan ini disertai pidato atau sambutan dari keluarga, kerabat, tokoh masyarakat, hingga perwakilan instansi, kemudian diakhiri dengan doa. ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p>Upacara pemberangkatan jenazah menuju pemakaman telah menjadi kebiasaan yang mengakar di berbagai daerah. Biasanya, kegiatan ini disertai pidato atau sambutan dari keluarga, kerabat, tokoh masyarakat, hingga perwakilan instansi, kemudian diakhiri dengan doa.</p><p>Tradisi ini dimaksudkan sebagai bentuk penghormatan terakhir dan ungkapan belasungkawa. Namun, sebagai umat Islam, penting bagi kita untuk meninjau apakah praktik tersebut sesuai dengan tuntunan syariat, agar tidak melampaui batas dan tetap berada dalam koridor ajaran agama.</p><p>Dalam Islam, pengurusan jenazah hanya mencakup empat hal pokok, yaitu memandikan, mengkafani, menshalatkan, dan menguburkan. Tidak ada <em>nash</em> yang secara tegas memerintahkan atau melarang upacara pemberangkatan maupun pidato sambutan.</p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2025/10/1168e6123b3277b.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="60288" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Wed, 08 Oct 2025 14:27:36 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Dzikril Firmansyah</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                            </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Mendahulukan Kaki Kanan dalam Memakai Sendal sebagai Cerminan Adab dan Sunnah Nabi</title>
                    <link>https://islam.mediamu.com/mendahulukan-kaki-kanan-sebagai-cerminan-adab-dan-sunnah-nabi</link>
                    <guid>https://islam.mediamu.com/mendahulukan-kaki-kanan-sebagai-cerminan-adab-dan-sunnah-nabi</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[  وَعَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – – إِذَا اِنْتَعَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَبْدَأْ بِالْيَمِينِ, وَإِذَا نَزَعَ فَلْيَبْدَأْ بِالشِّمَالِ, وَلْتَكُنْ اَلْيُمْنَى أَوَّلَهُمَا تُنْعَلُ, وَآخِرَهُمَا تُنْزَعُ – ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p><b> </b></p><p dir="ltr" style="text-align: right;"><span>وَعَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – – إِذَا اِنْتَعَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَبْدَأْ بِالْيَمِينِ, وَإِذَا نَزَعَ فَلْيَبْدَأْ بِالشِّمَالِ, وَلْتَكُنْ اَلْيُمْنَى أَوَّلَهُمَا تُنْعَلُ, وَآخِرَهُمَا تُنْزَعُ</span><span> –</span></p><p><b> </b></p><p dir="ltr"><span>Artinya: Darinya (dari ‘Ali radhiyallahu ‘anhu), ia mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila salah seorang di antara kalian memakai sandal, maka hendaklah ia mendahulukan kaki kanan. Sedangkan apabila ia hendak melepaskannya, maka hendaklah ia mendahulukan kaki kiri. Jadikanlah kaki kanan yang pertama kali memakai sandal, dan yang terakhir melepaskannya.” (HR. Bukhari, no. 5856 dan Muslim, no. 2097).</span></p><p dir="ltr"><span>Berdasarkan hadis di atas, dapat diketahui bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan tuntunan khusus mengenai adab dalam menggunakan kaki. Ketika hendak memakai sandal, beliau menganjurkan untuk mendahulukan kaki kanan, sedangkan ketika melepasnya, dimulai dari kaki kiri. Hal ini menunjukkan bahwa dalam ajaran Islam, penggunaan kaki pun memiliki nilai adab dan tata cara yang mencerminkan ketertiban serta penghormatan terhadap sunnah Nabi.</span></p><p dir="ltr"><span>Makna mendahulukan kaki kanan tidak hanya sebatas kebiasaan, tetapi juga simbol penghormatan terhadap hal-hal yang baik dan mulia. Sebaliknya, kaki kiri digunakan terlebih dahulu untuk hal-hal yang bersifat kurang bersih atau berkaitan dengan pembuangan, seperti masuk ke kamar mandi atau melepas alas kaki. Dengan demikian, hadis ini mengajarkan bahwa setiap gerakan kaki seorang Muslim hendaknya dilandasi dengan kesadaran adab, sehingga bahkan langkah kecil sekalipun bernilai ibadah bila sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.</span></p><p dir="ltr"><span>Wallahu a'lam bish-shawaab.</span></p><p dir="ltr"><em><strong></strong></em></p><p dir="ltr"><em><strong>*penulis adalah mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Ahmad Dahlan</strong></em></p><p><b id="docs-internal-guid-07b0dab8-7fff-ddd9-2d26-8ff1d9931b2c"><br><br></b></p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2025/10/1168fb31c982ec0.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="70790" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Fri, 24 Oct 2025 14:59:00 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Fatan Asshidqi</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                            </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Takziah dalam Islam: Empati, Kepedulian, dan Keteladanan Sosial</title>
                    <link>https://islam.mediamu.com/takziah-dalam-islam-empati-kepedulian-dan-keteladanan-sosial</link>
                    <guid>https://islam.mediamu.com/takziah-dalam-islam-empati-kepedulian-dan-keteladanan-sosial</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Takziah merupakan ajaran mulia dalam Islam yang mengandung makna empati dan kepedulian sosial. Secara bahasa, kata takziah berasal dari “al-‘azzaa” yang berarti sabar, sedangkan secara istilah berarti menyabarkan orang yang sedang ditimpa musibah. ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p>Takziah merupakan ajaran mulia dalam Islam yang mengandung makna empati dan kepedulian sosial. Secara bahasa, kata takziah berasal dari “<em>al-‘azzaa</em>” yang berarti sabar, sedangkan secara istilah berarti menyabarkan orang yang sedang ditimpa musibah.</p><p>Dalam konteks ini, takziah bukan hanya sekadar kunjungan belasungkawa, tetapi juga bentuk nyata penguatan moral dan spiritual agar keluarga yang berduka dapat menerima ketentuan Allah dengan lapang dada. Esensi takziah terletak pada upaya menyabarkan hati, menenangkan jiwa, dan memperkuat keimanan agar musibah tidak menjadi sebab kelemahan, tetapi justru menjadi sarana kedekatan kepada Allah.</p><p>Islam sangat menganjurkan pelaksanaan takziah bagi seorang Muslim yang keluarganya sedang berduka. Bagi mereka yang berada dalam satu kota, dianjurkan untuk melakukan takziah dalam waktu tiga hari setelah pemakaman jenazah.</p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2025/10/1168e3130779b98.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="-1" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Mon, 06 Oct 2025 07:54:19 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Dzikril Firmansyah</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                            </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Mendoakan Orang yang Telah Meninggal</title>
                    <link>https://islam.mediamu.com/mendoakan-orang-yang-telah-meninggal</link>
                    <guid>https://islam.mediamu.com/mendoakan-orang-yang-telah-meninggal</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Mendoakan orang yang telah meninggal dunia merupakan bagian dari ajaran Islam yang penuh kasih dan kepedulian spiritual. Dalam Islam, doa bukan hanya bentuk penghormatan kepada yang telah wafat, tetapi juga wujud cinta dan solidaritas iman di antara sesama Muslim. Anak-anak, khususnya, dianjurkan untuk selalu memohonkan ampun bagi kedua orang tuanya yang telah meninggal. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam Al-Qur’an dan teladan Rasulullah saw. yang menekankan pentingnya doa sebagai amal jariyah yang terus mengalir pahalanya bagi orang yang telah tiada. ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p>Mendoakan orang yang telah meninggal dunia merupakan bagian dari ajaran Islam yang penuh kasih dan kepedulian spiritual. Dalam Islam, doa bukan hanya bentuk penghormatan kepada yang telah wafat, tetapi juga wujud cinta dan solidaritas iman di antara sesama Muslim. Anak-anak, khususnya, dianjurkan untuk selalu memohonkan ampun bagi kedua orang tuanya yang telah meninggal. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam Al-Qur’an dan teladan Rasulullah saw. yang menekankan pentingnya doa sebagai amal jariyah yang terus mengalir pahalanya bagi orang yang telah tiada.</p><p>Menshalatkan jenazah pada hakikatnya adalah bentuk doa untuk memohonkan ampunan bagi almarhum. Doa yang dipanjatkan itu menjadi sarana spiritual agar Allah mengampuni dosa-dosa dan menerima amal baik orang tersebut. Dalam banyak hadis sahih, Rasulullah saw. memotivasi umatnya untuk mendoakan sesama muslim, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia. Ini menunjukkan bahwa doa lintas kehidupan adalah bagian dari ajaran Islam yang memiliki landasan kuat dalam sunnah dan amalan para sahabat.</p><p>Namun, kebiasaan sebagian masyarakat yang mengaitkan pembacaan surat Yasin sebagai sarana doa khusus untuk memohonkan ampun bagi orang yang telah meninggal tidak memiliki dasar yang kuat dalam Al-Qur’an dan Hadis. Tidak ada dalil sahih yang menjelaskan bahwa surat Yasin secara khusus ditetapkan sebagai bacaan untuk orang yang telah wafat. Oleh karena itu, praktik tersebut sebaiknya tidak dijadikan ketentuan agama yang diyakini memiliki keutamaan tersendiri. Islam selalu menekankan pentingnya mengikuti dalil yang sahih agar ibadah yang dilakukan bernilai benar di sisi Allah.</p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2025/10/1168ef40f49e0f3.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="682547" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Wed, 15 Oct 2025 13:37:55 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Dzikril Firmansyah</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                            </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Membaca Al&amp;Qur’an Lirih, Cermin Toleransi Sesama Jamaah Masjid</title>
                    <link>https://islam.mediamu.com/membaca-al-quran-lirih-cermin-toleransi-sesama-jamaah-masjid</link>
                    <guid>https://islam.mediamu.com/membaca-al-quran-lirih-cermin-toleransi-sesama-jamaah-masjid</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Masjid adalah rumah Allah yang seharusnya menjadi tempat ketenangan dan kekhusyukan. Setiap orang yang datang ke masjid membawa tujuan ibadah yang beragam, mulai dari shalat sunnah, iktikaf, hingga dzikir. Dalam suasana seperti itu, tentu diperlukan sikap saling menghormati agar ibadah yang dilakukan tidak terganggu. Salah satunya terkait kebiasaan membaca Al-Qur’an dengan suara keras di masjid pada hari Jumat menjelang khutbah, sebelum dan sesudah shalat fardlu, baik secara individu maupun bersama-sama.  ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p>Masjid adalah rumah Allah yang seharusnya menjadi tempat ketenangan dan kekhusyukan. Setiap orang yang datang ke masjid membawa tujuan ibadah yang beragam, mulai dari shalat sunnah, iktikaf, hingga dzikir. Dalam suasana seperti itu, tentu diperlukan sikap saling menghormati agar ibadah yang dilakukan tidak terganggu. Salah satunya terkait kebiasaan membaca Al-Qur’an dengan suara keras di masjid pada hari Jumat menjelang khutbah, sebelum dan sesudah shalat fardlu, baik secara individu maupun bersama-sama. </p><p>Membaca Al-Qur’an di masjid pada dasarnya adalah ibadah yang sangat dianjurkan. Namun, para ulama menekankan bahwa ibadah ini harus dilakukan dengan memperhatikan kondisi sekitar. Jika bacaan tersebut ditujukan untuk diri sendiri, dibaca lirih, dan tidak mengganggu orang lain yang sedang shalat atau berdzikir, maka hal itu dibolehkan. Sebaliknya, jika bacaan dilakukan dengan suara keras hingga mengusik kekhusyukan jamaah lain, maka tindakan itu tidak dibenarkan.</p><p>Dalam sebuah riwayat, Nabi Muhammad saw. pernah menegur Sayyidina Ali ra. agar tidak mengeraskan bacaan dan doa ketika orang lain sedang shalat, karena hal itu bisa mengganggu kekhusyukan mereka. Bahkan dalam kitab Daarul Mukhtar dari mazhab Hanafi, dijelaskan bahwa mengeraskan suara di masjid hanya diperbolehkan dalam konteks pengajaran. Pendapat serupa datang dari Ibnul ‘Imaad Asy-Syafi’i yang menegaskan bahwa membaca Al-Qur’an dengan suara keras yang mengganggu jamaah shalat dilarang, karena tidak sesuai dengan praktik para sahabat dan tabi’in.</p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2025/09/1168c9718ee8149.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="186628" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Tue, 16 Sep 2025 21:18:53 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Dzikril Firmansyah</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                            </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Etika Berpakaian dalam Shalat</title>
                    <link>https://islam.mediamu.com/etika-berpakaian-dalam-shalat</link>
                    <guid>https://islam.mediamu.com/etika-berpakaian-dalam-shalat</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Berpakaian saat beribadah bukan sekadar soal kesopanan, tetapi juga bagian dari penghormatan kepada Allah SWT. Dalam Al-Qur’an, Allah telah memberikan pedoman kepada umat manusia agar memakai pakaian terbaik setiap kali memasuki masjid. ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p>Berpakaian saat beribadah bukan sekadar soal kesopanan, tetapi juga bagian dari penghormatan kepada Allah SWT. Dalam Al-Qur’an, Allah telah memberikan pedoman kepada umat manusia agar memakai pakaian terbaik setiap kali memasuki masjid.</p><p>Hal ini ditegaskan dalam firman-Nya pada Surat Al-A’raaf ayat 31: "<em>Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah setiap (memasuki) masjid</em>..." Ayat ini menegaskan pentingnya menjaga penampilan dan aurat ketika beribadah. Pada masa awal Islam, sebagian masyarakat Arab melakukan thawaf dalam keadaan telanjang dengan alasan tidak ingin menggunakan pakaian yang pernah dipakai untuk maksiat. Maka Allah menurunkan ayat ini sebagai koreksi atas praktik tersebut dan menegaskan kewajiban menutup aurat saat beribadah, termasuk dalam thawaf dan shalat.</p><p>Rasulullah saw. sebagai teladan umat menegaskan makna ayat tersebut dengan perbuatan dan sabdanya. Dalam hadis riwayat Ath-Thabarany dan Al-Baihaqy, beliau bersabda: “<em>Apabila salah seorang di antaramu mengerjakan shalat, hendaklah memakai dua kain, karena Allah lebih pantas untuk dihormati. Janganlah berkemul seperti orang Yahudi</em>.”</p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2025/10/1168e14f9f76fd0.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="610530" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Sat, 04 Oct 2025 23:50:28 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Dzikril Firmansyah</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                            </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Pacaran dalam Pandangan Islam: Antara Penjajakan dan Pelanggaran Syariat</title>
                    <link>https://islam.mediamu.com/pacaran-dalam-pandangan-islam-antara-penjajakan-dan-pelanggaran-syariat</link>
                    <guid>https://islam.mediamu.com/pacaran-dalam-pandangan-islam-antara-penjajakan-dan-pelanggaran-syariat</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Penulis: Yayan Suryana* ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p>Penulis: Yayan Suryana*</p><p>Fenomena pacaran di kalangan remaja muslim saat ini seringkali dianggap hal yang lumrah, bahkan seolah menjadi tahapan wajib sebelum menuju jenjang pernikahan. Namun, jika ditilik dari kacamata Islam, praktik pacaran harus diletakkan dalam bingkai etika syariat, bukan sekadar kebiasaan sosial yang ditoleransi.</p><p>Dalam Buku Tanya Jawab Agama Jilid 7 halaman 99–104, dijelaskan bahwa istilah "pacaran" mengandung beberapa makna, mulai dari pergaulan bebas, berkencan yang mengarah pada zina, hingga penjajakan untuk mencari pasangan hidup. Islam menolak tegas dua pengertian pertama, namun memberikan ruang terbatas dan bersyarat pada pengertian ketiga.</p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2025/07/116686574e0619e8.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="173157" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Thu, 03 Jul 2025 00:57:00 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Dzikril Firmansyah</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                            </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Perut yang Lapar di Antara Lantunan Allahu Akbar</title>
                    <link>https://islam.mediamu.com/perut-yang-lapar-di-antara-lantunan-allahu-akbar</link>
                    <guid>https://islam.mediamu.com/perut-yang-lapar-di-antara-lantunan-allahu-akbar</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Usianya &nbsp;sudah semakin sepuh. &nbsp; Sudah 67 tahun. &nbsp; &nbsp;Namun, tangan yang sudah mulai ringkih itu masih lincah. &nbsp; Kesepuluh jemarinya seperti menari. &nbsp; Menganyam &nbsp;lembaran lembaran bilah bambu yang sudah dipotong tipis tipis itu. &nbsp;Menjadikannya sebuah besek. ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p>Usianya &nbsp;sudah semakin sepuh. &nbsp; Sudah 67 tahun. &nbsp; &nbsp;Namun, tangan yang sudah mulai ringkih itu masih lincah. &nbsp; Kesepuluh jemarinya seperti menari. &nbsp; Menganyam &nbsp;lembaran lembaran bilah bambu yang sudah dipotong tipis tipis itu. &nbsp;Menjadikannya sebuah besek.</p><p>Hanya pekerjaan itu yang dia bisa kerjakan. &nbsp;Dan, &nbsp;hanya dari itulah, dia mendapatkan uang. &nbsp;Untuk menyambung hidup.</p><p>Sebelumnya, dia masih bisa mendapatkan hasil dari pekerjaan lain. &nbsp; Dia masih bisa membantu pergi ke sawah. &nbsp;Mengolah lahan garapan padi milik tetangganya. &nbsp;</p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2025/04/1167eeb9af1b1d8.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="66342" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Thu, 03 Apr 2025 23:42:46 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>PCPM Minggir</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                            </media:keywords>
                                    </item>
                                                                <item>
                    <title>Majlis Taklim &amp;quot;MitroDikromo&amp;quot; Gelar Pengajian Rutin</title>
                    <link>https://islam.mediamu.com/majlis-taklim-mitrodikromo-gelar-pengajian-rutin</link>
                    <guid>https://islam.mediamu.com/majlis-taklim-mitrodikromo-gelar-pengajian-rutin</guid>
                    <description>
                                                    <![CDATA[ Bantul. MitroDikromo adalah sebuah nama majlis taklim yang anggotanya adalah mantan pengurus PCPM/PCNA dan IPM yang berdomisili di Kapanewon Bantul.&nbsp; ]]>
                                            </description>
                    <content:encoded>
                        <![CDATA[ <p><strong>Bantul.</strong> MitroDikromo adalah sebuah nama majlis taklim yang anggotanya adalah mantan pengurus PCPM/PCNA dan IPM yang berdomisili di Kapanewon Bantul.&nbsp;</p><p><br />Majlis Taklim ini beranggotakan 24 keluarga yang yang rutin mengadakan pengajian dan juga aktif menggelar program charity atau bakti sosial.<br />Pada pengajian. Ahad, 4/08/2024 bertempat di Bogoran Trirenggo Bantul, Ustadz H. Fakhrudin menyampaiakan pentingnya pengendalian diri.</p><p>Beliau menyampaikan tentang sikap untuk tidak marah adalah sebuah perjuangan yang amat berat. Lebih Lanjut Ustadz H. Fakhrudin menyitir beberapa hadist:&nbsp;</p> ]]>
                    </content:encoded>
                                                                                        <enclosure url="http://www.mediamu.com/media/images/2024/08/1166af6c1ef13e3.jpeg?location=1&amp;amp;width=&amp;amp;height=&amp;amp;quality=100&amp;fit=1" length="118201" type="image/jpeg" />
                                        <pubDate>Sun, 04 Aug 2024 11:57:00 +0700</pubDate>
                    <dc:creator>Munawir Mumatz</dc:creator>
                                                                    <media:keywords>
                                                                                                            </media:keywords>
                                    </item>
                        </channel>
</rss>